Monday, March 28, 2022

Aksi Heroik Stanley Hollis, Prajurit yang Tak Bisa Dibunuh Nazi


 Perang Dunia II selalu melahirkan kisah-kisah kepahlawanan yang heroik, bahkan melampaui batas-batas keberanian yang normal.

Salah satunya adalah kisah seorang tentara Inggris, Stanley Hollis yang mendapat julukan sebagai "prajurit yang tak bisa dibunuh Nazi".

Hollis, sebenarnya merupakan seorang prajurit berpengalaman. Dia sudah bertempur di berbagai medan seperti Dunkirk, El Alamein, atau Sisilia.

Namun, di pendaratan Normandia 6 Juni 1944 yang berubah menjadi konflik bersenjata paling berdarah itu, Hollis mencatu Sisilia.

Di hari bersejarah itu, Hollis bersama resimen Green Howard yang dipimpinnya mendarat di Pantai Gold, yang menjadi pusat pendaratan Normandia. Sebagai prajurit berpengalaman, Hollis langsung memberikan teladan untuk anak buahnya. Dia berdiri paling depan dan maju ke arah barisan pertahanan Jerman tanpa rasa takut.

Setelah mendarat di Pantai Gold, Hollis dan pasukannya sukses mendaki sejumlah bukit Normandia dan melalui ladang ranjau tanpa jatuh korban.

Resimen pimpinan Hollis ini bertugas melumpuhkan sejumlah baterai meriam Jerman yang menembaki pendaratan pasukan Sekutu di pantai.

Saat pasukan kecil itu mendekati sasaran, tentara Jerman yang melihat kedatangan mereka langsung melepaskan tembakan gencar.

Di saat kemungkinan melaksanakan tugas dengan tuntas semakin kecil, Hollis menunjukkan keberanian yang luar biasa. Dia kemudian berdiri, berlari meliuk-liuk untuk menghindari tembakan sambil terus maju ke sasaran. Saat dia tiba di atas baterai Jerman, Hollis melemparkan granat ke dalam tempat itu. Alhasil seluruh tentara Jerman di dalamnya tewas dan meriam yang mematikan itu bisa dilumpuhkan.

Namun, tugas belum selesai. Masih ada satu baterai lagi yang terus memuntahkan peluru ke arah pantai. 

Tanpa pikir panjang, Hollis berlari ke baterai itu dan melakukan hal sama seperti yang dia lakukan sebelumnya.

Menurut sejumlah saksi mata dan keterangan rekan-rekannya, Hollis tak hanya sukses melumpuhkan dua baterai Jerman, tapi dia juga menewaskan 20 tentara Jerman seorang diri.

Dengan lumpuhnya kedua meriam itu, pendaratan di pantai menjadi semakin aman sehingga pasukan Sekutu bisa menduduki wilayah yang cukup luas di pantai.

Hanya tiga jam setelah aksi heroiknya itu, sang sersan kembali terlibat pertempuran melawan tentara Jerman.

Saat pasukan Sekutu bergerak ke arah desa-desa Perancis yang tak jauh dari pantai, gerakan mereka tertahan senapan mesin dan para sniper Jerman.

Delapan tentara Inggris sudah kehilangan nyawa dalam upaya melumpuhkan kubu pertahanan ini. Sementara dua tentara lagi terluka di antara kubu sekutu dan Jerman.

Resimen yang dipimpin Sersan Hollis kemudian melakukan serangan balik yang mampu memaksa Jerman menyetujui gencatan senjata yang langsung dimanfaatkan untuk menyelamatkan dua tentara Inggris yang terluka.

Reputasi Sersan Hollis terus dikenang di kemiliteran Inggris, angka 100 tentara Jerman yang dia bunuh selama Perang Dunia II dicatat.
Meski banyak dipuji Hollis tak pernah menganggi dirinya sebagai seorang pahlawan. Dia menganggap dirinya hanya sebagai orang yang beruntung.

"Jika saya tak ada di sana, maka orang lain akan melakukan hal-hal yang saya kerjakan," kata dia.

Pada 2014 setelah pendaratan Normandia, sebuah patung Stanley Hollis sedang dikerjakan di kampung halamannya di Middlesbrough.

Sayang Hollis tak bisa menyaksikan patung itu berdiri, sebab dia sudah meninggal dunia pada 1975.


 

Friday, March 25, 2022

Zona Aman, Cara Saturnus Menjaga Satelitnya Agar Tidak Terjatuh

 Saturnus memiliki 62 buah satelit alami. Mengingat banyaknya satelit yang dimiliki Saturnus, para ilmuwan pun bertanya-tanya
bagaimana ia menjaga satelit-satelitnya agar tidak terjatuh ke planet lain selama proses revolusi.

Masahiro Ogihara dari National Astronomical Observatory of Japan (NAOJ) dan Yuri Fujii dari Nagoya University berhasil menemukan jawabannya. Menurut mereka, ini dipengaruhi oleh gradien suhu yang terjadi di sekitar gas raksasa baru.

Ogihara dan Fujii menciptakan model baru cakram yang mengitari planet dengan distribusi suhu yang lebih nyata dengan mempertimbangkan berbagai sumber gas sekitar Saturnus. Kemudian mereka melakukan simulasi migrasi orbit satelit dengan mempertimbangkan tekanan dari cakram gas dan gravitasi satelit lainnya.
Dari hasil simulasi ini, mereka menemukan adanya zona aman yang mengandung gas yang lebih hangat di sekitar Saturnus. Zona ini membantu para satelit Saturnus terdorong menjauh dari planet lain.

Di tata surya, planet-planet raksasa seperti Saturnus, Jupiter, dan Uranus, dikelilingi oleh gas dan debu saat terbentuk pada masa awal kelahirannya, beberapa di antaranya bergabung menjadi bulan. Namun Titan pada Saturnus menjadi anomali yang tidak bisa dijelaskan yang terungkap dengan simulasi ini.

“Kami mendemonstrasikan untuk pertama kalinya bahwa sebuah sistem dengan satu bulan besar di sekitar planet raksasa bisa terbentuk,” kata Fujii. “Ini adalah poin penting untuk memahami asal usul Titan.”
Simulasi ini menandai penjelasan mengenai cara satelit seperti Titan juga dapat menghindari kematiannya dengan jatuh ke Saturnus.

“Akan sulit memeriksa apakah Titan benar-benar mengalami proses ini. Skenario kami dapat diverifikasi melalui penelitian satelit sekitar planet yang jauh dari Matahari. Jika banyak
exomoon
tunggal ditemukan, mekanisme pembentukan seperti itu akan menjadi masalah luar biasa,” kata Ogihara.

Thursday, March 24, 2022

Asal-Usul Oumuamua yang Disangka Kapal Alien Akhirnya Terjelaskan


Asal-usul Oumuamua akhirnya bisa terjelaskan. Objek interstellar atau antarbintang yang melewati Bumi pada 2017 itu pernah disangka sebagai kapal alien.

Nama Oumumua yang diberikan untuk objek aneh itu berasal dari bahasa Hawaii yang berarti "pengintai" atau "pembawa pesan". Sebab, objek itu diyakini telah melakukan perjalanan dari sistem bintang lain. inilah yang menjadikannya sebagai objek antarbintang pertama yang pernah terdeteksi.

Tapi objek apakah Oumuamua itu? Beberapa peneliti, termasuk astronom Harvard University Avi Loeb, mengemukakan bahwa benda itu adalah pesawat luar angkasa alien. Yang lain menduga itu adalah asteroid, atau mungkin komet antarbintang.

Kini, sepasang makalah yang telah diterbitkan di dalam jurnal American Geophysical Union menawarkan teori lain, yakni bahwa Oumuamua adalah pecahan dari sebuah planet kecil dari Tata Surya yang berbeda.

