Monday, February 14, 2022

Sphenodon, Kadal Mengerikan yang Memiliki Tiga Mata


Ada spesies kadal yang disebut tuatara atau Sphenodon, yang merupakan satu-satunya hewan reptil yang dimasukkan ke dalam subkelompok berbeda yang disebut rhynocephalia.

Kadal yang hanya dapat ditemukan di kepulauan New Zealand itu memiliki tiga mata. Ukuran beratnya mencapai 1 kilogram, dan kadal yang betina biasanya lebih ringan dibanding kadal jantan

Mata ketiga yang dimiliki tuatara dinamakan mata pineal. Mata itu terletak pada sebuah lubang yang ada di antara kepala dan otak. Mata ketiga itu juga memiliki kelopak mata yang menutup secara horisontal.

Sampai saat ini masih belum diketahui secara pasti apa fungsi mata ketiga itu bagi tuatara, meski dulu mungkin bermanfaat di zaman purba.

Tuatara termasuk hewan yang aktif di malam hari. Mereka biasanya tinggal di dalam liang, dan memakan serangga, tikus, katak, juga telur burung. Umumnya, tuatara dapat hidup hingga 77 tahun, meski ada beberapa yang mampu bertahan hidup hingga lebih dari 100 tahun.

Misteri Munculnya Suara-suara Aneh di Luar Angkasa


Luar angkasa diyakini sebagai tempat yang sunyi, karena di sana—di luar Bumi—tidak ada manusia atau kehidupan sebagaimana yang ada di Bumi. Namun, yang misterius, beberapa astronot yang pergi ke luar angkasa menceritakan bahwa mereka mendengar suara-suara aneh yang muncul di sana.

Salah satu astronot yang mengakui hal tersebut adalah Yang Liwei, dari Cina. Ketika dia melakukan penerbangan ke luar angkasa pada 2003 lalu, dia mendapati sesuatu yang aneh sekaligus mengejutkan. Yaitu munculnya suara seperti ketukan.

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, dia sekarang ingat mendengar "seseorang mengetuk badan pesawat angkasa luar, sama seperti mengetuk ember logam dengan palu kayu".

Jelas saja dia menjadi cemas dan mengintip ke lubang, tetapi tetap tidak menemukan penjelasan terkait suara aneh tersebut.

Dia tidak bisa memutuskan saat masih di angkasa luar maupun setelah kembali ke bumi. Yang Liwei telah mencoba, tetapi gagal, menciptakan kembali suara tersebut agar para ahli dapat membantunya mengidentifikasi.

Tidak mengejutkan jika cerita suara misterius di angkasa luar mengundang perhatian berbagai pihak.

Apa atau siapa yang mengetuk pesawat angkasa luar Yang, sementara dia sendirian jauh dari Bumi?

Kesunyian tak terbatas

Angkasa luar diperkirakan sunyi karena tidak terdapat perantara agar suara dapat bergerak.

"Pergerakan suara memerlukan sebuah perantara; apakah itu unsur udara, molekul air, logam, atau atom padat," kata Profesor Goh Cher Hiang, ahli angkasa luar dari National University of Singapore.

Contoh sederhana hal ini adalah guntur, suara bergerak melalui udara, sonar bawah air, atau alat musik padat.

"Jika terdengar ketukan, kemungkinan suatu benda 'memukul' pesawat angkasa luar pembawa astronot," katanya, tetapi dia menekankan pemikiran ini hanyalah rekaan.

Rekannya, Wee-Seng Soh, memberikan pandangan yang berbeda dengan mengatakan ini kemungkinan "hasil pemuaian atau kontraksi pesawat, terutama karena suhu bagian luar dapat sangat berubah di dalam orbit".

Hari-hari Yang sebagai manusia angkasa luar sudah lama berlalu, tetapi media Cina menyatakan suara tersebut juga didengar astronot Cina berikutnya, pada misi tahun 2005 dan 2008. Yang memberitahu mereka agar tidak terkejut dan mencemaskannya.

Meskipun belum terjelaskan, dia sekarang menyatakannya sebagai sebuah "gejala biasa".

Suara angkasa luar

Kenyatannya, tidaklah aneh mendengar suara di angkasa luar, dan juga suatu hal biasa tidak menemukan penjelasan pasti terkait suara tersebut.

Pada uji coba penerbangan tahun 1969 misi pendaratan Bulan, pada bagian terjauh orbit di mana tidak terdapat hubungan radio dengan Bumi, para astronot mendengar suara aneh yang tidak bisa dijelaskan.

Suara siulan tersebut mereka gambarkan sebagai musik angkasa luar, tetapi informasi rahasia tersebut baru diungkapkan baru-baru ini. Rekaman suara tersebut baru didengar masyarakat permulaan tahun ini.

NASA menyatakan hal ini kemungkinan adalah interferensi radio, bukan makhluk angkasa luar.

Misi angkasa luar berikutnya juga mencatat suara sejenis, dan NASA telah mengeluarkan rekaman penjelajah angkasa luar Juno saat mengorbit Jupiter.

Sunday, February 13, 2022

Langit California Berlubang, Penduduk Khawatir Ada Serangan Alien


Dalam film Avengers, kita menyaksikan langit di New York berlubang, dan melalui lubang itu muncullah makhuk-makhluk luar angkasa yang mengendarai pesawat-pesawat canggih, yang lalu memporakporandakan seisi kota. Ketika menyaksikan film tersebut, kita mungkin takjub. Namun, setidaknya, kita tidak khawatir karena itu hanya ada dalam film.

Belakangan, penduduk California Utara panik saat tiba-tiba melihat langit di atas kota mereka berlubang, mirip seperti yang terjadi dalam film Avengers. Para penduduk yang menyaksikan fenomena itu sempat khawatir kalau-kalau lubang di langit itu merupakan pintu tempat bermunculannya UFO atau makhluk-makhluk dari luar angkasa.

Pemandangan yang memperlihatkan sebuah lubang kecil di langit California itu mengesankan seolah lapisan bumi sedang bolong. Fenomena itu pun sempat menjadi pembicaraan di berbagai jejaring sosial.

Dikutip dari Daily Mail, tidak sedikit yang menyebut bahwa lubang di langit tersebut adalah ulah UFO atau makhluk planet lain, namun ada banyak orang lain yang lebih percaya bahwa hal tersebut hanyalah fenomena alam yang langka.

