Friday, October 29, 2021

Penemuan Berikut Ini Membantu Menjawab Misteri Evolusi Manusia

 Salah satu kemampuan terbaik manusia adalah beradaptasi. Itulah mengapa ada yang namanya evolusi. Akan tetapi, misteri evolusi manusia belum sepenuhnya terungkap.

Untungnya, para ilmuwan melakukan penelitian yang bisa membantu kita mengerti lebih jauh misteri evolusi manusia. Apa saja penemuan tersebut? Simak terus di sini ya.

Fosil DNA di Botswana

misteri evolusi manusia

Upaya manusia menemukan nenek moyang tak pernah berakhir. Mungkin, sebuah temuan misteri evolusi manusia di Botswana bisa menjadi titik terang.

Penemuan tersebut dilakukan oleh sejumlah ilmuwan. Merek mengklaim bahwa ibu dari semua manusia modern yang hidup saat ini berasal dari wilayah Afrika 200.000 tahun yang lalu.

Misteri evolusi manusia ini dipecahkan dengan menelusuri genetika leluhur yang diambil dari suku Khoisan. DNA tersebut kemudian digabungkan dengan pemodelan iklim untuk menggambarkan keadaan di zaman purba.

Peneliti mengatakan bahwa di Makgadikgadi, wilayah di bagian utara Botswana terdapat lahan basah yang subur. Lahan tersebut dipenuhi dengan banyak hewan dan tumbuh-tumbuhan yang dapat dimakan untuk nenek moyang kita bertahan hidup.

Fosil manusia purba di Moroko, penemuan misteri evolusi manusia

misteri evolusi manusia

Pada tahun 2017, sebuah penelitian dilakukan untuk mengungkap misteri evolusi manusia. Arkeolog melakukan penggalian di wilayah Jebel Irhoud, Maroko dan diklaim menemukan fosil manusia tertua di muka bumi.

Sisa-sisa manusia dan alat-alat batu yang ditemukan di situs tersebut diperkirakan berusia antara 350.000 dan 280.000 tahun.

Penemuan misteri evolusi manusia ini mengalahkan fosil yang ditemukan di Etiopia yang mengklaim bahwa manusia tertua ada 100.000 tahun lalu.

Sebelumnya, fosil misteri evolusi manusia pernah ditemukan di Jebel Irhoud, Maroko pada tahun 1960-an. Namun, fosil misteri evolusi manusia tersebut diperkirakan ada sejak sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Selain itu, fosil tersebut juga tidak sesuai dengan teori asal usul manusia sehingga dianggap sebagai temuan biasa saja.

Jejak kaki hominin, penemuan misteri evolusi manusia 


misteri evolusi manusia

Tulang bukan satu-satunya peneuman yang bisa digunakan untuk melacak misteri evolusi manusia. Dalam beberapa kasus, jejak kaki yang terawetkan di pasir bisa menjadi pertanda, terutama jejak keberadaan hominin.

Hominin adalah primata yang dianggap sebagai leluhur manusia yang sudah punah atau “berevolusi” jutaan tahun lalu.

Sebuah penemuan 50 jejak kaki di Pantai Trachiolos di pulau Kreta Yunani pada tahun 2017 diperkirakan sebagai jejak hominin purba yang sudah ada dari 5,7 juta tahun yang lalu.

Ini juga sekaligus menjadikan penemuan misteri evolusi manusia yang berada di luar Afrika.

Belum ada bukti fosil bahwa manusia pernah hidup di atas 300.000 tahun yang lalu. Jadi, penemuan misteri evolusi manusia ini merupakan tanda adanya kehidupan primata yang sangat lama.

Lukisan Bulu Leang di Sulawesi Selatan

misteri evolusi manusia

Lukisan Lascaux, penemuan misteri evolusi manusia

misteri evolusi manusia

Lascaux adalah gua yang berada di dekat desa Montignac, Prancis. Tempat ini terkenal karena lukisannya yang jelas, besar, dan antik.

Lukisan misteri evolusi manusia ini pertama kali ditemukan oleh empat remaja yang masuk ke dalam gua bersama anjing mereka.

Diperkirakan berusia hingga 20.000 tahun, lukisan-lukisan yang ada di dinding gua terdiri dari hewan-hewan besar yang dulunya hidup di daerah tersebut.