"Kami mungkin telah memecahkan misteri apa itu 'Oumuamua, dan kami dapat mengidentifikasinya sebagai bagian dari 'exo-Pluto', sebuah planet mirip Pluto di Tata Surya lain," kata Steven Desch, astrofisikawan di Arizona State Universitas yang menjadi salah satu peneliti dalam riset tersebut, seperti dilansir Business Insider.


Desch dan rekan-rekan penelitinya meyakini bahwa setengah miliar tahun yang lalu, sebuah benda luar angkasa menghantam planet induk Oumuamua. Kejadian tersebut kemudian melemparkan dan membawa Oumuamua menuju Tata Surya kita.

Begitu mendekati Matahari, menurut penjelasan mereka, Oumuamua bergerak makin cepat karena sinar Matahari menguapkan bagian es pada tubuhnya. Komet juga memiliki pola gerakan semacam itu, atau yang dikenal sebagai "efek roket".

Karena susunan material pada Oumuamua tidak diketahui, para peneliti menghitung jenis es apa yang akan menyublim (berubah dari padat menjadi gas) pada tingkat yang dapat menjelaskan efek roket Oumuamua. Mereka menyimpulkan bahwa objek tersebut kemungkinan besar terbuat dari es nitrogen, seperti permukaan Pluto dan bulan Neptunus, Triton.


Saat mendekati Tata Surya kita, dan berarti mendekayti Matahari, Oumuamua mulai melepaskan lapisan nitrogen bekunya. Benda itu memasuki Tata Surya kita pada tahun 1995, meskipun kita tidak menyadarinya pada saat itu, kemudian kehilangan 95 persen massanya dan mencair menjadi serpihan, menurut para peneliti iru.

Pada saat para astronom menyadari keberadaan Oumuamua pada tahun 2017, ia telah menjauh dari Bumi dengan kecepatan 315.431 kilometer per jam (196.000 mph). Jadi mereka hanya punya beberapa minggu untuk mempelajari benda aneh berukuran gedung pencakar langit itu.

Beberapa teleskop di Bumi dan satu di luar angkasa melakukan pengamatan terbatas pada Oumuamua saat objek terbang dan melayang di luar angkasa. Namun begitu, para astronom tidak dapat memeriksanya secara penuh. Oumuamua sekarang sudah terlalu jauh dan terlalu redup untuk diamati lebih jauh dengan teknologi yang ada.


Begitu sedikitnya informasi mengenai Oumuamua yang bisa dikumpulkan oleh para peneliti telah meninggalkan ruang bagi para ilmuwan untuk menawarkan hipotesis mengenai indentitas objek tersebut dan dari mana asalnya. Oumuamua awalnya diklasifikasikan sebagai komet, tetapi faktanya objek tersebut tidak mengeluarkan gas seperti komet.

Putaran, kecepatan, dan lintasan Oumuamua yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan teori gravitasi juga menunjukkan bahwa objek tersebut bukanlah asteroid. Selain itu, bentuk dan profil objek tersebut --panjangnya sekitar seperempat mil (402 meter) tetapi lebarnya hanya 34,75 meter (114 kaki)-- juga tidak cocok dengan bentuk komet atau asteroid mana pun yang pernah diamati sebelumnya.

Dari keunikan gerakannya itu, lalu muncullah teori bahwa Oumuamua adalah pesawat luar angkasa alien. Karena Oumuamua tampaknya berakselerasi atau memiliki percepatan dalam geraknya, bukannya melambat, astronom bernama Avi Loeb sempat berteori bahwa objek itu adalah pesawat luar angkasa alien.
Dalam sebuah buku yang diterbitkannya pada bulan Januari, berjudul Extraterrestrial: The First Sign of Intelligent Life Beyond Earth, Loeb menggambarkan Oumuamua sebagai bagian dari teknologi alien yang mati. Namun, sebuah studi pada tahun 2019 dari sekelompok astronom internasional yang menganalisis semua data Oumuamua yang tersedia, menyimpulkan bahwa teori Loeb tidak mungkin atau tidak masuk akal.

Maka kini, penjelasan sekelompok peneliti dalam studi terbaru tadi, tampaknya memang yang paling masuk akal dengan mengaitkan kecepatan unik gerakan Oumuamua dengan "efek roket". Selain itu, mereka juga memberi penjelasan bahwa bentuk unik Oumuamua dipengaruhi oleh komposisi nitrogen beku yang ada padanya.

"Saat lapisan luar es nitrogen menguap, bentuk tubuh akan semakin rata, seperti halnya sebatang sabun saat lapisan luar terkelupas saat digunakan," kata Alan Jackson, peneliti lainnya, dalam studi tersebut.

Jadi, dengan penjelasan terbaru ini, apakah masih ada yang percaya bahwa Oumuamua adalah kapal alien?

Wednesday, March 23, 2022

Temuan Lima Makam Kuno Dari 4.000 Tahun Lalu di Saqqara, Mesir


Temuan baru didapat dari situs arkeologi Saqqara, barat daya Kairo, Mesir. Kementrian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengumumkan penemuan lima makam kuno berusia 4.000 tahun.

Dilansir dari Xinhua, Kementrian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengungkapkan lima makam didapati sekitar 100 meter barat laut Piramida Merenre di Saqqara selatan. Makam-makam itu berisi beragam benda-benda yang berasal dari akhir Kerajaan Lama (2686 SM – 2181 SM) dan awal Periode Menengah Pertama (2181 SM hingga 2055 SM).

Makam pertama merupakan milik seorang negarawan senior bernama Iri. Makam itu memiliki terowongan yang mengarah ke ruang pemakaman. Di mana dindingnya menggambarkan pemakaman dengan meja persembahan, fasad istana dan tujuh pot minyak.

Di dalam makam terdapat sarkofagus batu kapur besar dan potongan ukiran kepunyaan pemilik makam. Makam kedua, kemungkinan milik istri seseorang bernama Yart dengan terowongan berbentuk persegi panjang.

Makam ketiga milik seseorang bernama Bi Nafarhafayi. Dia memegang beberapa posisi termasuk pengawas Rumah Agung, pendeta puji-pujian dan pembersih rumah.

Selanjutnya makam keempat ditemukan enam meter di bawah tanah. Makam ini peristirahatan terakhir Betty, seorang wanita yang bertanggung jawab atas tata rias dan pakaian raja. Dia adalah seorang pendeta Hathor, dewi cinta, kecantikan, musik, tarian, kesuburan dan kesenangan.
 

Terakhir ada makam seorang pria bernama Hannu dengan terowongan persegi panjang sepanjang tujuh meter. Pria ini memiliki gelar yang cukup banyak. Mulai dari pengawas istana kerajaan, walikota, pengawas Rumah Agung, pembawa stempel Mesir Hilir dan pengawas kebun buah.

Dalam pernyataan resminya pihak Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengucapkan terimakasih kepada tim yang terlibat atas segala upaya yang dilakukan. Misi arkeologi akan melanjutkan penggalian di situs tersebut untuk mengungkap lebih banyak rahasia. Diketahui kini mereka tengah bekerja untuk membersihkan makam-makam tersebut dan dokumentasi arkeologi sedang berlangsung.

Sementara itu, Saqqara telah menjadi pusat penemuan dalam beberapa tahun terakhir. Melansir Ancient Origins, Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengungkapkan ratusan peti mati berwarna dengan mumi yang diawetkan dari pejabat senior, imam ditemukan di sana. Selain itu, didapati pula mumi tokoh terkenal lainnya dari Dinasti ke-26 (atau periode dinasti Saite, tahun 664 hingga 525 SM).

Pada tahun 2020 lalu, ditemukan 100 peti mati manusia yang disegel, dan 40 statuta agung. Zahi Hawass, seorang Egyptologist dan mantan Menteri Negara Urusan Purbakala mengungkapkan pendapatnya tentang penemuan tersebut.