Secara ilmiah, ternyata lubang di langit memiliki penjelasan, dan bukan hasil karya makhluk planet lain atau UFO. Dalam pengertian ilmiah, lubang tersebut dinamakan Fallstreak.

Fallstreak adalah suatu fenomena atmosfer yang diperkirakan terbentuk karena partikel es dalam udara mulai mengkristal, dan menjadi solid di langit. Ketika sebuah benda seperti pesawat udara melintasinya, kristal itu akan berlubang, yang awalnya kecil dan akan terus membesar.

Lubang tersebut tidak terjadi secara otomatis dan cepat terlihat. Ketika sebuah pesawat terbang melewati atau menerobos gumpalan partikel es tersebut, diperkirakan lubang itu baru akan terbentuk sekitar beberapa jam setelahnya.

Para meteorolog juga menjelaskan bahwa fenomena semacam itu hanyalah sebuah efek optikal yang dihasilkan oleh kondisi cuaca yang langka.
 

Mongolian Death Worm, Cacing Monster Raksasa dari Neraka


Mongolian death worm disebut-sebut sebagai sejenis cacing tanah, namun dengan bentuk dan ukuran tubuh yang tidak lazim. Beberapa orang yang mengaku pernah melihatnya menyatakan bahwa makhluk aneh itu memiliki panjang tubuh sekitar 1 sampai 1,5 meter, dengan wujud seperti usus besar manusia, dan berwarna merah darah.

Hewan ini dianggap sebagai monster penghuni gurun Gobi, dan penduduk setempat menyebutnya “allghoi khorkhoi” alias cacing monster dari neraka.

Sesuai dengan namanya, Mongolian death worm diceritakan sebagai spesimen yang mematikan. Hewan ini dapat menyemburkan racun, dan konon memiliki sengatan listrik yang bisa merobohkan mangsa atau siapa pun dengan mudah.

Beberapa ekspedisi pernah dilakukan untuk mencari eksistensi monster ini, namun tak sekali pun eskpedisi itu yang bisa menemukannya. Mungkin karena makhluk itu tak menampakkan diri. Atau mungkin pula karena memang tidak ada.

Wow, Ternyata Memang Ada Manusia Mirip Kita di Dimensi Lain Insight, Mistery, Science


- Jauh di masa lalu, para ahli fisika dan ilmuwan berpendapat bahwa kehidupan kita berdampingan dengan bentuk kehidupan lain yang sering disebut dimensi lain, atau yang kita kenal dengan dimensi paralel.

Parallel universes atau semesta paralel, juga disebut metauniverses atau multiuniverses, merupakan sekelompok semesta kembar teoretis yang ada dan berlangsung pada saat yang bersamaan dengan semesta kita. Dunia paralel konon merupakan variasi dari realitas kita, jadi semua hal berlangsung pada saat yang bersamaan namun dengan realitas yang berbeda.

Gagasan mengenai dunia paralel tidak hanya terbatas pada ranah fiksi ilmiah; filsafat, fisika, dan bahkan teologi memiliki penjelasannya masing-masing mengenai mengapa ada dunia paralel, dan bagaimana dunia paralel itu bekerja.

Mekanika kuantum, ilmu yang berupaya menjelaskan fenomena-fenomena yang tidak bisa dijelaskan hukum fisika dan hukum alam klasik, telah meneliti dunia paralel sejak tahun 1956.

Fisikawan Amerika, Hugh Everett, pertama kali merumuskan gagasan dunia paralel untuk menjelaskan teori yang menyatakan bahwa setiap kemungkinan yang terjadi dari setiap pilihan yang diambil memang benar-benar terjadi. Jika di semesta ini Anda memilih jalur A, Anda yang lain akan memilih jalur B di dunia paralel.

Yang menjadi perdebatan seru adalah soal di mana dan bagaimana dunia paralel itu berada. Beberapa ahli mengatakan bahwa metauniverses berada dekat dengan dunia kita. Begitu dekat, sehingga hantu-hantu yang kita lihat kemungkinan tidak lain dari orang-orang dari dunia paralel, yang entah bagaimana tersasar ke realitas kita.

Postulat lainnya mengatakan bahwa dunia paralel berada jauh di luar galaksi terjauh. Teori ketiga mengatakan bahwa dunia paralel berada di dimensi yang berbeda, entah lebih rendah atau pun lebih tinggi, dari dunia empat dimensi yang kita tempati saat ini.

Meskipun gagasan tentang dunia paralel kedengarannya luar biasa, semakin banyak ilmuwan yang percaya gagasan bahwa alam semesta ganda berada dekat sekali dengan kehidupan kita. Sebuah teori baru yang mengejutkan saat ini sedang diteliti di beberapa universitas ternama di dunia. Teori ini mengatakan bahwa Ledakan Besar (Big Bang) sebenarnya bukan merupakan permulaan alam semesta.

Saat ini, beberapa ilmuwan mengklaim bahwa Ledakan Besar yang selama ini kita anggap sebagai asal usul alam semesta, boleh jadi sebenarnya hasil tabrakan dua alam semesta yang kemudian menghasilkan munculnya alam semesta baru. Teori yang revolusioner ini dipandang serius oleh para ilmuwan mekanika kuantum, dan sampai saat ini menjadi sumber perdebatan yang hangat.

Jika kita mengaitkan teori sains tersebut dengan agama, tentu kita akan mengalami kebingungan dan mulai berpendapat dengan opini masing-masing. Di antara kita tentu akan mengiyakan atau bahkan banyak juga yang meragukannya.

Pertanyaannya, apakah teori-teori tersebut benar adanya?

Sebenarnya, nenek moyang kita telah membeberkan perihal tersebut dalam banyak kejadian dan peninggalan, namun amat disayangkan sifat alami manusia yang merasa benar dan tidak pernah puas, tidak mampu menjaga warisan berharga tersebut.

Jauh di masa lalu, nenek moyang kita paham betul dengan hal-hal yang di luar logika atau pikiran logis manusia.

Sebut saja Indonesia. Tentu Anda mengenal kata ‘Kalpataru’ atau pohon hikayat yang berasal dari peninggalan masa lalu, terutama agama Hindu purba, yang menyebutkan bahwa Kalpataru adalah symbol dari rantai akar kehidupan berbagai dimensi. Apakah Kalpataru dikenal hanya di negara kita? Tentu saja tidak, jauh sebelum Hindu masuk Indonesia, tradisi India kuno telah mengenalnya.

Lalu apa hubungan antara pohon kehidupan dengan dimensi paralel?

