Tuesday, May 31, 2022

Ngeri, Lebah Ini Suka Makan Bangkai Ketimbang Mengisap Nektar Bunga


Sebuah pedalaman Kosta Rika, Amerika Tengah, rupanya ada spesies lebah yang tak biasa. Nama lebah tersebut ialah lebah hering. Berbeda dengan lebah pada umumnya yang vegetarian, namun serangga ini merupakan karnivora dan memiliki gigi.

Sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal mBio berjudul “Why did the bee eat the chicken? Symbiont Gain, Loss, and Retention in the Vulture Bee Microbiome” menggali lebih dalam terkait lebah hering atau lebah nasar (namanya seperti burung pemakan bangkai).

Penyelidikan mengungkapkan bahwa serangga ini berbagi konstituen mikrobioma usus dengan burung pemakan bangkai. Adaptasi tersebut mengungkapkan bagaimana lebah-lebah ini telah mengembangkan rasa dan toleransi seperti itu terhadap bangkai yang membusuk.

Hal ini membuktikan bahwa lebah nasar hampir mirip dengan burung nasar. Dalam studi ini, para peneliti mengumpulkan 159 lebah yang memakan serbuk sari, bangkai, atau sedikit dari keduanya, yang berjumlah 17 spesies dari sembilan genus. Mereka sebagian besar dikumpulkan dari stasiun lapangan La Selva dan Las Cruces di Kosta Rika dengan menggunakan bangkai dan ayam sebagai umpan.

Para peneliti menyaksikan lebah hering berbondong-bondong memakan daging yang dijadikan umpan dan melihat hal yang aneh. "Mereka memiliki keranjang ayam kecil," kata Quinn McFrederick, ahli entomologi UCR seperti dikutip IFL Science.

Lebah nasar menyimpan daging di dalam kantong, seperti bagaimana lebah pemakan serbuk sari menyimpan temuan mereka untuk mencari makan. Lebah ini sangat unik karena mereka dianggap sebagai satu-satunya lebah di dunia yang telah berevolusi untuk menggunakan sumber makanan yang tidak diproduksi oleh tanaman,” papar Doug Yanega, ahli entomologi UC Riverside.

Mikrobioma usus lebah hering mungkin lebih menonjol dibandingkan dengan lebah madu, dan lebah tanpa sengat yang perutnya mengandung lima mikroba inti yang sama. Ini telah menjadi mode bagi lebah selama sekitar 80 juta tahun evolusi. Jadi, apakah lebah hering kita melawan tren?

Para peneliti kemudian membandingkan mikrobioma usus pemakan serbuk sari, pemakan daging, dan omnivora. Setelah diidentifikasi, penulis penelitian menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara diet yang berbeda.

“Mikrobioma lebah hering diperkaya dengan bakteri yang menyukai asam, yang merupakan bakteri baru yang tidak dimiliki kerabat mereka,” kata McFrederick.

"Bakteri ini mirip dengan yang ditemukan pada burung nasar yang sebenarnya, serta hyena dan pemakan bangkai lainnya, mungkin untuk membantu melindungi mereka dari patogen yang muncul di bangkai. Ini bukan satu-satunya perbedaan yang mengejutkan,” sambungnya.


“Meskipun mereka tidak bisa menyengat, mereka tidak semuanya tidak berdaya, dan banyak spesies yang benar-benar tidak menyenangkan,” tambah Yanega.

“Mereka berkisar dari spesies yang benar-benar tidak berbahaya hingga banyak yang menggigit, hingga beberapa yang menghasilkan sekresi penyebab lepuh di rahang mereka, menyebabkan kulit meletus menjadi luka yang menyakitkan.”

Terlepas dari makanannya yang gurih dan perilakunya yang tidak enak, madu lebah hering dilaporkan masih dapat dimakan dan sebenarnya manis.

Pedang Langka, Falcata yang Berusia Ribuan Tahun Ditemukan oleh Polisi


Pedang langka berusia lebih dari 2.000 tahun yang dijarah telah ditemukan oleh seorang polisi Spanyol yang melacaknya sebelum dijual secara daring. Pedang dikenal dengan nama falcata ini diperkirakan berasal dari abad pertama hingga ketiga sebelum Masehi.

Dilansir dari The Guardian, falcata merupakan pedang melengkung bermata dua yang digunakan oleh orang Iberia antara abad pertama hingga kelima SM. Peninggalan masa lampau ini disita bersama 202 potongan artefak lainnya. Pihak Kepolisian Nasional Spanyol menyebutkan benda-benda ini dijual pada salah satu situs media sosial populer.

Falcata sangat diburu saat kondisi bilahnya masih dalam bentuk asli. Karena falcata merupakan senjata pribadi, pedang ini cenderung dikubur bersama pemiliknya dan bilahnya sengaja dibengkokkan serta dipukul agar tidak digunakan orang lain. Namun, temuan yang satu ini menjadi menarik dan tidak biasa karena memiliki bilah utuh.

Kepolisian Nasional Spanyol memulai penyelidikan setelah petugas menemukan seorang pengguna media sosial telah mengunggah keberadaan falcata Iberia jarahan dengan gagang kepala burung. Pihak berwajib lalu melakukan berbagai upaya, mulai dari mengonfirmasi keberadaan pedang, menentukan lokasi dan mengambil benda tersebut.

"Tim penyidik berhasil melacak orang yang menawarkannya untuk dijual. Pelaku merupakan warga negara Spanyol yang tinggal di provinsi Jaén," kata Kepolisian Nasional Spanyol kepada The Guardian.

Bilah falcata yang tidak rusak, secara signifikan meningkatkan harganya. Selain itu, petugas juga menemukan sejumlah potongan artefak lain seperti, anak panah, perhiasan dan pecahan keramik. Benda-benda yang ditemukan di tempat kejadian perkara telah disita. Pria yang mencoba menjualnya ditahan atas dugaan penyelewengan dan pelanggaran warisan sejarah.