Setidaknya ada 600 lukisan binatang dan 1.500 simbol ukiran. Lukisan tersebut menggambarkan dengan sangat jelas berbagai jenis hewan seperti kuda, rusa merah, rusa jantan, sapi, kucing, dan makhluk mitos. Namun, hanya ada satu sosok manusia yang ada di lukisan Lascaux. Itu adalah seorang pria berkepala burung.

Gua Lascaux sempat dibuka untuk umum pada tahun 1948 tetapi ditutup pada tahun 1963 karena lampu ruangan membuat warna lukisan tersebut menjadi pudar dan menyebabkan ganggang tumbuh di sekitarnya.

Patung Löwenmensch di Jerman

misteri evolusi manusia

Löwenmensch dalam bahasa Jerman berarti manusia singa. Patung ini ditemukan di Jerman pada tahun 1939 di Hohlenstein-Stadel, sebuah gua yang berada di tebing Hohlenstein.

Patung yang terbuat dari gading tersebut diperkirakan berusia antara 35.000 dan 40.000 tahun. Penemuan misteri evolusi manusia ini adalah salah satu karya seni tertua yang pernah ditemukan.

Selain itu, patung ini juga merupakan salah satu patung zoomorphic (patung berbentuk hewan) tertua yang ada di dunia.
Patung itu memiliki tinggi 31,1 sentimeter, lebar 5,6 sentimeter, dan tebal 5,9 sentimeter. Saat ini, patung tersebut dipajang di Museum Ulm.

The Taung Child, penemuan misteri evolusi manusia

misteri evolusi manusia

Taung Chil adalah fosil Australopithecus africanus yang pertama kali ditemukan oleh seorang penambang pada tahun 1924 di Taung, Afrika Selatan.

Istilah genus Australopithecus africanus dibuat oleh Raymond Dart, seorang paleoantropolog yang mengidentifikasi fosil tersebut sebagai hominin atau anggota garis keturunan manusia primitif. Australopithecus africanus memiliki arti “kera selatan dari Afrika.”

Fosil misteri evolusi manusia ini merupakan cetakan alami bagian dalam tengkorak dan wajah anak berusia tiga atau empat tahun.

Ukuran otaknya seperti kera, yaitu hanya sepertiga ukuran otak manusia modern. Namun, tengkoraknya memiliki gigi yang mirip manusia.

Thursday, October 28, 2021

Ditemukan Mayat Berumur 2150 Masih Utuh

 Sesosok jasad wanita berusia 2.150 tahun dalam keadaan basah dan utuh diawetkan dengan teknologi tinggi oleh tim ahli China dan dipamerkan di museum Changsha, Provinsi Hunan, China, jadi sasaran kunjungan wisatawan.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgDyeukghoJhp7muTwuS80_rtKFW1xUiHjTvURliQKSlK2cDxYFSHcrWaeJueygNo2AhX53UCG3LgE3r2hoTAwnwPNyqCjP5w2XizJBIsKBwSEsyPsMXL_BA4_YoOzVvBGiDqqeoXuxuMp-/s1600/2013-10-23_212542.png

Mayat 2.150 Tahun Masih Utuh dan Segar Dari museum peninggalan benda bersejarah China di Kota Changsha itu hari Kamis dilaporkan, mayat tersebut utuh bagai manusia hidup dan diletakan dalam kotak bening berisi cairan pengawet.

Mayat wanita bernama Sinzui tersebut berkulit putih pucat, dengan mata tertutup, lidah terjulur dan berambut hitam dengan tinggi badan mencapai 158 sentimeter.

Berdasarkan atas data di museum tersebut, mayat itu ditemukan tahun 1972 dalam peti kayu berukuran panjang lima meter, lebar dua setengah meter dan tinggi dua meter, yang terkubur pada kedalaman 20 meter dari permukaan tanah di kawasan perbukitan Mantui, Changsha.

Saat ditemukan, tiga peti dengan ukuran sama di dalamnya masing-masing terdapat satu mayat, yakni seorang laki-laki berusia 58 tahun dan 30 tahun, namun jasad dua lelaki itu tidak dipamerkan di museum Changsha.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUW0BPbfPnY5hhed2fDT1Y0KEu_-6L5tCVpQjYGQTrQYcLAnWwRY6H_aDTEXNd0uHZmHLigS5pXLXA-1kng5qkBCN-pKlMz2JWcCZCM6BPKomZtb-L1DzW8K1cShtGaTa6kq-6v64bv-qO/s1600/2013-10-23_212656.png

Penemuan tiga peti besar utuh tersebut berawal dari perintah pemimpin China saat itu agar rakyat di Changsha menggali lubang besar untuk berlindung bila terjadi perang. Ketika rakyat menggali di perbukitan Maantui, pada kedalaman 20 meter ditemukan ketiga peti kayu berukuran besar tersebut dan setelah dibuka berisi masing-masing satu mayat.