“Penemuan ini sangat penting karena membuktikan bahwa Saqqara adalah pemakaman utama dari Dinasti ke-26,” ujar Zahi Hawass.

Tempat ini juga bukan hanya sebuah lokasi untuk mengubur manusia. Mengilas balik ke tahun 2011, sebanyak 8 juta mumi hewan ditemukan di sebelah Kuil Anubis, dewa kematian dan mumifikasi. Smithsonian Magazine melaporkan Campbell Price dari Museum Manchester mengungkapkan bahwa Saqqara memiliki energi ilahi yang numinus yang akan membantu Anda masuk ke alam baka.

Bagaimanapun, pemakaman secara historis menjadi pusat pemujaan agama. Penguburan selanjutnya dimulai dengan makam rendah beratap datar yang disebut mastabas. Di bawah Firaun Psamtik dari Saites, yang memerintah antara 664 dan 610 SM, ritual dan kepercayaan tradisional berusaha dihidupkan kembali olehnya, dan ini menempatkan Saqqara kembali menjadi sorotan.

Popularitasnya meledak dan menjadi situs ziarah. Peziarah mulai bersaing dan berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat, yang akan sering diperebutkan melalui status sosial dan hubungan dengan raja.

Tuesday, March 22, 2022

Anjing Prasejarah Berusia 18 Ribu Tahun Ditemukan di Siberia dalam Keadaan Utuh


Mayat seekor anjing prasejarah membuat para ilmuwan kebingungan setelah itu ditemukan di permafrost Siberia. 

Anjing misterius yang diketahui baru berusia dua bulan ketika meninggal tersebut, diberi nama "Dogor", berarti "teman" dalam bahasa Yakut yang kerap digunakan di wilayah tersebut. 

Anjing ini ditemukan di sekitar sungai Indigirka di Siberia, timur laut Yakutsk. Saat ini, ia sedang dipelajari oleh Swedish Centre for Palaeogenetics (CPG). 

Baca Juga: Lebih Dari 800 Tulang Mamut Ditemukan di Situs Kuno Meksiko

Bagaikan 'kulkas alami', permafrost bisa menjaga kondisi anjing kuno tersebut dalam keadaan baik--lengkap dengan bulu, kumis dan giginya. Meski begitu, para peneliti belum mengetahui dengan pasti dari spesimen mana ia berasal. 

Yang pasti, anjing ini memiliki jenis kelamin laki-laki dan berusia sekitar 18 ribu tahun. Pengurutan genom belum mampu menentukan apakah itu serigala, anjing, atau nenek moyang keduanya. 


"CPG memiliki bank DNA terbesar di Eropa dan semua gigi taring dari seluruh dunia, tapi dalam kasus ini, mereka tetap belum bisa mengidentifikasi anjing tersebut," ungkap Love Dalén, profesor evolusi genetika di CPG. 

Manusia mulai menempati bagian utara Rusia sekitar 32.500 tahun lalu. Lebih lanjut, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa manusia memelihara anjing sekitar 10 ribu-40 ribu tahun lalu. Artinya, bisa saja Dogor merupakan anjing rumah tangga yang setia, serigala liar yang rakus atau di antaranya.
Permafrost menciptakan kondisi sempurna untuk mengawetkan material organik. Temperatur di bawah nol cukup untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur yang tidak akan membuat tubuh busuk.

Contoh menakjubkan lain dari penemuan satwa prasejarah yang terawetkan oleh permafrost adalah kepala serigala dari zaman es berusia 40 ribu di distrik Abyisky, Yakutia, pada tahun lalu. 

Sunday, March 20, 2022

Wanita Bangsa Celtic Terkubur Selama 2.200 Tahun dalam Peti Pohon


Sekitar 2.200 tahun yang lalu, di tempat yang sekarang menjadi Zürich, Swiss, sekelompok Iron Age Celts menjadikan sebuah pohon sebagai tempat peristirahatan seorang wanita. Dirinya mengenakan gaun wol domba yang halus, mantel kulit domba, juga selendang. Wanita tersebut memiliki postur tubuh yang tinggi.

Seperti yang dilaporkan City Office for Urban Development baru-baru ini, wanita tersebut berusia sekitar 40 tahun ketika dia meninggal. Dirinya mengenakan banyak aksesoris, termasuk kalung yang terbuat dari kaca dan amber, yang berwarna biru dan kuning. Dia juga mengenakan gelang perunggu dan rantai perunggu, yang dihiasi dengan liontin.

Berdasarkan analisis jenazahnya, para arkeolog berteori bahwa dia melakukan sedikit kerja fisik selama hidupnya. Dia pun menikmati diet makanan mengandung tepung dan makanan manis.

“Anehnya,” tulis Laura Geggel di Live Science, “Wanita tersebut dimakamkan di batang pohon yang dilubangi. Pohon tersebut masih memiliki kulit di bagian luarnya. Kenapa tidak menggunakan peti mati?”

Atas pernyataan yang langsung diterbitkan setelah temuan tersebut, para pekerja melakukan proyek konstruksi pada kuburan tersebut, di kompleks sekolah Kern di distrik Aussersihl, Zürich. Meskipun situs ini dianggap penting secara arkeologis, sebagian besar penemuan sebelumnya berasal dari abad ke-6 Masehi.

Terdapat kuburan seorang pria Celtic yang ditemukan di kampus, pada tahun 1903. Kuburan ini berjarak 260 kaki dari kuburan wanita sebelumnya. Sama seperti kuburan wanita tersebut, pria pada kuburan ini menunjukkan tanda-tanda kedudukan sosial yang tinggi. Dia mengenakan pakaian prajurit lengkap,  memegang pedang, perisai, dan tombak.

Mengingat fakta bahwa keduanya dimakamkan sekitar 200 SM, Office for Urban Development mengatakan bahwa sangat mungkin keduanya saling mengenal. Para peneliti meluncurkan penilaian komprehensif  pada 2017, tentang kuburan tersebut, segera setelah penemuan.

Selama dua tahun terakhir, para arkeolog telah mendokumentasikan, menyelamatkan, melestarikan dan mengevaluasi berbagai barang yang ditemukan di makam. Mereka juga melakukan pemeriksaan fisik terhadap jenazah wanita tersebut, dan melakukan analisis isotop pada tulang-tulangnya.

Penilitian yang dilakukan, menghasilakan gambaran yang akurat tentang wanita tersebut beserta daerahnya. Analisis isotop mengungkapkan bahwa wanita tersebut dibesarkan di lembah Limmat Zürich. Kemungkinan dia dimakamkan di wilayah yang sama dengan tempat tinggalnya.

Para arkeolog sebelumnya, telah menggali bukti tentang pemukiman Bangsa Celtic di wilayah yang sama, yang berasal dari abad ke-1 SM. Para peneliti yang telah melakukan analisis percaya bahwa, pria dan wanita tersebut sebenarnya merupakan warga dari pemukiman kecil, yang terpisah. Belum ditemukan pula lokasi pemukiman kecil tersebut.


Saat ini, Celtic sering dikaitkan dengan Kepulauan Inggris. Pada kenyataannya, mereka lebih luas dari yang dikira. Dalam laporan Adam H. Graham untuk majalah Afar, Klan Celtic membentang di sebagian besar Eropa, menuju ke Austria, Swiss dan daerah lain di utara perbatasan Kekaisaran Romawi.

Bangsa Celtic bukanlah satu kesatuan kerajaan atau kekaisaran, melainkan kumpulan suku dengan bahasa yang berbeda. Bangsa Celtic akhirnya dikalahkan oleh Romawi, dipimpin oleh Julius Caesar, dalam perang Galia yang berlangsung selama 8 tahun.