Menurut Museum Arkeologi Nasional Spanyol, falcata merupakan pedang multifungsi yang dapat digunakan untuk memotong dan menusuk. Senjata efisien dan kompleks ini sering kali memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan kekayaan juga status sosial sang empunya. Pada laman resminya pihak museum melaporkan bahwa proses desain lengkap digunakan untuk mendefinisikan dan menyesuaikan falcata dengan kebutuhan penggunanya.

Sebelumnya, falcata juga pernah ditemukan di Spanyol, pada akhir 2012. Kala itu, pedang kuno ini didapat dari pengerjaan pembangunan pengolahan limbah Ciudad Real. Dilansir dari Elespanol pedang langka ini merupakan kepunyaan dari tokoh yang sangat menonjol di kalangan elit Oretan Oppidum (kota yang dikelilingi benteng khas zaman besi) di Alarcos, kota besar orang-orang Iberia di Ciudad Real.

Pria penguasa yang juga merupakan seorang pejuang ini wafat pada sekitar abad kedua SM saat berusia masih terbilang muda, antara 20 hingga 30 tahun. Jenazahnya dikremasi, abunya dimasukkan ke dalam sebuah wadah lalu dikubur bersama dengan benda-benda tipikal "kuburan kaya" umumnya pada saat itu. Adapun benda-benda yang ditemukan di makamnya antara lain perisai gagang besi, ujung tombak, ikat pinggang, dan yang paling spektakuler adalah falcata kepunyaannya.

"Ini (falcata) adalah karya luar biasa karena dekorasinya yang beragam untuk representasi ikonografi, terdapat gagang yang berakhir di kepala kucing dengan rahang terbuka. Hal tersebut menandakan betapa pentingnya si empunya pedang ini," jelas José Ignacio de la Torre Echávarri selaku direktur museum.

Falcata yang merupakan salah satu koleksi penting institusi tersebut kembali dipamerkan setelah melalui serangkaian proses restorasi. Tujuan dari proses ini adalah untuk memperlambat proses oksidasi dan deteriorasi yang mengkhawatirkan. Pada saat ditemukan, kondisi pedang tersebut terbilang cukup baik, tidak bengkok dan hanya ada retak. Artefak kemudian dipamerkan di museum pada etalase artefak penting disandingkan dengan artefak lainnya dari Alarcos.

Monday, May 30, 2022

Tata Surya Kita Mungkin Dikelilingi oleh Struktur Seperti Terowongan


—Sebuah penelitian astronom Universitas Toronto telah menunjukkan bahwa tata surya kita ini dikelilingi oleh terowongan magnetik yang dapat dilihat dalam bentuk gelombang radio.

Jennifer West, seorang rekan peneliti di Institut Dunlap untuk Astronomi & Astrofisika, baru-baru ini menemukan sebuah kasus ilmiah bahwa dua struktur terang yang terlihat di sisi berlawanan dari langit—yang sebelumnya dianggap terpisah—sebenarnya terhubung dan terbuat dari filamen seperti tali. Sambungan itu membentuk apa yang tampak seperti terowongan di sekitar tata surya kita.

Data hasil penelitian West tersebut telah diterbitkan dalam Astrophysical Journal pada 01 Oktober 2021 yang berjudul A Unified Model for the Fan Region and the North Polar Spur: A bundle of filaments in the Local Galaxy.

Jika kita melihat ke langit," kata West, "kita akan melihat struktur seperti terowongan ini di hampir semua arah yang kita lihat—yaitu, jika kita memiliki mata yang bisa melihat cahaya radio." ujarnya.

Kedua struktur ini dikenal sebagai 'North Polar Spur' dan 'The Fan Region.' Hubungan keduanya akan tampak seperti terowongan di sekitar tata surya. Para astronom telah mengetahui tentang dua struktur ini selama beberapa dekade. Tetapi sebagian besar penjelasan ilmiah berfokus pada mereka secara individual. West dan rekan-rekannya, sebaliknya, merasa yakin bahwa ia dan timnya adalah astronom pertama yang menghubungkan mereka sebagai satu unit.

Struktur yang panjangnya sekitar 1000 tahun cahaya ini, terdiri dari partikel bermuatan dan medan magnet. Terletak sekitar 350 tahun cahaya dari kita, di mana strukturnya berbentuk seperti tali yang panjang.

"Itu setara dengan jarak perjalanan antara Toronto dan Vancouver dua triliun kali," kata West.



West telah memikirkan fitur-fitur ini selama 15 tahun, sejak dia pertama kali melihat peta langit radio. Kemudian, dia membangun model komputer yang dapat menghitung seperti apa langit radio dari Bumi saat dia memvariasikan bentuk dan lokasi tali panjang. Model tersebut memungkinkan West untuk "membangun" struktur di sekitar kita, dan menunjukkan padanya seperti apa langit melalui teleskop kita. Perspektif baru inilah yang membantunya mencocokkan model dengan data.

“Beberapa tahun yang lalu, salah satu rekan penulis kami, Tom Landecker, memberi tahu saya tentang makalah dari tahun 1965, dari hari-hari awal astronomi radio. Berdasarkan data kasar yang tersedia saat ini, penulis (Mathewson & Milne) berspekulasi bahwa sinyal radio terpolarisasi ini dapat muncul dari pandangan kita tentang Lengan Lokal Galaksi, dari dalamnya.” kata West sebagaimana yang dilansir Tech Explorist.

"Makalah itu mengilhami saya untuk mengembangkan ide ini dan mengaitkan model saya dengan data yang jauh lebih baik yang diberikan teleskop kami hari ini." sambungnya.

Untuk lebih menjelaskan hal ini, West menggunakan peta Bumi sebagai contoh. Kutub Utara ada di atas, dan Khatulistiwa berada di tengah – tetapi tentu saja, kita selalu dapat menggambar ulang peta itu dengan perspektif yang berbeda. Hal yang sama juga berlaku untuk peta galaksi kita.

"Kebanyakan astronom melihat peta dengan kutub utara galaksi di atas dan pusat galaksi di tengah. Bagian penting yang mengilhami ide ini adalah membuat ulang peta itu dengan titik berbeda di tengahnya." kata West.