Selain itu, aneka barang digunakan sejak 2.100 tahun lalu itu juga tersimpan dalam peti dan masih utuh, bahkan warnanya pun tidak memudar. Pemerintah China kemudian menurunkan tim ahli membongkar dan menyelamatkan tiga peti kayu dan seluruh isinya, termasuk tiga mayat tersebut.

Tim dokter ahli, yang melakukan pembedahan, menyatakan mayat itu utuh dan basah tanpa rusak, meski terkubur 2.100 tahun. Setelah dibedah, mayat itu diawetkan dengan teknologi tinggi untuk selanjutnya disimpan dalam museum Changsha, yang dibangun untuk menyelamatkan, menyimpan dan memamerkan temuan, yang bisa mengungkapkan kehidupan warga China pada 2.100 lalu itu.

Berbagai alat juga ditemukan dalam peti itu, yang juga diselamatkan dan dibersihkan dengan teknologi tinggi dan bersama mayat wanita itu disimpan dan dipamerkan di museum Changsa.

Benda kuno bersejarah tinggi itu antara lain puluhan guci berukuran besar dan kecil, aneka tulang-belulang binatang, yang dagingnya dimakan manusia saat itu, mata uang logam bulat dan petak dari bambu.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjvCmu4Y2cCWx4HPJvCvhIVUpyAuhSb92ToFJjk76TXKMWcBgUZAUKduyW2D-Mxmbl8oGFCkReIl6Twv9CG5Q6uIZrLlWg7LpwfyuNtTjpsob2GQVBHi5bG6TXvpigEFlXkHn4jjPEfrfq/s1600/2013-10-23_212634.png

Selain itu, alat masak dari kayu dan logam, sendok logam dan kayu berukuran besar, piring dan gelas dari logam dan kayu. Puluhan patung manusia dari tanah liat dan kayu, senjata kuno berupa anak panah dan busurnya, pedang kuno sepanjang 1,5 meter dan aneka senjata tajam lain juga tersimpan di sana.

Di samping itu, terdapat relief tanah liat bergambar puluhan orang, yang hidup pada zaman tersebut, alat penumbuk padi, alat musik kecapi berukuran kecil dan besar, gitar kuno, belasan seruling aneka ukuran, angklung dari kayu, tikar berukuran 2x05 meter dan alat permainan, seperti, catur kuno.

Selain itu, surat catatan kejadian 2.100 tahun lalu, nama pemimpin saat itu, puluhan kitab China kuno, puluhan lukisan bunga, belasan kain sutra dan baju kuno china, ikat pinggang, selendang, kaos kaki, sepatu dan celana.

Semua barang kuno tersebut ditemukan bersamaan di dalam peti kayu berisi tiga sosok mayat tersebut. Menurut Yu Wen Hui, pemimpin biro perjalanan Dong Fang Internasional Ltd, Guangzhou, China, berdasarkan atas catatan, yang diterjemahkan dari kitab kuno dan surat ditemukan dalam peti, usia mayat dan barang kuno tersebut mencapai 2.100 tahun.

Mayat dan aneka barang peninggalan bersejarah kehidupan China tempo dulu itu kini menjadi salah satu objek wisata unggulan di kota Changsha dan dikunjungi sekitar 800.000 orang tiap tahun, kata Yu Wen Hui. hebat deh.

Tuesday, October 26, 2021

Bukti Brutal Korban Ritual Suku Aztec

 www.anehdidunia.com

Menurut Wikipedia kaum Aztek atau Aztec adalah orang Amerika Tengah dari sentral Meksiko yang kaya dengan warisan mitologi dan kebudayaan. Dalam bahasa Nahuatl, bahasa suku Aztek, "Aztek" berarti seseorang yang berasal dari Aztlán". Kaum Aztek juga menyebut diri mereka sebagai Mehika atau Meshika atau Mexica, asal nama Stocking "Meksiko". Penggunaan nama Aztek sebagai istilah yang merujuk kepada mereka yang mempunyai ekonomi, adat, agama, dan bahasa Mexica diawali oleh Alexander von Humboldt.