 

Saturday, March 19, 2022

Anubis, Julukan Fosil Paus Purba Mesir yang Bisa Berjalan di Darat


Mesir tak selalu tentang Sungai Nil, kerajaan kuno ribuan tahun sebelum masehi, dan gurun yang tandus. Ratusan juta tahun yang lalu, sebagian dataran di negeri Firaun itu adalah bagian dari samudera prasejarah Tehthys.
2008 lalu, para paleontolog yang dipimpin paleontolog vertebrata Egyptian Environmental Affairs Agency Mohamed Sameh Atar melakukan ekspedisi di kawasan Cekungan Fayum, daerah di tengah Mesir yang dikenal dengan banyak fosil biota laut dari zaman Eosen. Tetapi, beberapa terdapat fosil yang belum diidentifikasi.

Barulah, lewat penelitian terbaru Antar bergabung dalam penelitian yang mengidentifikasi temuannya itu sebagai paus akuatik dari 43 juta tahun yang lalu. Mereka memberikan nama latinnya sebagai Phiomitecus anubis, yang diadopsi dari nama dewa kematian Mesir kuno karena sifatnya yang mematikan.

Para peneliti mempublikasikan penelitiannya di Proceeding of the Royal Society B: Biological Sciences, Rabu (25/08/2021). Penelitian mereka berjudul A new protocetid whale offers clues to biogeography and feeding ecology in early cetacean evolution.



Paus purba itu ditemukan dengan panjang tiga meter, dan diyakini bisa berjalan di darat dan berenang di air. Paus ini diyakini buas karena memiliki otot rahang yang kuat yang memungkinkan untuk mudah mengunyah mangsa, seperti buaya dan mamalia kecil, hingga spesies paus kecil lainnya.

"Selama sekitar 10 juta tahun, nenek moyang paus berubah dari mamalia darat herbivora, mirip rusa, menjadi cetacea karnivora dan sepenuhnya akuatik," tulis penelitian yang dipimpin Abdullah Gohar. Dia adalah paleontolog di Mansoura University dan peneliti di Egyptian Environmental Affairs Agency.

"Protocetids adalah paus Eosen yang mewakili tahap semiakuatik yang unik dalam transformasi evolusioner yang dramatis itu."
Gohar dan tim menganalisis kumpulan fosil itu, seperti potongan tengkorak, rahang, gigi, tulang belakang, dan rusuknya. Mereka menemukan bahwa P. anubis yang teliti ini beratnya mencapai 600 kilogram, dan merupakan jenis paus paling awal di Afrika dibandingkan dengan kelompok paus semiakuatik protocetids lainnya.

P. anubis ini memiliki fitur yang paling primitif. Para peneliti memaparkan, ada fitur anatomi baru dan strategi makan yang baru diketahui. Misalnya, paus purba ini meemimiliki gigi seri dan taring yang berguna untuk menangkap, melemahkan.


Paus ini juga bisa menahan mangsa yang lebih cepat seperti ikan, dan kinerjanya masih belum dipahami. Para peneliti meyakini, mangsa tersebut akan dipindahkan ke gigi pipi untuk dikunya menjadi potongan-potongan kecil dan ditelan.

"Fitur unik dari tengkorak dan mandibula menunjukkan kapasitas untuk pemrosesan mekanik oral yang lebih efisien daripada kondisi khas protocetid, sehingga memungkinkan gaya makan raptorialnya kuat," tulis Gohar dan tim.


Selain itu, otot-otot besar di kepalanya dapat memberi paus itu tenaga gigitan yang kuat, yang memungkinkannya untuk menangkap mangsa yang besar dalam gertakan dan gigitan.

"Kami menemukan betapa rahangnya yang begitu ganas, mematikan, dan kuat mampu merobek berbagai mangsa," kata Gohar, dikutip dari LiveScience.

Menurut Hesham Sallam, anggota lain dalam penelitian dari Mansoura University, paus purba ini menimbulkan pertanyaan seperti seperti apa ekosistem purba di Mesir, bagaimana asal-usulnya, dan bagaimana koeksistensinya paus purba bisa muncul di Mesir.

Friday, March 18, 2022

Kota Tenggelam Thonis-Heracleion, Temuan Kapal dan Kuburan Mesir Kuno


Nationalgeographic.co.id—European Institute for Underwater Archaeology (IEASM) melakukan penggalian di bawah laut, tepatnya di teluk Abu Qir di Alexandria, Mesir. Tim IEASM yang terdiri atas peneliti Mesir dan Prancis, menemukan sisa-sisa kapal militer buatan Mesir Kuno dan kompleks pemakaman bawah air di kota yang tenggelam, Kota Heracleion.

Mostafa Waziry, General Secretary of Egypt’s Supreme Council of Antiquities, mengumumkan penemuan sisa-sisa kapal militer di kota Thônis-Heracleion yang tenggelam. Kota tersebut menyisakan balok-balok besar kuil Amun yang terkenal pada abad kedua SM.

Pada masa itu, kapal angkatan laut sedang bersandar pada kanal di sisi selatan kuil. Kemudian terjadi peristiwa bencana yang menghancurkannya. Puing-puing dari kapal tersebut tenggelam di dasar kanal bersama dengan puing-puing kuil.

Ayman Ashmawy, Kepala Egyptian Antiquities Sector di Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, mengatakan, "Kapal tersebut terdeteksi di bawah tanah liat keras sepanjang hampir 5 meter. Ia bercampur dengan puing-puing kuil berkat prototipe elektronik yang canggih," demikian Ancient Archaeology melansir.
Arkeolog Prancis, Franck Goddio menunjukkan bahwa penemuan kapal dari abad ke-2 masih sangat langka, dengan satu-satunya contoh adalah Kapal Punic Marsala. Berdasarkan perspektif arkeologis, kapal-kapal Helenistik jenis ini sama sekali tidak dikenal sebelumnya.

Ehab Fahmy, kepala Central Department of Underwater Antiquities, mengatakan bahwa studi sebelumnya menunjukkan lambung kapal ini dibangun dalam tradisi klasik. Ia masih mengandalkan sambungan tanggam dan duri yang panjang dan struktur internal yang berkembang dengan baik.
Pada saat yang sama, kapal ini juga menampilkan teknik konstruksi Mesir kuno. Bentuknya berupa kapal dayung yang sama-sama dilengkapi dengan layar yang besar, terbukti dari komponen kapalnya yang cukup besar. 


Kapal panjang ini memiliki bagian dasar kapal yang datar. Hal ini cukup menguntungkan dalam melakukan navigasi, baik di Sungai Nil maupun di dalam delta (tanah endapan pada muara sungai).


Terdapat beberapa ciri khas kapal buatan Mesir kuno. Ia memiliki tanda menggunakan kayu yang pernah digunakan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kapal tersebut dibangun di Mesir. Dengan panjang lebih dari 25 meter, ia memiliki rasio panjang-lebar mendekati enam banding satu.

Di kota tenggelam yang ditemukan, terdapat sebuah tumulus (gundukan kuburan) yang membentang di sepanjang pintu masuk kanal  bagian timur laut. Temuan ini mengungkapkan sisa-sisa area pemakaman Yunani yang besar. Semuanya diselimuti dengan persembahan yang mewah.

Penemuan ini dengan indah menggambarkan keberadaan para saudagar Yunani yang tinggal di kota tersebut. Mereka mengendalikan pintu masuk ke Mesir di muara cabang Kanopi Sungai Nil. Mereka berasal dari tahun-tahun awal abad keempat SM.



 

Thursday, March 17, 2022

Sebuah studi yang dipimpin Stanford University mengungkapkan bahwa alih-alih berkembang secara bertahap selama ratusan juta tahun, tanaman darat ternyata mengalami diversifikasi besar dalam dua ledakan dramatis. Evolusi tanaman darat tersebut terpisah 250 juta tahun. Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal Science belum lama ini.