Dr. Bryan Gaensler, seorang profesor di Institut Dunlap dan penulis studi tersebut, berkata, “Ini adalah pekerjaan yang sangat cerdas. Ketika Jennifer pertama kali menyampaikan ini kepada saya, saya pikir itu terlalu ‘luar biasa’ untuk menjadi penjelasan yang mungkin. Tapi dia akhirnya bisa meyakinkan saya! Sekarang saya senang melihat bagaimana reaksi komunitas astronomi lainnya.”


Seorang ahli magnetisme di galaksi dan medium antarbintang, West menantikan lebih banyak penemuan yang mungkin terkait dengan penelitian ini.

"Medan magnet tidak ada dalam isolasi. Mereka semua harus terhubung satu sama lain. Jadi, langkah selanjutnya adalah untuk lebih memahami bagaimana medan magnet lokal ini terhubung baik ke medan magnet galaksi skala besar, dan juga ke medan magnet skala kecil matahari dan Bumi kita." ujar West.

Sementara itu, West setuju bahwa model "terowongan" baru ini tidak hanya membawa wawasan baru bagi komunitas sains, tetapi juga konsep terobosan bagi kita semua.

"Saya pikir itu luar biasa untuk membayangkan bahwa struktur ini ada di mana-mana setiap kali kita melihat ke langit malam." pungkasnya.

Sunday, May 29, 2022

Gelombang Radio dari Bintang yang Jauh Mengungkap Planet Tersembunyi


 Berkat bantuan antena radio paling kuat di dunia, para ilmuwan telah menemukan bintang-bintang yang secara tak terduga meledakkan gelombang radio, yang mungkin mengindikasikan keberadaan planet-planet tersembunyi.

Dr. Benjamin Pope dari University of Queensland dan rekan-rekannya di observatorium nasional Belanda ASTRON telah mencari planet menggunakan teleskop radio paling kuat di dunia Low Frequency Array (LOFAR) yang terletak di Belanda.

"Kami telah menemukan sinyal dari 19 bintang katai merah jauh, empat di antaranya paling baik dijelaskan oleh keberadaan planet yang mengorbitnya," kata Dr Pope.

Temuan Dr. Pope ini telah diterbitkan dalam Astrophysical Journal Letters pada 11 Oktober 2021 yang berjudul The TESS View of LOFAR Radio-emitting Stars.

Melansir Tech Explorist, Dr. Pope menjelaskan, "Kami sudah lama mengetahui bahwa planet-planet di tata surya kita memancarkan gelombang radio yang kuat ketika medan magnetnya berinteraksi dengan angin matahari, tetapi sinyal radio dari planet-planet di luar tata surya kita belum terdeteksi.”


"Penemuan ini merupakan langkah penting bagi astronomi radio dan berpotensi mengarah pada penemuan planet di seluruh galaksi," ujar Pope.

Sebelumnya, para astronom hanya mampu mendeteksi bintang-bintang terdekat dalam emisi radio yang stabil, dan segala sesuatu yang lain di langit radio adalah gas antarbintang, atau eksotika seperti lubang hitam.

Kini, astronom radio dapat melihat bintang tua biasa ketika mereka melakukan pengamatan, dan dengan informasi itu, kita dapat mencari planet apa pun yang mengelilingi bintang-bintang tersebut.

Tim fokus pada bintang katai merah, yang jauh lebih kecil dari Matahari dan diketahui memiliki aktivitas magnet yang kuat yang mendorong suar bintang dan emisi radio. Akan tetapi beberapa bintang tua yang tidak aktif secara magnetis juga muncul, menantang pemahaman konvensional.

Dr. Joseph Callingham di Leiden University, ASTRON, dan penulis utama penemuan tersebut, mengatakan, “Tim yakin bahwa sinyal-sinyal ini berasal dari hubungan magnetis bintang-bintang dan planet-planet tak terlihat yang mengorbit, serupa dengan interaksi di antara mereka. Jupiter dan bulannya, Io.”

"Bumi kita sendiri memiliki aurora, umumnya dikenal di sini sebagai cahaya utara dan selatan, yang juga memancarkan gelombang radio yang kuat—ini berasal dari interaksi medan magnet planet dengan angin matahari," katanya.

"Namun dalam kasus aurora dari Jupiter, mereka jauh lebih kuat karena bulan vulkaniknya Io meledakkan material ke luar angkasa, mengisi lingkungan Jupiter dengan partikel yang mendorong aurora yang sangat kuat. Model kami untuk emisi radio dari bintang-bintang kami ini adalah versi Jupiter dan Io yang ditingkatkan, dengan sebuah planet yang diselimuti medan magnet bintang, memasukkan material ke dalam arus besar yang juga memberi daya pada aurora terang,” jelasnya.


Tim peneliti sekarang ingin memastikan bahwa planet yang dimaksud tersebut memang ada.

"Ini adalah tontonan yang telah menarik perhatian kita dari jarak bertahun-tahun cahaya. Kita tidak dapat 100 persen yakin bahwa empat bintang yang kita pikir memiliki planet memang adalah inang planet, tetapi kita dapat mengatakan bahwa interaksi planet-bintang adalah penjelasan terbaik untuk apa yang kita lihat. Pengamatan lanjutan telah mengesampingkan planet yang lebih masif dari Bumi, tetapi tidak ada yang mengatakan bahwa planet yang lebih kecil tidak akan melakukan ini,” kata Pope.

Penemuan yang didapat dari LOFAR hanyalah sebuah permulaan, tetapi teleskop hanya memiliki kapasitas yang dapat memantau bintang-bintang relatif dekat saja, hingga 165 tahun cahaya.

Dengan teleskop radio Square Kilometer Array Australia dan Afrika Selatan yang masih dalam tahap pembangunan, mudah-mudahan dapat segera diaktifkan pada tahun 2029 nanti. Jika teleskop ini sudah aktif, tim memperkirakan mereka akan dapat melihat ratusan bintang yang relevan ke jarak yang jauh bahkan lebih jauh lagi.