Pohon kehidupan pada masa itu dipercaya sebagai penghubung atau pintu menuju ke alam atau dimensi lain selain dimensi kita berada, namun tetap saling berdampingan satu sama lain.

Nenek moyang kita paham mengenai rahasia pintu-pintu masuk menuju ke dimensi-dimensi alam lain yang tidak lazim dikenal manusia modern. Dalam kehidupan masyarakat kuno, dimensi ini lebih dikenal dengan alam lain atau alam gaib/roh, yang merupakan tempat tinggal bagi mahluk-mahluk halus.

Kebanyakan orang mengira alam gaib hanya terdiri dari satu dimensi. Kalaupun ada tingkatan-tingkatannya, jumlahnya hanya beberapa. Namun, para penganut rahasia pohon kehidupan menyatakan bahwa jumlah keseluruhan dimensi, termasuk dimensi alam ini, ada 41 buah.

Yang 40 buah di luar alam kita ini adalah gaib. Masing-masing dimensi tersebut mempunyai alam, makhluk-makhluk dan ciri-cirinya sendiri yang khas. Tak ada dua dimensi pun yang persis sama. Apa yang selama ini kita sebut sebagai alam gaib itu hanyalah salah satu dari jumlah 40 itu.

Namun kita tidak pernah tahu betul apakah dari sekian banyak dimensi atau alam di sisi alam kita yang lain hanya berisi mahkluk gaib saja? Tentu tidak!

Sebab dari sekian banyak planet di tata surya, dan banyaknya galaksi di alam semesta, kita tidak pernah tahu apakah benar hanya kita mahkluk yang mampu berpikir dan hidup yang memiliki jasad kasar.

Jika di antara kita masih juga belum yakin bahwa alam semesta kita istimewa, sebaiknya renungkan kembali kata-kata Albert Einstein yang pernah menyinggung tentang dimensi lain, “Bukankah Tuhan tidak bermain dadu saat membuat alam semesta?'


 

Thursday, February 10, 2022

lmuwan Menemukan Jejak Ratu Balqis, Istri Nabi Sulaiman


Para ilmuwan, yang berhasil membongkar DNA orang-orang Ethiopia modern, menemukan berbagai petunjuk yang mengarah pada kebenaran legenda Ratu Sheba, yang dalam tradisi Islam juga dikenal dengan Ratu Balqis.

Dalam hikayat disebutkan bahwa Ratu Sheba mengunjungi Jerusalem, dan memiliki anak, Menelik, dengan Raja Sulaiman dari Israel, sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Para peneliti genetika dari Inggris dan Ethiopia mengatakan, genom orang-orang Ethiopia sangat  mirip dengan orang-orang Israel dan Suriah, dan percampuran genetika diketahui dimulai kira-kira 3.000 tahun lalu.

Profesor Chris Tyler-Smith, pakar dari Inggris yang melakukan penelitian, mengatakan, genetika bisa menjadi petunjuk kejadian sejarah.

"Dengan menganalisis genetika orang-orang Ethiopia dan beberapa orang dari kawasan Afrika lain, kita bisa mengetahui bahwa gen masuk ke Ethiopia sekitar 3.000 tahun lalu, dan ini sesuai dengan hikayat Ratu Sheba," papar Tyler-Smith.

Sejarah migrasi manusia

Luca Pagani, pakar dari Universitas Cambridge yang juga terlibat dalam penelirian ini, menambahkan, "Bukti genetika yang kami temukan jelas mendukung kebenaran legenda Ratu Sheba."

Mengomentari temuan ini, Dr Sarah Tishcoff dari Jurusan Biologi dan Genetika  Univeristas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengatakan, Ethiopia akan menjadi kawasan penting untuk diteliti di masa depan.
 
"Penelitian ini mengungkap sejarah Ethiopia, baik di masa sekarang maupun di masa  lalu. Kawasan Ethiopia memainkan peran penting dalam sejarah migrasi manusia," kata Tishcoff.

Legenda Ratu Sheba dan Raja Sulaiman tercantum dalam buku Ethiopia, Kebra Nagast atau Kejayaan Raja-Raja, yang ditulis pada abad ke-13. Nama Ratu Sheba atau Ratu Balqis juga disebut di dalam Injil dan Quran.






 

Tuesday, February 8, 2022

inilah assassins (hashyashyin) adalah seksi pembunuh bentukan yahudi yang di tumpas salahuddin al-ayyubi !!!!

 Penulisan sejarah tentang Perang Salib sampai hari ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Salah satunya tentang peranan kaum Hashyashyin, sebuah sekte (ordo) khusus pembunuh dari kelompok Ismailiyah-Qaramithah, salah satu cabang dari kelompok Syiah di bawah Dinasti Fathimiyah.


Hashyashyin (Asassins) “guru” bagi Knights Templar



Konon, Hashyashyin ini merupakan “guru” dari Knights Templar yang dibentuk oleh Ordo Sion di tahun 1118 Masehi. Keduanya — Hashyashyin maupun Templar-memiliki banyak kemiripan. Mulai dari struktur organisasi, pembangkangan terhadap agama (bid’ah) dan bahkan dianggap agnostik (tidak meyakini agama apapun kecuali doktrin pemimpinnya), kepandaiannya dalam berperang, membunuh, serta keterampilan dalam hal pengunaan racun, serta adanya ritual-ritual khusus yang penuh dengan warna mistis-paganistik.

Bahkan banyak penulis sejarawan modern menganggap Sekte Syiah Qaramithah—asal muasal gerakan Assassins — sebagai kelompok 
Bolsyewisme-Islam atau cenderung komunistis. Pendiri sekte ini bernama Hamdan al-Qarmath, seorang Irak yang gemar pada ilmu-ilmu perbintangan dan kebatinan, mirip dengan pengikut Kabbalah (Hitti, History of the Arabs: From the Earliest Times to the Present, 2002).Templar sendiri sesungguhnya pengikut Kabbalah, walau mereka mengaku sebagai pemeluk Kristen pada awalnya.

Penaklukkan Jurusalem Oleh Dinasti Fatimiyah


Sebab itu, banyak sejarawan Barat yang menuding di antara kedua sekte khusus pencabut nyawa ini sesungguhnya terjalin satu kerjasama dalam bentuk yang tersembunyi. Salah satu yang memunculkan dugaan ini adalah Prof. Carole Hillenbrand, Guru Besar Studi Islam dan Bahasa Arab University Edinburgh, Skotlandia. Skotlandia sendiri dikenal sebagai wilayah basis dari Freemasonry yang lahir di darah ini selepas penumpasan Templar oleh Raja Perancis, King Philipe le Bel, yang dibantu Paus Clement V di tahun 1307 M.