Pada penelitian tersebut, para peneliti menggunakan metode baru untuk mengukur evolusi tanaman dan mengungkapkan bahwa setelah permulaan tanaman berbiji awal, kompleksitas terhenti selama 250 tahun. Ledakan kedua kemudian terjadi saat diversifikasi tanaman berbunga sekitar 100 juta tahun yang lalu.
Penelitian ini menggunakan metrik baru namun sederhana untuk mengklasifikasikan kompleksitas tanaman berdasarkan susunan dan jumlah bagian dasar dalam struktur reproduksinya. Sementara para ilmuwan telah lama berasumsi bahwa tanaman menjadi lebih kompleks dengan munculnya biji dan bunga. Studi tersebut telah menawarkan wawasan tentang waktu dan besarnya perubahan tersebut.

"Hal yang paling mengejutkan adalah stasis semacam ini, kompleksitas dataran tinggi ini (terjadi) setelah evolusi awal benih dan kemudian perubahan total yang terjadi ketika tanaman berbunga mulai berdiversifikasi," kata penulis utama studi Andrew Leslie  kepada Stanford Earth Matters magazine. Dia merupakan Assistant Professor of Geological Sciences di Stanford's School of Earth, Energy & Environmental Sciences (Stanford Earth).

Peneliti menjelaskan, bunga lebih beragam daripada setiap kelompok tanaman lainnya, menghasilkan warna, bau, dan bentuk yang memberi makan hewan dan menyenangkan indra. Mereka juga rumit dengan kelopak, kepala sari, dan putik terjalin dalam pengaturan yang tepat. Hal itu untuk memikat penyerbuk dan menipu mereka agar menyebarkan serbuk sari dari satu bunga ke bunga lainnya.


Kompleksitas ini menyulitkan para ilmuwan untuk membandingkan tanaman berbunga dengan tanaman dengan sistem reproduksi yang lebih sederhana, seperti pakis atau beberapa tumbuhan runjung. Akibatnya, ahli botani telah lama berfokus pada karakteristik dalam kelompok keluarganya dan biasanya mempelajari evolusi pada tanaman yang tidak berbunga secara terpisah dari kerabat mereka yang berbunga lebih rumit.


Leslie dan rekan penulisnya mengatasi perbedaan ini dengan merancang sistem yang mengklasifikasikan jumlah bagian yang berbeda dalam struktur reproduksi berdasarkan pengamatan saja. Setiap spesies dinilai menurut berapa banyak jenis bagian yang dimilikinya dan sejauh mana ia menunjukkan pengelompokan bagian-bagian itu. Mereka mengkategorikan sekitar 1.300 spesies tumbuhan darat dari sekitar 420 juta tahun yang lalu hingga saat ini.

"Ini menceritakan kisah yang cukup sederhana tentang evolusi reproduksi tanaman dalam hal bentuk dan fungsi. Semakin banyak fungsi yang dimiliki tanaman dan semakin spesifik, semakin banyak bagian yang mereka miliki. Ini adalah cara berpikir yang berguna tentang perubahan skala luas yang mencakup seluruh sejarah tanaman," kata Leslie.

Ia menambahkan, ketika tanaman darat pertama kali terdiversifikasi di awal Devon sekitar 420 juta hingga 360 juta tahun yang lalu, Bumi adalah dunia yang lebih hangat tanpa pohon atau hewan vertebrata darat. Arakhnida seperti kalajengking dan tungau berkeliaran di tanah di antara tanaman pendek yang tidak rata. Dan organisme darat tertinggi adalah jamur setinggi 20 kaki yang menyerupai batang pohon.


Setelah periode Devon, perubahan besar terjadi di kerajaan hewan. Hewan darat berevolusi untuk memiliki ukuran tubuh yang besar dan makanan yang lebih bervariasi, serangga yang beragam, kemudian dinosaurus muncul. Akan tetapi, tanaman tidak melihat perubahan besar dalam kompleksitas reproduksi sampai mereka mengembangkan bunga.

"Satu hal yang kami perdebatkan dalam makalah ini adalah bahwa klasifikasi ini hanya mencerminkan keragaman fungsional mereka. Mereka pada dasarnya membagi pekerjaan mereka agar lebih efisien dalam melakukan apa yang perlu mereka lakukan," kata Leslie.

Tuesday, March 15, 2022

Ilmuwan Identifikasi Kekuatan Baru di Balik Kepunahan Massal Masa Lalu


Sekelompok ilmuwan mengidentifikasi kekuatan tambahan yang kemungkinan berkontribusi pada peristiwa kepunahan massal 250 juta tahun lalu. Hasil analisis mineral dari Tiongkok selatan yang mereka kerjakan menunjukkan bahwa letusan-letusan gunung berapi telah menghasilkan "musim dingin vulkanik" yang secara drastis menurunkan suhu bumi.

Menurut para ilmuwan tersebut, perubahan akibat letusan gunung berapi ini telah menambah efek kerusakan lingkungan yang dihasilkan dari fenomena lain pada saat itu. Laporan hasil studi mereka ini telah diterbitkan di jurnal Science Advances.

Studi mereka ini meneliti kepunahan massal Permian akhir atau end-Permian mass extinction (EPME), yang merupakan peristiwa kepunahan paling parah dalam 500 juta tahun terakhir. Peristiwa kepunahan massal ini telah memusnahkan 80 hingga 90 persen spesies di darat dan di laut.

"Ketika kami melihat lebih dekat pada catatan geologis pada saat kepunahan besar, kami menemukan bahwa bencana lingkungan global akhir Permian mungkin memiliki banyak penyebab di antara spesies laut dan non-laut," kata Michael Rampino, seorang profesor di Departemen Biologi New York University sekaligus salah satu penulis laporan studi ini, seperti dilansir EurekAlert.

Selama beberapa dekade, para ilmuwan telah menyelidiki apa penyebab bencana ekologis global ini, dengan banyak menunjuk pada penyebaran banjir besar lava di wilayah yang dikenal sebagai Perangkap Siberia (Siberian Traps). Ini adalah wilayah besar batuan vulkanik di provinsi Siberia Rusia.

Letusan lava ini menyebabkan tekanan lingkungan, termasuk pemanasan global yang parah dari pelepasan karbon dioksida vulkanik dan pengurangan terkait oksigenasi air laut. Peristiwa oksigenasi air laut inilah yang menyebabkan hewan-hewan di laut mati lemas .

Tim ilmuwan yang terdiri dari lebih dari dua lusin peneliti, termasuk para ilmuwan dari Nanjing University dan New York University di Tiongkok serta National Museum of Natural History dari Smithsonian Institution dan Montclair State University, mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap peristiwa kepunahan massal Permian akhir itu yang membentang dari 300 juta hingga 250 juta tahun yang lalu.


Secara khusus, mereka menemukan mineral dan deposit terkait di tanah di wilayah Tiongkok selatan, terutama tembaga dan merkuri, yang usianya bertepatan dengan periode kepunahan massal Permian akhir di daerah non-laut. Secara khusus, endapan ini ditandai oleh anomali dalam komposisinya yang kemungkinan disebabkan oleh emisi kaya belerang dari letusan-letusan gunung berapi di dekatnya. Endapan ini tertutupi oleh lapisan abu vulkanik.

"Aerosol atmosfer asam sulfat yang dihasilkan oleh letusan-letusan itu mungkin menjadi penyebab pendinginan global yang cepat beberapa derajat, sebelum pemanasan parah terlihat di seluruh interval kepunahan massal Permian akhir," jelas Rampino.

Temuan tim peneliti ini menunjukkan bahwa letusan-letusan vulkanis di Siberian Traps bukanlah satu-satunya penyebab kepunahan massal Permian akhir. Studi mereka menunjukkan bahwa efek lingkungan dari letusan-letusan di Tiongkok Selatan, dan di tempat-tempat lain, mungkin telah memainkan peran penting dalam punahnya banyak spesies selama periode tersebut.