Temuan seperti ini telah mengungkapkan kepada kita bahwa astronomi radio berada di puncak revolusi pemahaman kita tentang planet-planet di luar tata surya kita.

Misteri Liang Purba yang Diduga Berusia Semiliar Tahun Terpecahkan


Misteri liang-liang hewan purba yang semula dikira berusia lebih dari 1 miliar tahun akhirnya terpecahkan. Para ilmuwan awalnya bingung bagaimana liang-liang purba di Western Australia itu bisa 400 juta tahun lebih tua dari hewan-hewan paling awal yang ada dalam catatan fosil.

Sebuah analisis baru menunjukkan bahwa liang-liang itu ternyata dibuat jauh lebih baru daripada yang diperkirakan sebelumnya. Lubang-lubang ini awalnya diperkirakan berumur 1,2 miliar tahun.

"Itu dua kali lebih tua dari hewan yang diketahui dalam catatan fosil," ujar Stefan Bengtson dari Museum Sejarah Alam Swedia, seperti dikutip dari New Scientist.

Bengston dan rekan-rekannya telah menganalisis kembali batuan berusia 1,7 miliar tahun di West Mount Barren di pantai Western Australia di mana liang-liang itu digali. Liang-liang tersebut memiliki lebar sekitar 15 hingga 20 milimeter dan kedalaman 15 sentimeter. Liang-liang itu pertama kali dianalisis 20 tahun yang lalu.

Para peneliti pada saat itu menentukan bahwa batuan yang membentuk liang-liang tersebut telah mengeras 1,2 miliar tahun yang lalu. Jadi liang-liang itu seharusnya dibuat pada periode sebelum itu. Di sisi lain, hewan-hewan pada jutaan tahun kemudian diyakini tak akan mampu menembus batu kuarsit yang keras itu yang pada dasarnya tidak mungkin dilakukan.

Namun Bengtson dan timnya menemukan bahwa partikel-partikel kuarsit yang membentuk liang-liang tersebut menunjukkan bukti pelapukan yang begitu banyak. Hal ini menyebabkan selama sekitar lima hingga 10 juta tahun, bebatuan itu akan mudah untuk digali. Pelapukan tersebut menyebabkan batuan tersebut berubah menjadi batu pasir yang rapuh.


"Ini tidak terlalu umum, tetapi itu terjadi, terutama di iklim panas dan lembab," kata Bengtson.

Dengan membandingkan sampel dengan batuan dan fosil lain di daerah tersebut, dan penanggalan uranium-timbal dengan mineral-mineral yang ditemukan di liang-liang tersebut, tim memperkirakan lubang-lubang itu dibuat 40 hingga 50 juta tahun yang lalu.

Tim menemukan bahwa batu pasir itu kemudian mengeras karena kondisi daerah yang kering. Hal ini memberi kesan bahwa liang-liang tersebut telah dibuat jauh lebih awal dari yang sebenarnya.

Tim tidak yakin hewan-hewan tertentu apa yang menggali lubang-lubang itu, karena liang-liang tersebut terlihat berbeda tergantung pada sedimen tempat lubang-lubang itu dibuat. Namun Bengtson mengatakan hewan-hewan itu kemungkinan besar adalah krustasea.

Anthony Shillito dari University of Oxford di Inggris mengatakan ini adalah misteri yang perlu dipecahkan. "Fakta bahwa para penulis studi sekarang telah menunjukkan bahwa liang-liang itu kemungkinan besar hanya berusia 50 juta tahun, jauh lebih cocok dengan pemahaman kita saat ini tentang evolusi hewan-hewan awal," katanya.

Laporan studi terkait liang-liang tersebut telah terbit di jurnal PNAS baru-baru ini. Laporan studi itu bertajuk "Eocene animal trace fossils in 1.7-billion-year-old metaquartzites".

Saturday, May 28, 2022

Spesies Berang-berang Tidak Dikenal Sebelumnya Ditemukan di Jerman


Para peneliti yang berasal dari Universitas Tübingen dan Zaragoza telah berhasil menemukan fosil spesies berang-berang yang sebelumnya tidak diketahui dari strata berusia 11,4 juta tahun di situs fosil Hammerschmiede.

Situs penggalian di wilayah Allgäu Jerman ini menjadi terkenal di dunia pada tahun 2019 ketika ditemukannya fosil dari kera bipedal bernama Danuvius guggenmosi. Kini, spesies baru dari berang-berang tersebut diberi nama Vishnuonyx neptun, yang berarti berang-berang Wisnu Neptunus. Genus berang-berang Wisnu sebelumnya hanya diketahui dari Asia dan Afrika.

Laporan mengenai temuan ini sudah dipublikasikan di Journal of Vertebrate Palaeontology pada 16 September 2021 dengan judul New early late Miocene species of Vishnuonyx (Carnivora, Lutrinae) from the hominid locality of Hammerschmiede, Bavaria, Germany.

Tim peneliti saat ini sedang melakukan penggalian di Hammerschmiede di bawah pimpinan Profesor Madelaine Böhme dari Senckenberg Center for Human Evolution and Palaeoenvironment di University of Tübingen. Mereka telah berhasil memulihkan lebih dari 130 spesies vertebrata yang punah dari endapan sungai yang dihubungkan dengan Guenz Kuno. Banyak dari spesies ini telah beradaptasi terhadap lingkungan hidupnya baik di dalam ataupun di sekitar air.

Namun, temuan spesies berang-berang Wisnu di wilayah Bavaria merupakan hal yang tak terduga. Sebab, telah diketahui bahwa genus dari spesies ini sebelumnya hanya berasal dari daerah luar Eropa saja.

Satu dari enam spesies mamalia pemangsa saat ini hidup di wilayah perairan, baik di laut, seperti anjing laut, ataupun di air tawar, seperti berang-berang. Dalam sejarah evolusi, dari sejumlah 13 spesies berang-berang saat ini masih belum banyak diketahui. Salah satunya adalah berang-berang Wisnu. Berang-berang ini merupakan predator berukuran sedang yang memiliki bobot 10 hingga 15 kilogram. Spesies ini pertama kali ditemukan di kaki pegunungan Himalaya. Mereka pernah hidup sekitar 14 hingga 12,5 juta tahun yang lalu mendiami wilayah sungai-sungai besar di Asia Selatan.