Profesor Hillenbrand
 dalam bukunya “The Crusade, Islamic Perspective” (1999) menulis bahwa setahun sebelum pasukan salib gelombang pertama yang dikomandani Godfroi de Bouillon tiba di pintu Yerusalem di tahun 1099 dan merebutnya, Yerusalem diserang oleh pasukan dari Dinasti Fathimiyah-Syiah yang berpusat di Mesir dan merebutnya dari tangan kekuasaan Dinasti Abbasiyyah yang beraliran Sunni.

Jadi, ketika pasukannya Godfroi tiba di pintu kota Yerusalem, kota suci itu sebenarnya telah berada di bawah kekuasaan Bani Fathimiyah.


Atas kejadian ini, Hillebrand mempertanyakan tidak adanya catatan khusus dari para sejarawan Muslim. “Serangan tiba-tiba yang dilakukan al-Afdhal (Wazir dari Dinasti Fathimiyah Mesir) ke Yerusalem, dengan waktu yang amat tepat, memerlukan penjelasan yang belum diberikan para sarjana Islam. Mengapa al-Afdhal melakukan serangan ini? Apakah karena ia telah tahu lebih dulu soal rencana para Tentara Salib? Bila demikian, apakah ia merebut Yerusalem untuk kepentingan Tentara Salib, yang sebelumnya telah menjalin aliansi dengannya?” tulis Hillebrand.


Salah satu hipotesis yang dikemukakan peraih The King Faisal International Prize for Islamic Studies ini adalah, bahwa pasukannya al-Afdhal telah dikhianati oleh Godfroi de Bouillon, karena sesungguhnya Kaisar Byzantium—Kristen Timur yang bertentangan secara ideologi dengan Kristen Barat yang mengirimkan Tentara Salib—telah memberitahu al-Afdhal bahwa pasukan Salib Kristen Barat akan segera tiba di Yerusalem. Pemberitahuan ini diberikan Kaisar Byzantium tidak lama berselang setelah Konsili Clermont usai.


Bisa jadi, demikian Hillebrand, al-Afdhal menginvasi Yerusalem agar Godfroi menahan pasukannya dan bisa berbagi kekuasaan, karena al-Afdhal mengira Tentara Salib atau ‘Bangsa Frank’ menurut Hillenbrand bisa dijadikan sekutu yang baik menghadapi Muslim Sunni.

Namun yang terjadi tidak demikian. “Tentara Salib hendak menguasai Yerusalem untuk dirinya sendiri, ” tulisnya. Lantas di mana peranan Assassins dalam hal ini?

Peran Tersembunyi Assassins


Menjelang Perang Salib pertama, dunia Barat dan Timur masing-masing mengalami perpecahan (schisma) yang hebat. Dunia Barat setidaknya menjadi dua kekuatan besar: Kristen Timur yang berpusat di Byzantium dan Kristen Barat yang berpusat di Roma. Secara diam-diam, Sekte Gereja Yohanit yang sesungguhnya agnostik-paganistik menyusup ke Vatikan dan menyusun kekuatannya.


Di sisi lain Dunia Islam juga terbagi menjadi dua kekuatan besar yang juga saling memusuhi yakni 
Kekhalifahan Abbasiyah yang sunni dan Kekhalifahan Fathimiyah yang syiah yang berpusat di Mesir.

Carole Hillenbrand menulis, “Dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, sejak 1092 M, terjadi rentetan pembersihan semua pemimpin politik terkemuka Dunia Islam dari Mesir hingga ke timur. Tahun 1092, seorang menteri terkemuka Dinasti Seljuk sunni bernama Nizam al-Mulk terbunuh (belakangan diketahui Assassins-lah yang melakukan itu). ”


Tahun 1092 M Dijuluki Tahun Kematian


Tiga bulan kemudian, Sultan Maliksyah, sultan ketiga Seljuk yang telah berkuasa dengan gemilang selama duapuluh tahun juga meninggal dengan sebab-sebab yang mencurigakan. Kuat dugaan ia juga telah diracun Assassins. Tak lama kemudian, permaisuri dan cucu-cucunya pun meninggal dengan cara yang tak lazim. Para sejarawan Islam memandang tahun 1092 M sebagai “Tahun Kematian”.


Apalagi dengan peristiwa meninggalnya Khalifah Fathimiyah Syiah di Mesir, al-Muntanshir, musuh besar Seljuk, yang juga terjadi pada tahun itu. Dua tahun kemudian, 1094, Khalifah Abbasiyah alMuqtadhi juga meninggal.


Rentetan perubahan yang berjalan amat cepat ini oleh Hillenbrand disamakan dengan terjadinya Perestroika di Uni Soviet yang mengakibatkan kehancuran dan perpecahan. Berbagai sekte dan negara kecil-kecil memisahkan diri dan menjadi kekuatannya masing-masing. Dunia Islam menjelang Konsili Clermont di tahun 1096 sudah berubah menjadi dunia yang penuh kekacauan dan anarki.


Asassin Bertugas Menciptakan Perpecahan Di Kalangan Islam


Hillenbrand mengajukan pertanyaan: “Momentum ini bagi pasukan Salib sungguh menguntungkan. Apakah saat itu pasukan Salib telah diberitahu bahwa saat itu merupakan momentum yang sangat bagus untuk menyerang Yerusalem?”


Jika di balik, pertanyaan Hillenbrand sebenarnya bisa lebih menukik, seperti: “Adakah kekacauan di Dunia Islam ini telah diatur? Assassins bertugas menimbulkan perpecahan di kalangan Islam dengan melakukan serangkaian pembunuhan di berbagai dinasti Islam yang kuat, dan di lain sisi 
Ordo Yohanit (Peter The Hermit dan Godfroi de Bouillon sebagai dua tokohnya) di saat yang sama menyusup ke Vatikan dan memprovokasi Paus agar mengobarkan Perang Salib untuk merebut Yerusalem.

Apalagi sejarah mencatat bahwa hanya setahun sebelum pasukan Salib tiba di depan gerbang Yerusalem, kota suci itu telah jatuh ke tangan Dinasti Fathimiyah. Adakah ini merupakan persekongkolan antara Assassins dengan Ordo Yohanit di mana keduanya memang diketahui cenderung kepada ilmu-ilmu ramalan, perbintangan, sihir, dan sebagainya yang menjurus pada ajaran Kabbalah.