Monday, March 14, 2022

Seorang Petinggi Mesir Mengklaim Temukan Makam Alexander Agung


Seorang petinggi Mesir telah mengklaim bahwa ia memiliki bukti yang cukup kuat bahwa makam Alexander Agung berada di Siwa, Mesir. Kabar ini dilansir dari Egypt Independent.

Laporan tersebut mengatakan bahwa Mohamed Omran, direktur Departemen Pariwisata Siwa, “mengumumkan bukti yang menunjukkan potensi penemuan makam alexander Agung mungkin berada di daerah Marai.”
Omran mengatakan bahwa antara tahun 1995 dan 1996 sebuah kuil ditemukan di daerah yang diyakini sejarawan bisa mejadi sebuah pentunjuk tentang makam Alexander Agung. Omran juga mengumumkan penemuan sebuah kuil yang bisa membawa para ilmuwan kembali ke era Yunani dan Romawi tepatnya tiga tahun lalu.


Penting untuk dicatat bahwa bukti yang diklaim Omran belum diverifikasi. Makam Alexander Agung dianggap sebagai salah satu "Cawan Suci" penemuan arkeologi dan dikatakan telah ditemukan beberapa kali di masa lalu, dan tidak pernah ada seorangpun yang benar-benar menemukannya.

Kita harus menunggu dan melihat apakah Siwa benar-benar tempat dimakamkannya pemimpin Yunani yang hebat itu, dan jika ya, itu akan menjadi hari penting dalam sejarah. Alexander Agung adalah salah satu tokoh paling agung dalam sejarah— dan keberadaan makamnya akan menarik perhatian sejarawan dan arkeolog di seluruh dunia.

Kisah Alexander Agung

Alexander III, "Basileus dari Makedonia", "Hegemon Liga Hellenic", "Shahanshah" dari Persia, "Firaun" Mesir dan "Lord of Asia" — lebih dikenal sebagai Alexander Agung — adalah salah satu tokoh paling penting dalam sejarah manusia.

Lahir di Pella, di Makedonia Tengah modern, utara Yunani, pada 356 SM, ia adalah putra dari Raja Philip II, sang Raja Makedonia dan istrinya, Olympias. Tetapi Alexander bukanlah pewaris tahta kerajaannya. Dia menjadi terkenal pada usia yang sangat dini karena kemampuan militer dan politiknya.


Alexander, yang namanya dalam bahasa Yunani (Alexandros) berarti "pembela manusia", tahu sebagai putra seorang raja bahwa takdirnya sudah tertulis, menempatkannya di garis depan sejarah.

Inilah sebabnya, ketika dia masih remaja, dia mulai dibimbing oleh salah satu orang Yunani yang paling disegani, raksasa filsafat dan sains, Aristoteles.

Karena pendidikannya mencakup filsafat, politik, etika, dan sains, Alexander jelas tidak dibesarkan untuk menjadi seorang pejuang saja, tetapi seorang pemimpin yang bijaksana bagi manusia dan masyarakat.

Nasib mendiktekan bahwa, setelah pembunuhan ayahnya ketika Alexander baru berusia dua puluh tahun, dia tidak hanya akan mengambil alih Kerajaan Makedonia tetapi juga jabatan jenderal Liga perang Yunani.

Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya Philip II dari Makedonia telah berhasil menyatukan sebagian besar Negara-kota Yunani, mendesak mereka untuk mengatasi ancaman Persia sebagai front yang bersatu dan kokoh. Alexander tanpa rasa takut mengambil tanggung jawab besar ini setelah kematian ayahnya, dan memulai perjalanan besar Hellenes ke Timur.

Pemimpin terbaik sepanjang sejarah manusia

Ribuan tentara mengikutinya. Apa yang sekarang menjadi negara-negara modern Turki, Suriah, Israel, Mesir, dan seluruh dunia Arab modern, menjadi Yunani dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Dalam beberapa tahun yang singkat, Alexander telah menaklukkan semua jalan timur ke perbatasan barat India.

Pertempuran demi pertempuran, pertarungan demi pertarungan, Alexander dan anak buahnya tidak hanya mampu mengalahkan banyak musuh saat menaklukkan Kekaisaran Achaemenid yang luas, tetapi juga membangun status quo baru yang akan membuatnya dihormati masyarakat setempat. Pada saat yang sama, tuan-tuan Yunani akan memperkenalkan ke dalam kehidupan sehari-hari mereka dan unsur-unsur budaya dari cara berpikir dan bertindak Yunani.

Rencana awal Alexander termasuk penaklukan hingga seluruh wilayah Timur. Tercatat dalam sejarah bahwa ia menyatakan visinya adalah untuk benar-benar mencapai "akhir dunia". Namun kampanye militer panjang Alexander akhirnya membuat anak buahnya menuntut dia kembali ke tanah air tercinta Yunani.

Alexander dengan bijak akhirnya mendengarkan para perwira dan anak buahnya, yang pernah tunduk untuk mengikutinya ke arah timur, dan dengan enggan dia memulai perjalanan panjangnya pulang dari perbatasan India saat itu.

Rencananya menyerukan agar kota Babel menjadi ibu kota baru dari kerajaannya yang luas. Tapi Takdir tidak mengindahkan rencana muluk sang penakluk.

Alexander, pada usia yang sangat muda, 33 tahun, tiba-tiba jatuh sakit parah; hingga saat ini penyebab penyakitnya masih menjadi misteri. Hanya dalam beberapa hari, tubuhnya yang kuat mengkhianatinya, dan dia meninggal di tempat tidurnya.

Saturday, March 12, 2022

Septimius Severus: Bagaimana Orang Afrika Bisa Menjadi Kaisar Romawi?


Sejarah mencatat Septimius Severus adalah orang Afrika pertama yang menjabat sebagai Kaisar Romawi. Dengan haus akan kekuasaan, ia memerintah Kekaisaran Romawi hampir 2.000 tahun yang lalu, mendeklarasikan dirinya sebagai Kaisar setelah Pertempuran Lugdunum yang definitif pada tahun 197 Masehi.

Terobsesi dengan mimpi mendirikan Dinasti Severn, di akhir hidupnya ia memimpin invasi mengerikan ke Kaledonia (Skotlandia modern), berbaris ke utara Tembok Hadrian yang terkenal dengan pasukan besar dalam upayanya untuk menyatukan pulau Britania di bawah Romawi. Dia akhirnya meninggal di York, setelah gagal mencapai tujuannya dan dikhianati oleh putranya sendiri Caracalla.

Septimius Severus dilahirkan dalam keluarga terkemuka dan kaya dari raja minyak zaitun di Leptis Magna, di tempat yang sekarang menjadi wilayah Libya, pada tahun 145 Masehi. Para pengunjung peninggalan Romawi di Leptis Magna dapat mengagumi Lengkungan Septimius Severus (Arch of Septimius Severus) yang masih berdiri sampai sekarang dan merupakan monumen yang dilindungi UNESCO.

Rasa lapar Severius untuk sukses membawanya dari Afrika ke Roma pada tahun 161. Di Roma, kenalannya memberinya akses ke jajaran senator yang kuat.

Dilansir Ancient Origins, orang yang telah berbicara dan merekomendasikan Septimius Severus kepada Kaisar Romawi saat itu, Marcus Aurelius, adalah kerabatnya yang bernama Gaius Septimius Severus. Gaius langsung merekomendasikan Severus ke Kaisaran Romawi ketika Severus pertama kali tiba di Roma.

Severus naik dengan cepat melalui berbagai jabatan negara, yang dikenal sebagai cursus honorum. Pada tahun 170 ia memperoleh kekuatan politik yang diinginkannya dengan diterima di Senat. Dia diangkat sebagai Legatus, posisi senior dalam Legiun Romawi.