“Penemuan terbaru ini menunjukkan bahwa berang-berang Wisnu mencapai Afrika Timur sekitar 12 juta tahun yang lalu,” kata Dr. Nikolaos Kargopoulos, ahli paleontologi dari Departemen Geosains di Eberhard Karls University of Tübingen, dan rekan-rekannya, seperti yang dilaporkan oleh Sci News.

“Penemuan ini adalah bukti pertama bahwa mereka juga terjadi di Eropa – kemungkinan telah menyebar dari India ke seluruh Dunia Lama.” tutur Kargopoulos.

Ia juga menambahkan, “Penyebarannya yang sangat besar lebih dari 6.000 km melintasi tiga benua dimungkinkan oleh situasi geografis 12 juta tahun yang lalu.”

Pegunungan yang baru terbentuk dari Pegunungan Alpen di barat hingga Pegunungan Elbrus Iran di timur telah memisahkan cekungan laut besar dari Samudra Tethys, yang merupakan cikal bakal dari Laut Tengah dan Samudra Hindia. Kondisi ini juga telah menciptakan Paratethys, yaitu perairan Eurasia yang luas membentang dari Wina hingga melampaui Laut Aral saat ini di Kazakhstan. Pada 12 juta tahun yang lalu, ia hanya memiliki hubungan sempit dengan Samudra Hindia, yang disebut Selat Araks di wilayah Armenia modern.


“Kami berasumsi bahwa Vishnuonyx neptuni mengikuti hubungan ini ke barat dan mencapai Jerman selatan, Guenz Kuno, dan Hammerschmiede melalui delta yang muncul dari Danube Kuno di sebelah barat yang sekarang menjadi kota Wina.” kata Kargopoulos.

Dengan menggunakan metode tomografi komputer, para ilmuwan juga memvisualisasikan detail paling halus dalam struktur gigi fosil. Tampak ujung yang terlihat runcing, bagian seperti pisau pemotong, dan area penggilingan yang terbatas, menunjukkan bahwa diet makanan yang utama didasarkan pada ikan.

“Kami menyimpulkan bahwa Vishnuonyx neptuni memiliki selera makan terutama pada ikan dan lebih sedikit pada bivalvia atau bahan tanaman, menyerupai berang-berang raksasa hidup Pteronura brasiliensis.” ujar Kargopoulos.

Secara ekologis, berang-berang Wisnu Neptunus ini lebih mirip dengan berang-berang Eurasia daripada berang-berang laut Pasifik ataupun berang-berang tanpa cakar Afrika dan Asia. Kedua kelompok ini lebih memilih krustasea atau kerang daripada ikan dalam menu makanan mereka.

Thursday, May 26, 2022

Gempa Meksiko Ungkap Keberadaan Kuil Aztec Berusia Seribu Tahun


Gempa bumi dengan kekuatan 7.1 skala Richter yang mengguncang Meksiko pada September 2017, menyebabkan kerusakan dan menewaskan 369 orang. Namun, minggu lalu, arkeolog mengumumkan bahwa gempa tersebut mengarahkan mereka kepada kuil kuno tersembunyi.

Kuil itu berada di dalam piramida ganda di situs kuno Teopanzolco, yang jika diterjemahkan namanya berarti “di kuil tua atau yang ditinggalkan”. Situs tersebut berlokasi 43 mil dari selatan Mexiko City.

Menurut para arkeolog, kuil tersembunyi tersebut kira-kira berasal dari 1150 A.D. Kemungkinan ia berkaitan dengan peradaban Tlahuica yang membangun struktur utama situs Tepanzolco.

Ketika para peneliti dari Mexico’s National Institute of Anthropology and History memindai kerusakan piramida ganda akibat gempa, mereka menyadari adanya jejak kuil lebih tua di dalamnya. Piramida terluarnya dibangun di atas piramida tua – yang mana merupakan ciri khas masyarakat Tlahuica

Tlahuica merupakan orang-orang Aztec yang tinggal di Morelos beberapa abad lalu. Mereka menjadi subjek Kekaisaran Aztec pada 1400-an dan meninggalkan situs Teopanzolco saat kedatangan Spanyol pada 1500.

Kuil tersembunyi itu diduga dibuat untuk dewa hujan Tláloc yang merupakan sosok penting selama periode Aztec. Tláloc memiliki kekuatan mendatangkan hujan untuk menyirami tanaman. Meski begitu, ia juga mampu menyebabkan kekeringan, serangan petir, dan badai.

Untuk menenangkan Tláloc, para pemujanya melakukan ritual pengorbanan anak-anak pada bulan pertama berdasarkan kalender mereka.

Para peneliti menemukan pecahan keramik dan pembakar dupa di antara sisa-sisa kuil. Mereka juga menemukan fakta bahwa gempa bumi telah merusak struktur inti piramida yang ada di dalamnya.

Diketahui bahwa gempa Meksiko 2017 telah merusak banyak situs bersejarah, termasuk gereja-gereja serta Monte Albán, ibu kota bagi orang-orang kuno Zapotec.

Wednesday, May 25, 2022

Kita Salah Persepsi, Ternyata T. rex Lebih Buas daripada Perkiraan

 Tyrannosaurus rex merupakan predator paling ganas yang hidup selama periode Creataceous akhir, atau sekitar 68 juta tahun lalu.

Kepala T. rex memiliki postur yang 'menyeramkan', dengan rahang yang bisa membuat gigitan kuat berkisar 3.500 kilogram, atau setara dengan dua mobil. Para ilmuwan memperkirakan bahwa dinosaurus ini berada di puncak predator pada masanya.

Pada awalnya, T. rex diduga tidak peka pada bagian mulutnya, sehingga bisa memakan segalanya, termasuk tulang mangsanya. Tetapi sebuah temuan terbaru di jurnal Historical Biology berjudul Complex neurovascular system in the dentary of Tyrannosaurus, mengungkap bahwa reptil besar itu memiliki indra yang tajam, dan lebih menyeramkan dari dugaan sebelumnya.