Sudah lama diketahui, Suku Aztec di Meksiko memiliki ritual pengorbanan manusia. Upacara itu dilakukan atas altar, di puncak piramida. Dengan cara mengambil jantung korban. Sahabat anehdidunia.com temuan sejumlah arkeolog baru-baru ini mengungkap cara lain dalam ritual pengorbanan manusia. Mereka menemukan 50 tengkorak di kuil keramat Aztec, yang berusia 500 tahun.

Temuan dihasilkan dari kuil Templo Mayor, Mexico City. Di situlah upacara Aztec yang paling penting terjadi antara tahun 1325 hingga penaklukan Spanyol pada tahun 1521. Semuanya berada dekat batu kurban berwarna hitam. Lima di antaranya terkubur di bawah batu. Kondisi mereka mirip, ada dua lubang, masing-masing di kedua sisi kepala.

Arkeolog, Raul Barrera dari National Institute of Anthropology and History Meksiko mengatakan, 45 tengkorak lainnya tampaknya dijatuhkan begitu saja ke atas batu.

Agustus lalu, saat merenovasi Templo Mayor, tim juga menemukan tengkorak dan lebih dari 200 tulang rahang. Barerra mengatakan, tengkorak-tengkorak tersebut adalah milik perempuan dan lelaki berusia 20-35 tahun. Bisa jadi ia digali dari situs lain dan dimakamkan kembali di sana. Juga kerangka seorang wanita muda yang dikorbanka mempersonifikasikan dewi, dikelilingi oleh tumpukan hampir 1.800 tulang.

Tim juga menemukan 'pohon suci,' yang terlihat seperti bekas batang pohon ek. Para ahli menduga, pohon itu dibawa dari daerah gunung untuk ritual.

Kembali ke penemuan tengkorak, meski dalam kondisi baik, ada retakan bolong di sisi kepala yang diduga untuk memasukkan kayu, agar bisa digantung dalam rak. Barrera mengatakan kunci dalam penemuan itu adalah batu korban, yang terlihat seperti batu nisan abu-abu.

"Di bawah batu kurban, kami menemukan lima tengkorak. Tengkorak-tengkorak yang ditusuk dengan tongkat, "katanya. "Ini adalah temuan yang sangat penting." Sementara, arkeolog University of Florida,Susan Gillespie, yang tidak terlibat dalam penggalian, mengatakan, ia tertarik dengan tengkorak dalam rak, atau disebut zompantli, yang dimakamkan secara terpisah.

"Ini menyediakan informasi baru tentang penggunaan dan penggunaan kembali tengkorak untuk acara ritual di Templo Mayor," kata Gillespie. Sebab pengorbanan manusia Aztec selalu diasosiasikan dengan pengambilan jantung. "Ini memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana Aztec menggunakan tubuh manusia dengan cara berbeda dalam ritual mereka. 

Monday, October 25, 2021

Teori Agartha Rahasia Dunia Di Pusat Bumi

 Pernah mendengar Agartha? Jika kita sudah mengenal Shambhala, Agartha mirip dengannya. Shambhala sering diklaim sebagai sebuah lokasi (fisik) yang terdapat di sebuah wilayah rahasia di muka bumi (Meskipun Shambhala [dan Shangri-La] lebih layak diartikan sebagai lokasi spiritual yang hanya mampu dijangkau mereka yang mengenal Realitas Tertinggi di dalam hatinya). Sebaliknya, Agartha, meskipun lokasinya semisterius Shambhala (Shambala sendiri sering disebut sebagai ibukota Agartha), terletak di pusat bumi.

Orang-orang yang percaya keberadaan Agartha meyakini bahwa bumi memiliki ruang besar di dalam. Ibaratnya jeruk, manusia hanya tinggal di kulit jeruk. Sementara itu, isi jeruk tersebut adalah Agharta. Bedanya, di dalam Agartha terdapat sistem kehidupan tersendiri. Terdapat matahari dan langit seperti halnya matahari dan langit yang kita lihat di muka bumi. Bahkan, kehidupan di Agartha lebih maju daripada kehidupan di muka bumi. Agartha bisa dicapai melalui gua-gua rahasia atau terowongan yang sengaja dibuat manusia Agartha untuk terhubung dengan manusia muka bumi.