Paccia Marciana, istri pertama Severus, juga berasal dari kota yang sama, Leptis Magna. Pernikahan mereka berlangsung selama lebih dari sepuluh tahun, sampai Marciana tiba-tiba meninggal pada tahun 186 karena sebab yang wajar.

Septimius Severus adalah orang yang percaya pada seni astrologi dan sangat berhati-hati untuk mengikuti setiap pertanda dari dunia roh. Setelah mendengar ramalan, Septimius Severus menikahi Julia Domna pada tahun 187, seorang bangsawan kaya yang lahir di Emesa di Suriah, saat menjabat sebagai Gubernur Romawi di Gaul di kota yang sekarang dikenal sebagai Lyon di Prancis. Bersama-sama mereka memiliki dua putra, Caracalla dan Geta, yang meyakinkan Severus tentang awal Dinasti Severn.

Merebut Kekuasaan dan Menjadi Kaisar Romawi

Pada tahun 191 Kaisar Romawi Commodus menunjuk Septimius Severus untuk menjabat sebagai Gubernur Pannonia Superior yang terletak di sepanjang perbatasan dengan Sungai Danube. Namun, tahun berikutnya Commodus sendiri dibunuh dan penggantinya, Publius Helvius Pertinax, menjadi kaisar berikutnya. Masa pemerintahan Pertinax hanya berlangsung 86 hari sebelum dia dibunuh oleh Praetorian Guard pada tahun 193.

Tahun berikutnya kemudian tercatat dalam sejarah sebagai "Tahun Lima Kaisar". Pada periode ini ada lima orang yang mengklaim gelar Kaisar Romawi, termasuk Severus.

Severus mengamankan kekuasaannya pada Pertempuran Lugdunum yang terjadi pada Februari 197, melawan Clodius Albinus, salah satu saingannya. Dalam pertempuran terbesar dalam sejarah Romawi ini, dengan total 150.000 prajurit, Severus mendapatkan reputasinya sebagai prajurit yang kejam setelah membantai para pemberontak dalam kemenangan yang luar biasa.

Setelah pertempuran, kepala Albunus dipenggal dan dikirim ke Roma. Dan begitulah sang prajurit dari Libya itu kemudian bisa mendatangi Roma dengan kepala tegak. Dengan kedok sebagai prajurit yang sukses membalas kematian Pertinax, Severus kemudian diproklamasikan sebagai Kaisar Romawi oleh para senator.

Dalam satu gerakan, Septimius Severus menjadi orang paling kuat di dunia, dan orang Afrika pertama yang menjadi Kaisar Kekaisaran Romawi. Wilayah Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaannya membentang dari Timur Tengah hingga Atlantik, dan dari Afrika hingga Britania di utara.

Selama lima belas tahun pertama pemerintahannya, ia menumpas musuh-musuh Romawi, mengamankan perbatasan-perbatasan Kekaisaran Romawi. Keinginannya akan kemuliaan kemudian membawanya lebih jauh ke utara.

Saat memasuki usia enam puluhan tahun, Septimius Severus sangat ingin mengamankan legasinya. Ia pada akhirnya menyatukan pulau Britania di bawah kekuasaan Romawi, mengalahkan orang-orang barbar Kaledonia dan para pejuang bukit yang telah memberontak melawan Romawi di sepanjang perbatasan Tembok Hadrian.

Meskipun usianya dan kesehatannya menurun, ia tetap mengumpulkan kekuatan militernya dari banyak sudut Kekaisaran Romawi dan berbaris di Skotlandia dalam skala yang belum pernah terlihat sebelumnya. Pada tahun 208, Severus memimpin 40.000 tentara Romawi bersama putranya Caracalla yang saat itu menjadi rekan kaisarnya.

Pasukan tentara yang sangat besar ini adalah contoh nyata dari kekuatan multikultural Romawi, termasuk para pemanah Suriah dan kavaleri Spanyol. Selama berbulan-bulan, dalam kondisi tubuh yang sudah tua dan tidak sehat,  Severus dibawa melalui lanskap Skotlandia untuk mencari musuhnya karena pasukannya menderita serangan gerilya saat mereka berbaris melalui wilayah asing.

Pada tahun 209, Severus berada di dekat Aberdeen bersama putranya yang tidak sabar, Caracalla, saat musim dingin mulai mendekat. Legenda mengatakan bahwa Caracalla berusaha membunuh ayahnya, tetapi tidak berhasil. Tidak mau mengakui kekalahan dari serangan gerilya lawan, Kaisar Severus mengeluarkan koin yang mengklaim kemenangannya melawan para pemberontak.

Merasa lelah dan dikhianati, Severus akhirnya menuju selatan melintasi Tembok Hadrian dan kembali ke York. Di kota itulah akhirnya ia mengembuskan napas terakhirnya karena usia dan kesehatannya yang makin memburuk.

Menurut Cassius Dio, Severus merekomendasikan putra-putranya yang meneruskan takhtanya untuk menghindari kerusuhan dengan mengindahkan nasihatnya untuk "bersikap baik satu sama lain, memperkaya tentara, dan mengutuk sisanya." Sayangnya, mereka tidak memperhatikannya.

Setelah kematian ayah mereka pada Februari 211, dan pemakamannya yang mewah, Caracalla dan Geta kembali ke Roma. Meskipun kedua saudara itu seharusnya memerintah bersama, persaingan mereka menyebabkan pembunuhan berdarah Geta di tangan saudaranya pada tahun yang sama, dengan Geta diduga sekarat di tangan ibunya.

Caracalla sendiri dibunuh pada tahun 217 oleh seorang tentara yang tidak puas. Impian Severus tentang Britania Romawi yang bersatu dan Dinasti Severn yang bertahan lama tidak pernah terwujud.





 

Friday, March 11, 2022

Temuan Ragam Artefak Dekat Lokasi Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022


Beragam artefak berusia ratusan tahun ditemukan dekat lokasi Olimpiade Musim Dingin 2022. Festival olahraga itu tahun ini diselenggarakan di Beijing, Tiongkok, mulai tanggal 4 hingga 20 Februari mendatang.

Penemuan artefak bersejarah sendiri berlokasi di Zhangjiakou, provinsi Hebei, yang berjarak 180 kilometer barat laut Beijing. Kota Zhangjiakou menjadi tempat diselenggarakannya pertandingan ski, ski gaya bebas, hingga snowboarding di Olimpiade Musim Dingin ini.

China Daily melaporkan orang-orang di desa Taizicheng, distrik Chongli, Kota Zhangjiakou, mengatakan nama desa yang berarti kota putra mahkota ini berasal dari mitos bahwa bangsawan pernah tinggal di sana. Pada tahun 1970-an, peneliti arkeologi mengidentifikasi situs kuno di sana dengan sejarah yang berasal dari dinasti Liao (916 – 1125 M) dan Jin (1115 – 1234 M).

Karena situs tersebut terletak di Chongli, area kompetisi Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade Musim Dingin yang akan datang, penggalian arkeologi aktif dimulai pada tahun 2017 dan selesai tahun 2020. Sebuah pameran yang menunjukkan hasil penggalian arkeologi dibuka pada 31 Desember lalu.

Dilansir dari Ancient Origins, Zhang Wenrui, dekan Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Hebei mengatakan kepada Global Times bahwa penemuan istana merupakan kejutan besar bagi para arkeolog Tiongkok. Kala itu, tim arkeologi merekomendasikan agar tempat Olimpiade yang menempati tiga perempat reruntuhan Taizicheng dipindahkan. Akhirnya, tempat untuk perhelatan besar olahraga dibangun di sebelah timur situs dan di seberang jalan dari reruntuhan.

“Pihak dari Komite Penyelenggara Beijing 2022 memberi tahu kami bahwa pemindahan itu mendapatkan pujian dari Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach,” kata Huang Xin, kepala tim arkelogogi situs dan wakil dekan Institut Peninggalan Budaya dan Arkeologi Provinsi Hebei kepada Global Times.