Dengan kata lain, adalah semua kejadian besar itu merupakan hasil konspirasi yang dilakukan Ordo Kabbalah dengan pembagian kerja: Assassins bekerja di Dunia Islam, sedangkan Yohanit (Ordo Sion dan kemudian Templar) bekerja di Dunia Kristen?


Bukan rahasia umum lagi bila Assassins dan Templar di kemudian hari benar-benar melakukan kerjasama. Templar sering mengorder Assassins untuk membunuh musuh-musuh politiknya. 
Salah satu korban dari Assassins adalah Richard The Lion Heart. Salahuddin al-Ayyubi sendiri pernah menerima terror dari Assassins.

Target Asassins : Richard The Lion Heart dan Salahuddin Al-Ayyubi


Suatu pagi, Salahuddin terbangun dari tidur di dalam tendanya dan menemukan sepotong kue yang telah diracun di atas dadanya dengan tulisan, “Anda berada dalam kekuasaan kami. ” Sejak itu Salahudin makin yakin bahwa dia tidak bisa meremehkan Assassins. Dan hal ini terbukti kemudian, setelah membebaskan Yerusalem, Salahudin terus melakukan pembebasan hingga ke Benteng Alamut, markas besar Assassins di Persia, sebelum akhirnya ke Mesir untuk melakukan pembersihan terhadap sekte Syiah.


Sebutan Hashyashyin atau dalam lidah orang Barat “Assassins” berasal dari catatan Marcopolo. Pelaut ternama dari Venesia ini pada tahun 1271-1272 melintasi daerah Alamut, sebuah benteng besar di atas karang yang sangat kuat dan memiliki taman yang sangat indah di dalamnya, di wilayah Persia.


Dalam catatannya tentang Benteng Alamut dan aktivitas sekte Syiah pimpinan Hasan al-Sabbah, yang diistilahkan oleh Marcopolo sebagai kaum Assassins, pelaut Italia ini menulis:


“…Beberapa pemuda yang berumur duabelas hingga duapuluh tahun yang memiliki semangat tarung yang tinggi, dibawa masuk ke dalam taman yang berada di tengah-tengah benteng. Mereka dibawa masuk bergiliran, sekitar empat, enam, atau sepuluh pemuda. Sebelumnya, mereka disuguhi minuman keras dan candu yang membuat mereka mabuk berat atu tertidur pulas. Baru setelah itu mereka diangkat dan dipindahkan ke dalam taman.


Ketika bangun, para pemuda itu mendaati dirinya berada di tengah taman yang sangat indah. Mereka dikelilingi para gadis-gadis perawan yang mengenakan pakaian sungguh menggoda. Para gadis itu menghibur, merayu, dan melayani keinginan para pemuda tersebut. Mereka sungguh-sungguh dimanjakan.


Para pemuda itu menyangka mereka sedang berada di surga. Sehingga ketika 
Hasan al-Sabbah sebagai pimpinan tertinggi Hashyashyin memberi tugas atau perintah kepada mereka maka mereka akan dengan senang hati akan melaksanakannya.

“Surga” yang sangat indah telah menantikan para pemuda tersebut jika tugasnya selesai. “Saat kau kembali, bidadari-bidadariku akan membawamu ke surga. Dan jika pun kau mati, kau pun akan pergi juga ke surga, ” ujarnya.


Penggunaan candu atau Hashyishy inilah yang oleh Marcopolo, kelompok ini disebut kaum Hashyashyin.


Old Man of the Mountain


Freya Stark, seorang wartawati Inggris berdarah campuran Perancis-Italia, ketika menjabat sebagai Staf Redaksi Bagdad Times di Bagdad, Irak, banyak melakukan perjalanan jurnalistiknya. Perempuan yang menguasai bahasa Arab dan Parsi ini atas izin Shah Iran di tahun 1930-1931 mengunjungi sisa-sisa Benteng Alamut di Persia. Stark merupakan perempuan asing pertama yang menjejakkan kakinya di wilayah bekas pusat kekuasaan kaum Assassins ini.


Stark membuat peta baru yang terperinci atas wilayah tersebut dan catatan perjalanannya menjadi sebuah buku yang sangat menarik berjudul “The Valley of the Assassins”.


Dalam bukunya, Stark menulis tentang latar belakang dan perkembangan kelompok Assassins. Stark berpedoman kepada literatur-literatur tertua dalam Dunia Islam.
 “Assassins itu sebuah sekte Parsi. Cabang dari aliran Syiah Ismailiyah, yang memuliakan Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad, beserta Imam-Imam turunan dari garis Ali, ” demikian Stark (hal. 159).

Asassins dan Komunisme


Aliran Ismailiyah memisahkan diri dari aliran-aliran lainnya sepeninggal Imam ke-7, Imam Jafar al-Shadiq. Walau mengaku sebagai Syiah dan pengikut Ali, namun berlainan dengan aliran lainnya, maka Assassins tidak mewajibkan shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Pandangan ‘keagamaan’ Assassins juga unik karena lebih condong kepada Komune (pada abad ke-20 dikenal sebagai paham Komunisme)—penyamarataan sosial. Bahkan di dalam beberapa ritual religinya, Assassins juga melakukan ritus-ritus yang kerap ditemukan pada pengikut paganisme-Kabalis. Seperti halnya ritus di dalam Taman Alamut yang nyaris serupa dengan ritus pesta seks Caligula atau Nero di zaman Romawi.


Tulisan Stark yang dikutip oleh Joesoef Sou’yb dalam ‘Sejarah Daulat Abasiah’ Jilid III (Bulan Bintang, 1978) menyatakan, 
“Kelompok Assassins dipimpin oleh sebuah keluarga Persia yang kaya raya namun gila perang. Mereka itu menyerahkan hidupnya untuk merongrong dan menghancurkan secara berangsur-angsur terhadap segala jenis keimanan Islam dengan suatu sistem pentahbisan (inisiasi) secara halus dan pelan-pelan, melalui beberapa tahap (marhalah), menusukkan kesangsian-kesangsian terhadap agama Islam, hingga kemudian si anggota menjadi seseorang yang mendewa-dewakan pemikiran bebas dan bersikap bebas pula (liberal). ” (hal. 61)

Paparan Stark di atas merupakan alat utama pengrusakkan agama-agama samawi yang dilakukan oleh kaum Kabbalis. Seperti yang telah diulas dalam banyak sekali literatur, 
ketiga agama samawi yang dirusak oleh kaum Kabbalah ini adalah Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Ke dalam agama Yahudi yang sesungguhnya memiliki Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa a. S., kaum Kabbalah ini menyisipkan ayat-ayat palsu sehingga Taurat menjadi rancu dan berantakan. 
Lantas kaum Kabbalah ini membuat satu kitab yang dikatakan sebagai ‘titah Tuhan kepada Nabi Musa yang tidak tercatat’ (seperti halnya Hadits Qudsi di dalam agama Islam, hanya saja Hadist Qudsi merupakan sesuatu yang benar berasal dari Allah SWT), yang disebutnya sebagai Kitab Talmud. Kitab Talmud ini pun akhirnya menjadi ‘lebih suci dan tinggi’ ketimbang Taurat, sehingga kaum Yahudi ini menjadi kaum yang dimurkai Allah SWT.