Tempat-Tempat Yang Berhubungan dengan Agartha

Jalan paling mungkin untuk mencapai Agartha konon terletak di kutub utara dan selatan. Ada klaim bahwa kedua titik bumi itu memiliki lubang menganga yang mengarah langsung ke Agartha. Selain itu, ada tempat-tempat tertentu di muka bumi yang terkoneksi langsung dengan Agartha. Misalnya: Gua Mamoth Kentucky (Amerika Serikat), Gunung Shasta (California, Amerika Serikat), Morona-Santiago (Ekuador), Mato Grosso (Brazil), Air Terjun Iguacu (perbatasan Argentina-Brazil), Gunung Himalaya, Piramida Giza, dan beberapa tempat lain.

Seperti halnya dunia muka bumi, terdapat beberapa wilayah (kota) di Agartha. Misalnya, Telos, kota yang ada di bawah Gunung Shasta. Sahabat anehdidunia.com ada pula kota Posid di bawah Mato Grosso. Kota Shingwa ada di bawah perbatasan Mongolia dan China. Sementara kota Roma ada di bawah kota bernama sama di India.

Penjelasan tentang Agartha sendiri sudah banyak dikuak oleh beberapa orang, terutama penggemar pseudo-sains. Seorang pelayar Norwegia, Olaf Janson dalam “biografi fiktifnya”, “The Smoky God”, mengaku sudah datang ke dunia bawah tanah. Konon Olaf Janson pernah tinggal selama dua tahun di Agartha.

Sementara, Leonard Euler, seorang matematikawan, berkomentar, “secara matematis, bumi semestinya berongga”. Ray Palmer dalam majalah “Flying Saucers” edisi 69 dan “Search Magazine” edisi 92. Ia menunjukkan bukti foto satelit ESSA-7 di Kutub Utara yang klaimnya menampakkan foto bumi yang berlubang. Namun, yang paling “nyata” tentu perjalanan Admiral Byrd pada 1947.


Perjalanan Admiral Byrd

Agartha atau nama padanannya (Agartta, Agharti, Agarta atau Agartth) mungkin akan dianggap sebagai kota fiktif oleh orang-orang skeptis. Namun, perjalanan Admiral Richard E. Byrd pada pertengahan Februari 1947 mungkin akan mengubah paradigma ini.

Tahun-tahun tersebut, Perang Dunia II telah berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat dan sekutunya. Jepang yang sempat menggempur Pearl Harbour, langsung bertekuk lutut setelah dua kota, Hiroshima dan Nagasaki, dibom atom. Sahabat anehdidunia.com dalam keadaan dunia yang masih kacau-balau ini, Admiral Byrd melakukan penerbangan ke kutub utara. Di sana, Byrd menemukan pemandangan menakjubkan.

Jika Arktik semestinya dipenuhi es atau salju, sang Admiral justru melihat pegunungan, hutan, sungai, dan danau yang sama sekali tidak merepresentasikan daerah kutub. Tak ayal lagi Byrd telah sampai ke Agartha (walaupun Byrd tidak menyebutkan bahwa ia berada di Agartha).

Di dunia bawah tanah yang serupa dengan dunia muka bumi ini, Byrd bertemu dengan seorang tetua yang “mengundangnya dengan telepati” ke dunia tersebut. Sang tetua secara umum mengeluhkan kebrutalan manusia dalam tahun-tahun terakhir. Manusia bawah tanah memperingatkan ancaman kemunduran peradaban muka bumi yang disebabkan perang. Tetua tersebut mencontohkan bagaimana Zaman Kegelapan pernah melanda Eropa. Keadaan yang lebih buruk akan menimpa manusia, yang digambarkan sang tetua sebagai badai kelam yang akan menyapu hampir semua manusia muka bumi. Byrd diundang ke dunia bawah bumi demi menyampaikan pesan penegakan perdamaian sebelum terlambat. Sang tetua mengklaim bahwa mereka telah berusaha mengirimkan pesan secara langsung dengan pesawat Flugelrad yang dikenal manusia bumi sebagai UFO. Namun, bukannya ditanggapi, UFO tersebut justru ditembaki dan dikejar oleh pesawat tempur Amerika Serikat karena dianggap penyusup.