Makalah itu dipublikasikan secara daring pada Minggu (22/08/2021), dan ditulis oleh Soichiro Kawabe dan Soki Hattori, dua peneliti dari Institute of Dinosaur Research Fukui at Prefectural University, Jepang.

"T. rex adalah predator yang bahkan lebih menakutkan daripada yang diyakini sebelumnya," terang Kawabe, dikutip dari Eurekalert.

"Temuan kami menunjukkan saraf di rahang bawah (area rahang) Tyrannosaurus rex terdistribusi lebih kompleks daripada dinosaurus lain yang diteliti hingga saat ini, dan sebanding dengan buaya modern dan jenis burung pencari makan taktil, yang memiliki indra yang sangat tajam.

Dia dan Hattori, kemampuan itu membuat T. rex ternyata sensitif terhadap perbedaan dalam materi dan gerakannya, yang memungkinkan dirinya mengenali bagian-bagian berbeda dari mangsanya. Sehingga, dapat memakan mangsa dengan cara berbeda, tergantung pada situasi kebutuhannya.


Para peneliti menulis, morfologi hewan purba itu telah dianalisis melalui pembuluh darah dan rahang di beberapa fosil reptil. Mereka juga mengklaim bahwa ini adalah penyelidikan pertama yang dilakukan dari struktur internal mandibula T. rex.

Untuk mengungkapnya, mereka menggunakan pemindaian computed tomography (CT), agar dapat menganalisis dan merekosntruksi distribusi neurovaskular, dari mandibula Tyrannosaurus rex. Fosil yang mereka gunakan dalam pemindaian ini adalah T. rex yang ditemukan tahun 1905 di Formasi Hell Creek, Amerika Serikat.

Lalu, Kawabe dan Hattori membandingkan rekosntruksinya dengan dinosaurus lain seperti Triceratops, serta buaya dan burung dari spesies yang masih ada kini.

Dengan cara itu, memudahkan mereka untuk menggambarkan kanal neurovaskular yang dimiliki T. rex yang terpelihara dengan baik, dan berperan sebagai penampung pembuluh darah dan saraf di rahangnya.

"Penelitian ini mengungkapkan adanya kanal neurovaskular dengan percabangan kompleks di rahang bawah Tyrannosaurus, terutama di daerah bagian depan rahang, dan diasumsikan bahwa kanal neurovaskular bercabang secara kompleks yang juga akan hadir di rahang atasnya," ujar Kawabe.

"Kanal neurovaskular itu memiliki pola percabangan yang serumit buaya dan bebek yang kini masih ada. Itu menunjukkan bahwa sistem saraf trigeminal di Tyrannosaurus mungkin berfungsi sebagai sensor sensitif di moncongnya."


Sensitivitas moncong milik T. rex diperkirakan jauh lebih besar daripada dinosaurus herbivora Ornithischi—yang memiliki struktur belakang seperti burung dan berbulu primitif. Tetapi sensitivitas di moncongnya tidak bekinerja sebaik buaya, karena T. rex tidak memiliki jaringan saraf tebal yang menampati neurovaskular yang dimiliki buaya, tulis para peneliti.

Mereka menambahkan, makalah ini selaras dengan analisis permukaan tengkorak kelompok tyrannosaurid lainnya, seperti Daspletosaurus. Morfologi kanal neurovaskular juga dimiliki jenis allosauridae seperti Neovenator di bagian rahang atasnya, yang menunjukkan bahwa area wajah theropoda mungkin adalah indra yang sangat sensitif.

"Kesimpulan ini juga menunjukkan bahwa, selain pemangsaan, ujung rahang tyrannosaurus diadaptasi untuk melakukan serangkaian perilaku dengan gerakan halus termasuk konstruksi sarang, rasa perhatian bagi induk, dan komunikasi intraspesifik," ujar Hattori, rekan penulis studi.

Tuesday, May 24, 2022

Saat Gunung Toba Meletus, Bagaimana Kondisi Bumi dan Manusia Purba?


 Sekitar 74.000 tahun yang lalu, letusan Gunung Toba di Indonesia kemungkinan menyebabkan gangguan iklim yang parah di banyak wilayah di dunia. Bagaimana kondisi bumi dan manusia purba ketika itu? Sebuah penelitian baru dari Rutgers University-New Brunswick, Amerika Serikat, mencoba mengungkapkannya.

Seperti diketahui, letusan Gunung Toba adalah letusan gunung berapi terbesar dalam dua juta tahun terakhir. Letusan gunung berapi modern tidak ada artinya dibandingkan dengan letusan Toba yang menyebarkan abu sejauh 9.000 km hingga selatan Afrika. Total volume endapan yang meletus dapat melebihi 5.000 kilometer kubik.

Akan tetapi, dampak letusan tersebut terhadap iklim dan evolusi manusia belum jelas. Menyelesaikan perdebatan ini penting untuk memahami perubahan lingkungan selama interval kunci dalam evolusi manusia.

Penulis utama Benjamin Black, assistant professor di Department of Earth and Planetary Sciences, Rutgers University-New Brunswick, mengatakan, mereka menggunakan sejumlah besar simulasi model iklim untuk menyelesaikan apa yang tampak seperti paradoks tersebut. Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences.


"Kami tahu letusan ini terjadi dan pemodelan iklim masa lalu menunjukkan konsekuensi iklim bisa parah, tetapi catatan arkeologi dan paleoklimat dari Afrika tidak menunjukkan respons yang begitu dramatis," kata Black kepada Rutgers Today.

Black mengatakan, hasil mereka menunjukkan bahwa mereka mungkin tidak mencari di tempat yang tepat untuk melihat respon iklim. Afrika dan India relatif terlindungi, sedangkan Amerika Utara, Eropa, dan Asia menanggung beban pendinginan. "Salah satu aspek yang menarik dari hal ini adalah bahwa Neanderthal dan Denisovan tinggal di Eropa dan Asia saat ini, jadi makalah kami menyarankan untuk mengevaluasi efek letusan Toba pada populasi tersebut dapat memerlukan penyelidikan di masa depan," Black menjelaskan.