Ke dalam agama Nasrani, kaum Kabbalah memasukkan seorang Yahudi Talmudian bernama Paulus dari Tarsus
 . Paulus ini yang tidak pernah bertemu dengan Yesus karena zaman kehidupannya jauh berbeda, membuat Kitab Perjanjian Baru, yang disebutkan sebagai penggenapan Bibel Perjanjian Lama (Taurat). Ke dalam Perjanjian Lama pun-seperti halnya Taurat Musa—disisipkan ayat-ayat palsu sehingga mustahil untuk kita menemukan mana yang asli dan mana yang tidak.

Lalu ke dalam agama Islam, kaum Kabbalah ini memasukkan seorang Yahudi juga yang berpura-pura sebagai orang Islam bernama Abdullah bin Saba
 . Abdullah bin Saba inilah yang memecah umat Islam ke dalam dua kutub besar yakni Sunni dan Syiah, sesuatu yang tidak ada saat Rasulullah SAW masih hidup.

Sesuatu yang bukan kebetulan, ujar Stark, bahwa keluarga Persia tersebut memusatkan aktivitasnya di Mesir atas nama Dinasti Fathimiyah. Mesir sejak zaman purba merupakan salah satu pusat berkembangnya ajaran Kabbalah.


Salah satu tonggak Kabbalah di Mesir Kuno adalah di masa kekuasaan para Firaun, yang berkuasa ditopang oleh “Dua Kaki” yakni Militer dan Penyihir. Di masa Nabi Musa as., para penyihir ini sebagian ada yang meninggalkan ajaran Kabbalah dan kembali ke Islam. Namun Dewan Penyihir Tertinggi (Majelis Ordo Kabbalah) tetap memusuhi Nabi Musa a. S dan menyusupkan seorang anggotanya ke dalam umatnya Nabi Musa untuk memalingkan kaumnya dari ketauhidan. Al-Qur’an mencatat orang yang disusupkan itu bernama Samiri.


Di Mesir, cikal bakal Assassins ini menyusup ke semua lini dan menguasai posisi-posisi penting. Salah seorang dai Ismailiyah yang berasal dari kota Rayy di Persia bernama Hassan al-Sabbah muncul sebagai tokoh di Mesir. Hassan al-Sabbah inilah yang kemudian mendirikan sekte Assassins dan memegang jabatan sebagai Pemimpin Agung yang pertama dari kelompok tersebut (The First Grandmaster of the Assassins).


Kharisma dan kebrutalan Hassan al-Sabbah menjadikannya dai yang amat disegani. Ia kemudian menciptakan ideologi bagi kelompoknya sendiri, melaksanakan pelatihan-pelatihan militerisme dan intelijen secara sembunyi-sembunyi, dan sebagainya.


“Ia menciptakan suatu penemuannya sendiri, membawa ide baru ke dalam dunia politik pada masanya itu. Prinsip pembunuhan yang cuma karena haus darah telah dikembangkannya menjadi satu alat politik berasaskan sumpah, ” tulis Sou’yb. Dan tentu saja, proyek-proyek pembunuhan diam-diam terhadap lawan-lawan politik pihak yang memesannya telah menjadi ladang usaha yang sangat menguntungkan. Assassins pun menangguk keuntungan material yang sangat besar dari usahanya.


The Secret Garden of Assasins


The Secret Garden atau Taman Rahasia yang terletak di tengah Benteng Alamut di Persia, merupakan tempat inisiasi para anggota baru yang kisahnya telah dipaparkan di atas. Ritual yang dilakukan Assassins di Taman Rahasia tersebut mirip dengan yang dilakukan para Templar di Rosslyn Chapel atau di kuil-kuil mereka, yakni berakhir dengan pesta seks yang disebutnya sebagai penyatuan suci menuju Tuhan.


Reruntuhan Benteng Alamut, Markas Pembentukan Asassins

Hassan al-Sabbah merupakan pendiri sekaligus Grandmaster Assassins. Hasan berasal dari daratan Persia. Ferdinand Tottle dalam bukunya berjudul Munjid fil Adabi (1956) menulis bahwa Hassan dikirim oleh Ibnu Attash di tahun 1072 M ke Mesir untuk menemui Khalif al-Muntashir dari Daulah Fathimiyah yang beraliran Syiah.

Mesir kala itu dikuasai kelompok syiah, di mana Perguruan Tinggi Al-Azhar merupakan lembaga pendidikan ternama kaum Syiah. Hasan menuntut pendidikan di lembaga tersebut.


Sepuluh tahun kemudian, dalam usia ke-31, Hasan kembali ke Persia. Ketika Ibnu Attash wafat, Hassan menggantikan kedudukannya. Sebelum Hassan kembali ke Persia, Assassins masih menjadi gerakan bawah tanah yang belum berani menampakkan diri di atas permukaan. Dan ketika Hassan telah kembali, maka Assassins baru menampakkan diri sebagai satu gerakan dalam Sekte Syiah Ismailiyah yang beda dengan sekte-sekte lainnya.


Asassins Aliran Sesat Ciptaan Yahudi


Assassins sebenarnya bukan hanya beda di permukaan, tapi memiliki perbedaan secara substansial dan doktrinal. Secara akidah sebenarnya Assassins tidak lagi bisa dipandang sebagai bagian dari kaum Muslimin karena mereka tidak mewajibkan sholat, zakat, dan puasa, sesuatu yang sangat esensial di dalam Islam.