Zhang juga mengungkapkan tim yang menjelajahi reruntuhan awalnya meyakini bahwa itu hanyalah beberapa bangunan tua dan tidak berharga. Namun yang terjadi setelahnya mereka menemukan keramik dan bahan-bahan bangunan yang tidak ternilai harganya serta fitur arsitektur yang menonjol.

Sisa-sisa peninggalan masa lalu yang ditemukan antara lain 67 fondasi bangunan dan 14 jalanan, selain parit dan tembok kota. Ada juga porselen Ding-ware berlapis putih, bagian dari patung kepala naga, dan keramik lainnya. Kemungkinan besar para arkeolog menemukan Istana Taihe yang dibangun sebagai kediaman musim panas kaisar Dinasti Jin, Wanyan Jing yang pemerintahannya berlangsung dari tahun 1189 hingga 1208 M.

Penemuan menjadi semakin lebih penting karena ini adalah kompleks istana Dinasti Jin pertama yang pernah ditemukan. Istana tersebut merupakan lokasi terpenting kedua pada masa itu, setelah ibu kota Yanjing (Beijing) yang dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Wanyan Liang dari dinasti yang sama.

Karena situs dan lokasi Olimpiade Musim Dingin hanya dipisahkan oleh jalan raya, besar harapan pameran tersebut dapat dilihat oleh atlet yang berpartisipasi. Sehingga menambah pengetahuan mereka tentang budaya negara tuan rumah.

“Kami berharap beberapa atlet asing yang berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin, sesuai dengan persyaratan pencegahan dan pengendalian pandemi, dapat mengunjungi pameran dengan persetujuan IOC, sehingga mereka dapat menikmati dan belajar lebih banyak tentang sejarah dan budaya Tiongkok,” pungkas Huang Xin.





 

Wednesday, March 9, 2022

Bintang & Planet Pelarian

 


Para Ilmuwan telah melihat beberapa bintang yang terlempar atau seperti ditembakkan jauh keluar dari tempat asalnya dengan kecepatan yang luarbiasa besar. Peristiwa ini biasanya terjadi karena perubahan gravitasi (yang 'memeluk' bintang tersebut) secara tiba tiba. Perubahan gravitasi bisa disebabkan karena perubahan bintang pasangannya yang bisa saja meledak menjadi supernova, atau hilang tertangkap oleh sebuah lubang hitam. Bintang yang 'terlempar' ini disebut bintang pelarian (Runaway Star)

Dalam sistem bintang ganda, sebuah bintang dapat menjadi supernova lebih dulu dari bintang pasangannya, menyebabkan bintang pasangannya tersebut terlempar menjauh dari tempatnya berasal. Contoh kasus ini terjadi pada bintang di bawah ini.
Foto yang menakjubkan diatas adalah dari Wide-field Infrared Survei Explorer(WISE), NASA , sebuah bintang terang terlihat di tengah foto. Bintang ini disebut Zeta Ophiuchi, terletak 458 tahun cahaya dari Bumi (dan 20-kali massa matahari kita) dalam konstelasi Ophiuchus

Mengapa Zeta Ophiuchi begitu istimewa? Ini bintang pelarian, berjalan dengan kecepatan sangat tinggi yaitu 87.000 kilometer per jam (atau 24 kilometer per detik). Dan bagaimana bintang ini bisa mencapai kecepatan tinggi (lebih cepat dari peluru)?

PENJELASAN

Bintang Zeta Ophiuchi yang massif ini mungkin dulunya adalah satu dari sepasang bintang yang membentuk sistem biner. Bintang pasangan Zeta Ophiuci diperkirakan telah meledak sebagai supernova. Jadi, seperti martil yang berputar cepat di Olimpiade, bintang maharaksasa biru ini diperlakukan seperti martil, dibebaskan dari pelukan gravitasi saudaranya yang meledak dalam sekejap. Pada saat ledakan, momentum orbital bintang ini menembaknya ke luar angkasa dengan kecepatan tinggi.

WISE, dengan mata inframerahnya yang kuat, dapat melihat sebuah konsekuensi dari ledakan bintang melalui debu antar bintang dan gas. Busur kemerahan di sekitar bintang adalah BOW SHOCK (bukan bosok dalam bhs jawa); yaitu angin bintang yang kuat dari Zeta Ophiuchi bertabrakan dengan medium antarbintang, menyebabkan pemanasan, sehingga cahaya inframerah WISE dapat melihatnya.

dengan melihat posisi bow shock, anda dengan mudah menentukan kearah mana Zeta Ophiuci berjalan. yaitu ke arah kiri atas dari foto. kalau ada planet yang berpenghuni dijalan bintang ini, penghuni planet tersebut harus segera mengungsi ke planet lain


Dapat juga terjadi, terlemparnya salah satu bintang pada sistem biner karena terlalu dekat dengan black hole, sebuah bintang bisa tertangkap oleh blackhole dan oleh karena itu pasangannya terlempar ke luar dengan kecepatan yang sangat luarbiasa besarnya. Bintang dengan kecepatan orde 1000 km/detik disebut bintang hypervelocity.


Para ilmuwan juga telah melihat sebuah bintang yang terlempar keluar dari galaksi kita dengan kecepatan 1,5 juta mil per jam - dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika bintang pelarian tersebut memiliki planet?

Para peneliti mensimulasi apa yang akan terjadi jika bintang pelarian memiliki sebuah atau dua buah planet yang mengorbit pada nya. Dalam simulasi, mereka menemukan bahwa bintang yang terlontar keluar bisa membawa planet-planetnya "lari" bersamanya - dan planet-planet bintang yang lain bisa 'terlempar' ke luar sendirian.

Para ilmuwan menemukan bahwa ketika sistem bintang kembar menyimpang terlalu dekat dengan lubang hitam supermasif di pusat galaksi kita, planet planetnya akan 'terlempar' ke luar angkasa

Bintang kedua, yang ditangkap oleh lubang hitam, bisa saja planet-planetnya tercabik atau terlempar ke dalam kegelapan dingin ruang antar bintang dengan kecepatan yang luar biasa. Inilah yang disebut planet pelarian atau karena kecepatannya sangat tinggi (terlontar karena lubang hitam) juga disebut planet hypervelocity. 

Sebuah planet hypervelocity terlempar ke luar dengan kecepatan 7 sampai 10 juta mil per jam. Namun, sebagian kecil dari mereka bisa mendapatkan kecepatan lebih tinggi dalam kondisi ideal.

Instrumen saat ini tidak dapat mendeteksi sebuah planet hypervelocity yang sendirian karena mereka redup, jauh, dan sangat langka. Namun, para astronom akan bisa melihat sebuah planet yang mengorbit sebuah bintang hypervelocity.

Sebuah bintang hypervelocity, untuk membawa sebuah planet ber'lari' bersamanya, planet tersebut harus berada dalam orbit ketat. Sehingga untuk melihat planet hypervelocity akan sangat besar kemungkinannya, yaitu sekitar 50%.

Akhirnya planet hypervelocity akan melarikan diri dari galaksinya dan bergerak melalui kekosongan ruang antar galaksi.


Bagaimana jika kita berada dalam planet hypervelocity ini? Perlu dicatat, selain partikel subatomik, tidak ada benda yang pernah manusia ketahui memiliki kecepatan sebesar itu.

Membaca penelitian mengenai bintang-bintang pelarian, mengingatkan penulis akan sebuah ayat:

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
(QS 67:5)

Apakah bintang-bintang hypervelocity inilah yang dimaksudkan oleh ayat ini? Ataukah ilmu pengetahuan manusia belum cukup dan masih terlalu jauh untuk dapat menafsirkan ayat tersebut?