Harapan Yang Benar Bahkan Meski Cuma Mimpi 

Orang lain boleh beranggapan Byrd tengah berkhayal berlebihan. Namun, seandainya ia memang pendusta sekalipun, pesan 64 tahun lalu itu demikian gamblang: ada ancaman besar atas “keberhasilan” manusia menciptakan senjata pemusnah massal dan semakin rapatnya semua wilayah dunia berkat kemajuan teknologi.

Lebih jauh, Kalaupun Olaf Janson, Leonard Euler, Ray Palmer, dan Admiral Byrd hanya bermimpi, bukankah keadaan Agartha yang asri merupakan khayalan umum semua orang di dunia tentang keadaan dunia yang diharapkan? Jauh dari polusi, gas beracun, gedung bertingkat, kendaraan, plastik, dan produk budaya yang “maju” ini, setiap manusia lebih suka “bersatu dengan alam”. Orang yang tidak percaya, bisa beranggapan, kepercayaan tentang Agartha datang dari perjalanan spiritual ruh manusia untuk mengenali dunianya sendiri yang ternyata serba misterius. Selebihnya, ada atau tidaknya Agartha, biarlah selamanya tetap menjadi rahasia.

Sunday, October 24, 2021

Cuaca Alien Yang Paling Mengerikan

 Kita mengenal ada 2 jenis cuaca di Indonesia yaitu cuaca hujan dan kemarau. Berbeda dengan saudara saudara kita di negara lain, mereka umumnya memeiliki 4 musim yaitu salju, musim semi, musim kemarau dan musim hujan. Itulah jenis cuaca yang biasa terjadi di planet kita yaitu bumi. Bagaimana dengan planet planet lain? apakah mereka memiliki cuaca seperti kita? ya sahabat anehdidunia.com mereka memiliki cuaca yang sangat aneh bahkan sangat mengerikan jika terjadi di bumi. Untuk menambah wawasan anda, berikut cuaca alien yang paling mengerikan.


Badai Hujan Kaca

Sahabat anehdidunia.com coba bayangkan kalau suatu hari ketika hujan turun, ternyata bukan air yang membasahi Bumi melainkan kaca. Pastinya kita akan terluka dan mencari pelrindungan. Kisah itu bukan dongeng karena nun jauh di luar angkasa ada sebuah planet seperti itu yang mengitari bintangnya. 

Uniknya planet ini punya warna yang sama dengan Bumi. Biru! Ingat kan kalau Bumi itu kita kenal sebagai Planet Biru atau Titik Biru Pucat yang dilihat dari luar angkasa. tapi, Planet biru yang satu ini tidaklah persis sama dengan Bumi. Cuma warnanya saja yang sama tapi itupun bukan biru pucat melainkan tua.

Planet Biru Tua tersebut tidak memiliki kemiripan lain dalam hal ukuran, masa atau lokasi di zona laik huni seperti halnya Bumi. Planet yang dilihat Teleskop Hubble milik NASA/ESA tersebut merupakan planet gas raksasa seperti halnya Jupiter dan berada sangat dekat dengan bintang induknya. Pada tahun 2007, Teleskop Spitzer milik NASA mengukur cahaya infra merah dari planet dan menghasilkan peta temperatur exoplanet pertama yang pernah dibuat. 

Peta itu juga menunjukkan kalau beda temperatur antara sisi siang dan malam mencapai 260º Celsius dan menyebabkan terjadinya angin kencang yang berhembus di sepanjang planet tersebut. Di atmosfer, temperatur planet HD 189733b mencapai 1000º Celsius.

Tapi ada hal lain yang lebih menarik di planet biru tua itu. Warna biru tua yang ada di planet gas raksasa itu bukanlah berasal dari lautan seperti halnya Bumi. 

tentu saja tidak mungkin dari lautan mengingat lokasi planet yang sangat dekat dengan bintang. Warna biru tua yang menjadi kekhasan planet berasal dari kabut turbulensi atmosfer yang mengandung partikel silikat yang menghamburkan cahaya biru.  

Kandungan silikat pada atmosfer menjadikan planet tersebut memiliki curah hujan yang sangat berbeda! Temperatur kondensasi silikat yang sangat tinggi yakni lebih dari 1300º Celsius menyebabkan partikel-partikel silikat di atmosfer membentuk butiran kaca. Akibatnya, hujan yang turun di planet biru tua itu berupa hujan kaca yang turun menyamping ditiup angin yang bergerak 7000 km per jam!

Tornado Magnet 

Tornado yang sangat hebat menyapu permukaan Matahari dan berhasil ditangkap oleh satelit milik NASA, Solar Dynamics Observatory (SDO). 