Sekembalinya Hassan ke Persia, gerakan Assassins mulai memperluas pengaruhnya ke seluruh penjuru Persia dengan merebut wilayah-wilayah strategis. Wilayah Iran Utara sampai pesisir Laut Kaspia, yang sejak zaman Romawi banyak berdiri kota-kota benteng menjadi sasaran utama. Beberapa kota benteng yang kokoh berdiri di antaranya Alamut, Girdkuh, dan Lamiasar berhasil dikuasai.


Benteng Alamut merupakan benteng terkuat karena berdiri di atas puncak pegunungan di mana hanya ada satu jalan untuk keluar dan masuk, itu pun sangat sulit dan terjal. Di dalam benteng yang merupakan peninggalan dari Kaisar Romawi Trajanus (98-117M) terdapat ruangan-ruangan yang membingungkan dan sebuah taman rahasia di tengahnya, di mana tidak setiap orang bisa mengaksesnya. Oleh Hassan al-Sabbah, Benteng Alamut digunakan sebagai markas besar kelompok tersebut.


Dari Alamut inilah kelompok Assassins menyebarkan terror ke seluruh lapisan kerajaan, baik dari pihak Syiah maupun lawannya Sunni-Abasiyah dan Seljuk. Masa-masa itu dikenal sebagai masa The Great Terror. Kekuatan Assassins ini demikian melegenda hingga menjadi pembicaraan kaum Salib Eropa.


Ditumpas Shalahuddin al-Ayyubi



Selain Tentara Salib dengan Ksatria Templar dan Hospitaller-nya, pasukan Shalahuddin Al-Ayyubi juga harus menghadapi kelompok Assassins. Shalahuddin tidak bisa melupakan bagaimana Assassins pernah mengancam dirinya dengan menaruh kue beracun di atas dadanya saat dia tengah tertidur.Sebab itu, setelah membebaskan Yerusalem dengan mengalahkan Tentara Salib di tahun 1187, Shalahuddin tidak berhenti. Panglima pasukan Islam itu terus menyusuri ke utara, membebaskan daerah-daerah lainnya hingga mengejar kaum Assassins ke Benteng Alamut.

Pasca serangan yang dilakukan pasukannya Shalahuddin, kemudian pasukannya Mongol, kelompok Assassins menyebar ke berbagai wilayah, utamanya Lebanon, Persia, dan Suriah. Bertahun-tahun kemudian, kelompok ini tidak lagi terdengar dan istilah “Asassins” telah mengalami perubahan makna menjadi “Pembunuh Bayaran”. Dalam budaya pop, istilah ini diangkat ke dalam novel-novel dan layar perak.


Dalam kancah konflik di dunia Arab, anak-keturunan kelompok ini dikenal sebagai kaum Druze, suatu kelompok pro-komunis di Lebanon dan Suriah. Namun beberapa kelompok kecil masih bertahan hingga kini di sekitar wilayah tersebut.


Catatan Yang Hilang


Sampai hari ini, sejarawan masih bersilang pendapat soal hubungan antara Sekte Assassins dengan Ksatria Templar (dan Ordo Sion tentunya). Carolle Hillebrand dalam karyanya yang mendapat penghargaan dari King Faisal termasuk yang percaya bahwa di bawah permukaan, di masa sebelum dan sesudah Perang Salib, antara kedua kelompok ini sebenarnya terdapat kerjasama yang unik.


Keduanya memiliki kemiripan di dalam memahami kitab suci agamanya masing-masing. Baik Templar maupun Assassins dituduh telah melakukan heresy atau bid’ah, karena keduanya memahami kitab sucinya lebih dari sekadar apa yang tertulis dan meyakini ada pesan-pesan tidak tertulis di dalam teks-teksnya. Kalangan sejarawan menyebut mereka berdua sebagai kelompok esoteris. Sebab itu, ritual-ritual keagamaan keduanya pun mirip.

Monday, February 7, 2022

Peneliti Ini Temukan Monster di Laut Dalam yang Disebut Mirip T-Rex


Makhluk dengan tubuh dan wajah yang mengerikan berhasil direkam oleh tim peneliti di laut dalam. Para ilmuwan menyebut makhluk ini monster.

Makhluk tersebut merupakan spesies hiu laut dalam kuno yang dapat tumbuh panjang hingga 20 kaki atau 6,1 meter.

Bluntnose sixgill adalah salah satu hiu terbesar di dunia yang dicirikan mempunyai enam pasang celah insang di bagian samping tubuhnya.

Morfologi tersebut sangat berbeda dengan hiu lain karena biasanya hiu lainnya hanya memiliki lima celah insang.



Hewan tersebut sering ditemukan di dasar samudera oleh ilmuwan.

Bluntnose sixgill yang memiliki nama ilmiah Hexanchus griseus bisa hidup di kedalaman 650-3500 kaki atau 198-1066 meter di bawah laut.

Bahkan mereka juga dapat ditemukan hingga kedalaman 1,5 kilometer di bawah laut.

Sekelompok peneliti dari divisi Florida Program for Shark Research, di organisasi penelitian Florida Museum of Natural History, berhasil merekam sebuah pemandangan langka.


Mereka merekam seekor hiu laut dalam kuno raksasa di kedalaman ratusan meter bawah laut.

Gavin Naylor, seorang ilmuwan yang tergabung dalam penelitian menjelaskan bahwa hiu tersebut memiliki jejak DNA fosil hiu kuno 180 juta tahun lalu.

Mereka juga masih mempertahankan fitur tubuh primitif sehingga sangat menarik untuk diteliti.

"Rasanya seperti melihat T. rex di dalam air. Silsilah hiu tersebut telah ada sejak nenek moyang purba Homo erectus, dan bentuk mereka tidak banyak berubah," kata Naylor dikutip dari NewsWeek.

Ilmuwan menandai hiu itu langsung di bagian laut dalam karena ketika menangkap dan menandai mereka di permukaan laut, maka hewan tersebut langsung stres.

Setelah ditandai dan dilacak, diharapkan ilmuwan dapat mengerti perilaku hiu Bluntnose sixgill di laut dalam secara lebih spesifik.

Dalam video, terlihat mata hiu laut dalam itu seperti mata milik Night Fury, naga dalam film How to Train Your Dragon, sangat menakjubkan bukan?

Thursday, February 3, 2022

Ilmuwan Prediksi Waktu Matahari Akan Meledak dan Padam

 

Semua hal di dunia ini akan berakhir. Dan menurut model matematika dan astronomi selama beberapa dekade, hal ini termasuk Matahari. Jadi, kapan Matahari akan meledak dan padam?