Pada penelitian ini, para peneliti menganalisis 42 simulasi model iklim global. Para peneliti memvariasikan besarnya emisi belerang, waktu tahun letusan, keadaan iklim latar belakang, dan ketinggian injeksi belerang untuk membuat penilaian probabilistik dari berbagai gangguan iklim yang mungkin disebabkan oleh letusan Toba. Pendekatan ini memungkinkan tim menjelaskan beberapa hal yang tidak diketahui terkait dengan letusan.

"Dengan menggunakan pendekatan probabilistik, kami bertujuan untuk memahami kemungkinan bahwa beberapa daerah tidak terlalu terpengaruh oleh Toba, mengingat berbagai perkiraan ukuran dan waktunya, selain kurangnya pengetahuan kami tentang keadaan iklim yang mendasarinya," kata Black.


Hasilnya menunjukan kemungkinan ada variasi regional yang signifikan dalam dampak iklim. Simulasi memprediksi pendinginan belahan bumi utara setidaknya sekitar 4 derajat celcius dengan pendingingan regional setinggi 10 derajat celcius tergantung pada parameter model.

Sebaliknya, bahkan di bawah kondisi letusan yang paling parah, pendinginan di belahan bumi selatan -termasuk wilayah yang dihuni oleh manusia purba- tidak mungkin melebihi 4 derajat celcius. Meskipun wilayah di Afrika selatan dan India mungkin telah mengalami penurunan curah hujan pada suhu tertinggi dengan tingkat emisi belerang yang tinggi.

Hasilnya menjelaskan bukti arkeologi independen yang menunjukkan letusan Toba memiliki efek sederhana pada perkembangan spesies hominid di Afrika. Letusan Gunung Toba memang menyebabkan gangguan iklim yang parah di banyak wilayah di dunia, tetapi populasi manusia purba terlindung dari efek terburuk. Menurut penulis, pendekatan simulasi ensemble mereka dapat digunakan untuk lebih memahami letusan eksplosif masa lalu dan masa depan lainnya.

Menurut peneliti, hasil analisis mereka tersebut menyesuaikan distribusi simulasi dampak iklim dari letusan dengan catatan paleoklimatologi atau ilmu mengenai perubahan iklim dan arkeologi. "Pandangan probabilistik gangguan iklim dari letusan super terbaru di bumi ini menggarisbawahi distribusi dampak sosial dan lingkungan yang diharapkan tidak merata dari letusan eksplosif yang sangat besar di masa depan," kata Black.

Wednesday, May 18, 2022

Untuk Pertama Kalinya, Astronom Melihat Bagian Belakang Lubang Hitam


Untuk pertama kalinya, para astronom bisa melihat bagian belakang dari sebuah lubang hitam. Pencapaian ini sekaligus membuktikan bahwa teori Albert Einstein mengenai lubang hitam ternyata benar.
Para peneliti membuktikan teori tersebut dengan mempelajari lubang hitam supermasif yang jaraknya 800 juta tahun cahaya dari Bumi. Para astronom telah berhasil melihat sesuatu di balik lubang hitam itu untuk pertama kalinya dan telah membuktikan bahwa Albert Einstein benar tentang bagaimana raksasa langit misterius ini berperilaku.

Sebuah tim peneliti internasional menggunakan teleskop sinar-X bertenaga tinggi untuk mempelajari lubang hitam supermasif yang berjarak 800 juta tahun cahaya di pusat sebuah galaksi yang jauh tersebut.

Para peneliti melihat ciri khas lubang hitam, tetapi mereka juga melihat cahaya –dalam bentuk sinar-X– yang dipancarkan oleh sisi jauh lubang hitam itu.

Lubang hitam lahir ketika sebuah bintang raksasa meledak dalam supernova dan kemudian runtuh dengan sendirinya. Ledakan ini membentuk material padat yang tidak dapat dipahami yang menelan segala sesuatu di sekitarnya secara umum, dan oleh karena itu seharusnya tidak mungkin untuk melihat cahaya dari bagian belakang lubang hitam.

Namun, teori dogmatis relativitas umum Albert Einstein pada 1915 meramalkan bahwa tarikan gravitasi lubang hitam kemungkinan sangat besar. Artinya, tarikan gravitasi lubang hitam bisa membelokkan struktur ruang, memutar medan magnet, dan membelokkan cahaya.

Jadi, karya Einstein ini menegaskan bahwa seharusnya mungkin untuk melihat gelombang cahaya yang dikeluarkan dari sisi jauh lubang hitam. Sebab, menurutnya medan magnet yang terdistorsi itu bisa bertindak sebagai cermin.


Para ahli menerima teori tersebut, tetapi tidak dapat mengamati fenomena itu secara langsung. Baru kali inilah, berkat teleskop modern dan pengembangan instrumen yang sangat sensitif mereka berhasil melihat fenomena tersebut.

Para peneliti melihat ciri khas lubang hitam, tetapi mereka juga melihat cahaya –dalam bentuk sinar-X– yang dipancarkan oleh sisi jauh lubang hitam itu.

Lubang hitam lahir ketika sebuah bintang raksasa meledak dalam supernova dan kemudian runtuh dengan sendirinya. Ledakan ini membentuk material padat yang tidak dapat dipahami yang menelan segala sesuatu di sekitarnya secara umum, dan oleh karena itu seharusnya tidak mungkin untuk melihat cahaya dari bagian belakang lubang hitam.

Namun, teori dogmatis relativitas umum Albert Einstein pada 1915 meramalkan bahwa tarikan gravitasi lubang hitam kemungkinan sangat besar. Artinya, tarikan gravitasi lubang hitam bisa membelokkan struktur ruang, memutar medan magnet, dan membelokkan cahaya.