Video hasil tangkapan SDO menunjukkan bahwa plasma tornado menyapu permukaan Matahari dalam rentang waktu hampir 30 jam, mulai dari 7-8 Februari 2012. Terry Kucera, pakar fisika Matahari NASA, mengungkapkan bahwa ukuran plasma tornado hampir menyamai Bumi dan berputar dengan kecepatan mencapai 480 km per jam.

"Suhunya sekitar 15.000 derajat fahrenheit (sekitar 8.300 derajat celsius), relatif dingin," kata Kucera. Suhu itu tak seberapa dibanding suhu korona yang bisa mencapai jutaan derajat celsius. 

Tornado ini bukan kali pertama terjadi. Wahana antariksa SOHO milik European Space Agency (ESA) setidaknya telah mendeteksi adanya tornado di Matahari sejak tahun 1996. Tornado di Matahari hampir serupa dengan tornado di Bumi, tetapi tercipta lewat proses berbeda. 

Jika tornado di Bumi dipengaruhi fluktuasi dan temperatur, tornado di Matahari dipengaruhi magnetisme.

Menurut Kucera, tornado tercipta karena adanya dua gaya magnet yang saling bersaing menarik partikel bermuatan di muka Matahari. 

Proses ini menciptakan plasma yang berputar di sepanjang medan magnet. Rentang putaran plasma tornado bisa sangat mencengangkan, mencapai ratusan ribu mil. "Secara total, panjangnya bisa lusinan Bumi, besar," cetus Kucera seperti dikutip Foxnews.

Atmospir Plasma 

Sebuah planet alien tetangga yang berukuran enam kali lebih besar daripada Bumi tertutup oleh atmosfer yang kaya akan air, termasuk sebuah “bentuk plasma” dari air yang aneh, kata para ilmuwan. Para ahli astronomi telah menetapkan bahwa atmosfer dari planet super-Bumi Gliese 1214 b tampaknya kaya akan air.

 Akan tetapi, exoplanet ini bukanlah kembaran Bumi. Temperatur yang tinggi dan kepadatan dari planet tersebut memberinya sebuah atmosfer yang sama sekali berbeda dengan atmosfer Bumi.

“Karena temperatur dan tekanannya sangat tinggi, maka air di sana tidak berada dalam bentuknya yang biasa (uap, cair, atau padat), namun berbentuk ionik atau berbentuk plasma di bagian bawah atmosfer bagian interior dari Gliese 1214 b tersebut,” kata peneliti utama Norio Narita dari National Astronomical Observatory, Jepang, pada SPACE.com.

 Dengan menggunakan dua instrumen di Subaru Telescope di Mauna Kea, Hawaii, para ilmuwan mempelajari cahaya yang bertebaran dari planet tersebut. Mereka kemudian mengkombinasikan hasil-hasil yang mereka dapat dengan hasil-hasil pengamatan terdahulu yang menyatakan bahwa atmosfer dari planet tersebut mengandung jumlah air yang signifikan. 

Perubahan Ekstrim Cuaca 

Pada rentang waktu antara tahun 2002 sampai 2003 teleskop antariksa Hubble mengambil gambar terbaru dari planet kerdil Pluto. 

Meskipun gambar dari teleskop luar angkasa Hubble tidak cukup untuk membuat gambaran detail permukaan Pluto, tetapi para ahli bisa mengetahui bahwa ada perbedaan mencolok pada wilayah gelap dan terang yang memberi kesan bahwa Pluto memiliki daerah yang sangat beragam.

Pluto adalah planet dengan perubahan cuaca yang lebih dinamis dari perkiraan para ahli astronomi sebelumnya. 

Dari gambar-gambar tersebut ditunjukkan bahwa planet kerdil yang terletak pada Sabuk Kuiper ini memiliki perubahan yang sangat cepat pada permukaannya yang disebabkan oleh musim yang sangat ekstrim. 

Dengan cara membandingkan gambar baru dengan gambar sebelumnya, para ahli astronomi dapat menyatakan bahwa beberapa bagian dari Pluto, termasuk belahan bagian selatan, menjadi secara signifikan lebih gelap dan lebih merah antara tahun 2000 dan 2002, sementara belahan bagian utara menjadi lebih terang. 