Meskipun kematian akhir massa Matahari ukuran sedang kita adalah triliunan tahun di masa depan, "kehidupan" Matahari dalam fase saat ini, yang dikenal sebagai "urutan utama", di mana fusi nuklir hidrogen memungkinkannya untuk memancarkan energi dan memberikan tekanan yang cukup untuk menjaga bintang agar tidak runtuh karena massanya sendiri, akan berakhir sekitar 5 miliar tahun dari sekarang.

"Matahari berusia kurang dari 5 miliar tahun. Ini semacam bintang paruh baya, dalam arti bahwa hidupnya akan menjadi sekitar 10 miliar tahun atau lebih," kata Paola Testa, astrofisikawan di Center for Astrophysics.

Menurut NASA, setelah Matahari membakar sebagian besar hidrogen di intinya, ia akan bertransisi ke fase berikutnya sebagai raksasa merah. Pada titik ini, kira-kira 5 miliar tahun di masa depan, Matahari akan berhenti menghasilkan panas melalui fusi nuklir, dan intinya akan menjadi tidak stabil dan berkontraksi.

Sementara itu, bagian luar Matahari yang masih mengandung hidrogen akan memuai, bersinar merah saat mendingin. Ekspansi ini secara bertahap akan menelan planet-planet tetangga Matahari, Merkurius dan Venus, dan mendorong angin Matahari ke titik di mana mereka menghancurkan medan magnet Bumi dan melepaskan atmosfernya.

Tentu saja, ini hampir pasti akan menjadi kiamat bagi kehidupan apa pun yang tersisa di planet kita pada saat itu, dengan asumsi ada yang selamat dari peningkatan 10% kecerahan Matahari.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Geophysical Research Letters, peningkatan 10% kecerahan Matahari ini diperkirakan akan menguapkan lautan Bumi dalam 1 miliar hingga 1,5 miliar tahun.

Dan berdasarkan studi yang diterbitkan dalam Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, dalam beberapa juta tahun dari ekspansi awal ini, kemungkinan Matahari juga akan memakan sisa-sisa batuan Bumi.

Matahari kemudian akan mulai menggabungkan helium yang tersisa dari fusi hidrogen menjadi karbon dan oksigen, sebelum akhirnya runtuh ke intinya, meninggalkan nebula planet yang indah (cangkang plasma panas yang tersisa) di lapisan luarnya saat menyusut menjadi "mayat" bintang seukuran Bumi yang sangat padat, jauh lebih panas, yang dikenal sebagai katai putih.

Nebula akan terlihat hanya sekitar 10.000 tahun. Dari sana, apa yang tersisa dari Matahari akan menghabiskan triliunan tahun untuk mendingin sebelum akhirnya menjadi objek yang tidak lagi memancarkan cahaya.

Untuk sampai pada garis waktu ini, untuk Matahari dan semua bintang dengan massa relatifnya, para ilmuwan perlu mengetahui bagaimana ia memancarkan energi, yang sulit sebelum fusi nuklir dalam massa Matahari dapat diperhitungkan.

"Banyak ilmu pengetahuan yang relatif baru, seperti di abad terakhir, karena bagian integral dari pemahaman bagaimana bintang bekerja berasal dari pemahaman reaksi nuklir dan fusi," kata Testa, yang meneliti mekanisme pemanasan dan proses emisi sinar-X.

"Sebelum tahun 1930-an, salah satu gagasan utama tentang bagaimana bintang bekerja adalah bahwa energi datang hanya dari energi gravitasi," sambungnya.

Setelah astronom dan astrofisikawan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang fusi, mereka dapat menghasilkan model yang lebih lengkap, ditambah dengan data emisi yang diamati dari beberapa bintang.

"Dengan mengumpulkan banyak informasi berbeda dari banyak bintang yang berbeda, astronom dan astrofisikawan dapat membangun model tentang bagaimana bintang berevolusi. Ini memberi kita tebakan yang agak tepat tentang berapa umur matahari," jelas Testa.

Usia ini, sekitar 4,6 miliar hingga 4,7 miliar tahun, juga dikuatkan oleh penanggalan radioaktif dari meteorit tertua yang diketahui , yang terbentuk dari nebula surya yang sama, piringan gas dan debu yang berputar, yang memunculkan matahari dan benda-benda planet di sistem tata surya.

Berkat alat ini, para ilmuwan memiliki pemahaman yang baik tentang kapan cahaya Matahari pada akhirnya akan memudar dan padam.



Wednesday, February 2, 2022

Kisah Penciptaan Bumi dan Manusia-manusia Pertama di Dunia, Menurut Mitos Persia

Dewa paling tinggi dalam mitos Persia Ahura Mazda yang menciptakan dunia, dan Alborz Mo, pengunungan yang tumbuh 800 tahun hingga akhirnya mencapai langit. Dari sana hujan turun dan membentuk laut Vourukasha dan dua sungai utama. 

Binatang pertama di dunia adalah kerbau putih yang hidup di pinggir sungai Veh Rod, namun dewa jahat Persia, Angra Mainyu, membunuhnya. Bibitnya dibawa ke bulan dan dimurnikan, lalu terciptalah binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Di seberang sungai, hidup manusia pertama, Gayomard, bercahaya seperti matahari. Angra Mainyu juga membunuhnya. 

Matahari memurnikan bibitnya selama 40 tahun, kemudian tumbuh tanaman kelembak (tanaman dengan tangkai banyak air untuk dimasak). Tanaman ini tumbuh menjadi Mashya dan Mashyanag, manusia yang pertama. 

Dalam mitos agama Penyembah Api, pertempuran antara dewa paling tinggi Ahura Mazda dengan dewa jahat Angra Mainyu berlangsung selama 12.000 tahun. Dalam 3000 tahun pertama, dunia cemerlang Ahura Mazda dan dunia gelap Angra Mainyu bersama-sama eksis. Umat manusia paling awal juga digoda dan disesatkan oleh kejahatan dan kegelapan.

Angra Mainyu tidak membunuh Mashya dan Mashyanag seperti membunuh kerbau putih, namun ia menyesatkan mereka agar menyembah dia. 

Setelah 50 tahun, mereka melahirkan sepasang anak. Di bawah arahan sesat Angra Mainyu, sepasang suami istri itu memakan anaknya sendiri, hingga berdosa terhadapnya. Setelah itu dewa tertinggi Ahura mengembalikan sifat hakiki Mashya dan Mashyanag. Setelah itu makin banyak anak yang lahir, mereka akhirnya menjadi manusia yang paling awal.