Para ahli memperkirakan perubahan ini terjadi dikarenakan proses pencairan dan pembekuan es seiring perubahan cuaca yang ekstrim.

Cuaca ekstrim Pluto disebabkan karena jarak yang cukup jauh dari Matahari. Pluto membutuhkan waktu 248 tahun untuk melakukan putaran penuh terhadap matahari, mengorbit dalam jalur eliptik yang ekstrim dalam zona Tata Surya yang dinamakan Sabuk Kuiper. 

Pada titik terdekatnya dunia kecil ini berjarak 4.4 milyar kilometers dari matahari, sementara pada jarak terjauhnya adalah sekitar 7.3 milyar kilometers. Ayunan antara jarak terdekat dan jarak terjauh inilah yang membuat Pluto memiliki cuaca paling ekstrim dari planet manapun dalam Tata Surya.

Cuaca Di Brown Dwarf 

Anda mungkin pernah mendengar istilah "brown dwarf (katai coklat)". Ini sebuah benda di angkasa yang dianggap terlalu dingin untuk menjadi bintang dan terlalu panas untuk menjadi planet. 

Penelitian baru menunjukkan bahwa awan badai yang luar biasa dan hujan besi cair mungkin menjadi fenomena umum pada bintang-bintang gagal yang dikenal sebagai brown dwarf. Para astronom menggunakan teleskop inframerah Spitzer untuk mengamati katai coklat. 

Mereka menemukan perubahan kecerahan yang mereka percaya menandakan adanya awan badai. 

Badai ini tampaknya berlangsung setidaknya beberapa jam, dan mungkin dapat sedahsyat badai Great Red Spot yang terkenal di Jupiter.

Brown dwarf adalah objek yang dingin, objek ini seperti bintang tapi tidak memiliki cukup massa untuk meleburkan hidrogen menjadi helium, sumber energi utama bagi bintang. 

Mereka dapat dianggap sebagai sepupu planet raksasa seperti Jupiter. Heinze dan rekan-rekannya mengukur kecerahan 44 katai coklat sampai 20 jam, sebagai bagian dari program Spitzer "Weather on Other Worlds". 

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa katai coklat memiliki cuaca berbadai 5 sampai 10 persen saat itu, sehingga para ilmuwan berharap untuk melihat beberapa variasi kecerahan. Namun yang mengejutkan, hampir setengah dari katai coklat yang diamati menunjukkan variasi tersebut.

Dengan mempertimbangkan fakta bahwa sekitar setengah katai coklat berorientasi sedemikian rupa sehingga badai bisa tersembunyi, atau hanya berubah, data ini menunjukkan bahwa badai turbulen pada katai coklat sangat umum.

"Kita berbicara tentang awan yang memiliki massa lebih besar dari bumi yang membentuk dan menghilang dalam skala waktu hanya beberapa jam pada katai coklat," kata Heinze. Awan ini jauh terlalu panas bagi air.Sebaliknya, para astronom percaya bahwa mereka terdiri dari pasir dan besi cair. 

Spitzer memantau badai kurang dari satu hari, sehingga para astronom tidak tahu apakah badai bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, seperti Jupiter Great Red Spot. Dalam beberapa kasus, badai bisa dinamis dan cepat berubah, kata Heinze.

Pengamatan kecerahan dimungkinkan karena Spitzer berada di atas atmosfer bumi, di mana kilau panas planet kita tidak mengaburkan mereka. Kejutan lain dari pengamatan Spitzer adalah kanap putaran katai coklat melambat. 

Pemikiran konvensional menyatakan bahwa katai coklat berputar dengan cepat ketika mereka terbentuk, tanpa melambat seiring bertambahnya usia. Tim tidak tahu mengapa katai coklat berputar begitu lambat. 

Mereka mungkin telah terbentuk dalam cara yang tidak biasa, atau mereka dapat diseret oleh gravitasi dari planet yang tidak diketahui yang mengorbit dekat.

referensi:

http://langitselatan.com/2013/07/11/hujan-kaca-di-planet-hd-189733b/

http://sains.kompas.com/read/2012/02/19/20285966/Tornado.Menyapu.Permukaan.Matahari

http://novenrique.blogspot.com/2013/10/planet-super-bumi-asing-mempunyai.html

https://gapih.wordpress.com/2014/05/01/cuaca-ekstrim-planet-pluto/

http://astronesia.blogspot.co.il/2014/01/badai-hujan-besi-cair-terjadi-di.html