Jadi, karya Einstein ini menegaskan bahwa seharusnya mungkin untuk melihat gelombang cahaya yang dikeluarkan dari sisi jauh lubang hitam. Sebab, menurutnya medan magnet yang terdistorsi itu bisa bertindak sebagai cermin.

Para ahli menerima teori tersebut, tetapi tidak dapat mengamati fenomena itu secara langsung. Baru kali inilah, berkat teleskop modern dan pengembangan instrumen yang sangat sensitif mereka berhasil melihat fenomena tersebut.

Dan Wilkins, seorang astrofisikawan di Stanford University, adalah peneliti yang menemukan hal ini. Setelah memeriksa data, dia melihat apa yang dia harapkan, sinar-X dimuntahkan langsung ke Bumi dari inti lubang hitam, tetapi dia juga melihat gema tak terduga tak lama kemudian.

Ini, katanya, adalah sinar-X yang terlempar ke arah berlawanan dari Bumi, tetapi dipantulkan oleh medan magnet lubang hitam yang hancur.

Temuan Wilkins dan rekan-rekan penelitinya ini telah dipublikasikan di jurnal Nature pada 28 Juli 2021. Temuan ini, sekali lagi, membuktikan bahwa pemikiran Albert Einstein ternyata benar, dan lebih jauh lagi semakin mendukung teori relativitas umum.

"Lima puluh tahun yang lalu, ketika astrofisikawan mulai berspekulasi tentang bagaimana medan magnet mungkin berperilaku dekat dengan lubang hitam, mereka tidak tahu bahwa suatu hari nati kita mungkin memiliki teknik untuk mengamati ini secara langsung dan melihat teori relativitas umum Einstein beraksi," kata Profesor Roger Blandford dari Stanford University, rekan Wilkins yang turut menulis laporan temuan ini, sebagaimana dilansir Stuff.

Tuesday, May 17, 2022

Temuan Mosaik Kejadian Terbelahnya Laut Merah di Puing Sinagoga


Di sebuah bukit di atas Laut Galilea di Israel utara, para arkeolog telah menemukan satu demi satu mosaik lantai abad kelima yang menakjubkan. Mereka mengekskavasi tapak sinagoga zaman Romawi di situs Huqoq, Israel.
Sinagoga itu didirikan selama abad ke-12 hingga ke-13, terletak di atas reruntuhan sinagoga Romawi dari abad ke-5. Di tapak tempat ibadah orang-orang Yahudi itu Mereka menemukan dua panel baru lantai mosaik yang menampilkan bahtera Nuh dan terbelahnya Laut Merah ketika orang-orang Israel keluar dari Mesir.

Saat itu, mereka telah menggali lorong timur sinagog. Mereka menemukan serangkaian gambar berisi kejadian-kejadian dalam Alkitab di serangkaian panel.

“Anda dapat melihat para prajurit Firaun dengan kereta-kereta kuda mereka tenggelam, dan bahkan dimakan oleh ikan besar,” ujar direktur ekskavasi Jodi Magness dari University of North Carolina kepada A. R. Williams yang melaporkan untuk National Geographic.

Gambar-gambar mengenai kejadian ini sangat jarang ditemukan. Magness mengatakan bahwa sebelum ini, hanya ada dua gambar tentang kejadian terbelahnya Laut Merah yang ditemukan di sinagoga kuno. “Satu di lukisan dinding di Dura Europos, Suriah dan di Wadi Hamam (Israel), tetapi gambar itu terpisah-pisah dan tak terawetkan dengan baik,” katanya.

Adegan bahtera sama langkanya. Sekali lagi, Magness tahu dari hanya ada dua: satu di lokasi Jerash (dikenal sebagai Gerasa di zaman kuno) di Yordania, dan yang lainnya di lokasi Misis (Mopsuestia kuno) di Turki.

Magness, seorang profesor arkeologi dan National Geographic Explorer telah mengungkap mosaik yang luar biasa di Huqoq sejak 2012. Ia melakukan ekskavasi bersama dengan tim relawan mahasiswa dan spesialis di bidang-bidang tertentu, seperti sejarah, seni, analisis tanah, dan konservasi mosaik.



im bekerja di lorong timur sinagoga, di mana mereka telah menemukan serangkaian pemandangan yang tidak biasa dalam panel persegi panjang: sebuah prasasti dalam bahasa Ibrani yang dikelilingi oleh topeng teater; dewa asmara; dan penari yang terinspirasi secara klasik; Simson dan rubah dari Hakim-hakim 15:4 dalam Alkitab; Simson dengan pintu gerbang Gaza di pundaknya dari Hakim-hakim 16:3.

Selain itu terdapat mosaik tiga tingkat yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Mosaik itu mencakup adegan non-Alkitab pertama yang pernah ditemukan di sebuah sinagoga kuno. Adegan itu melukiskan pertemuan antara dua sosok pria penting, salah satunya ditemani oleh tentara lapis baja dan gajah dengan perlengkapan untuk berperang.

Tidak ada jaminan bahwa mosaik akan berlanjut ke bagian tengah, area tengah sinagoge yang besar. Tetapi ketika penggalian dimulai di sana, semua orang berharap itulah yang akan mereka temukan di bawah batu dan tanah yang telah menumpuk selama berabad-abad.

Ketika memindahkan puing-puing bangunan, para arkeolog yang saat itu dipimpin oleh Shua Kisilevitz dari Israel Antiquities Authority (IAA), menemukan mosaik lainnya dalam panel panjang.




Sosok yang pertama terlihat dalam mosaik tersebut ialah beruang dengan tiga cakar panjang, dan macan tutul yang mengejar kijang. Mereka juga menemukan sepasang keledai bertelinga panjang, lebih banyak beruang dan macan tutul, singa, burung unta, unta, gajah abu-abu, domba, kambing, dan ular. Semuanya berpasang-pasangan, yang berbaris ke bahtera Nuh sebelum banjir besar.

“Panel ini tepat seperti yang seharusnya, menghadap ke utara. Sehingga orang-orang bisa langsung melihatnya ketika mereka masuk dari pintu masuk utama di arah selatan,” ujar Magnes kepada National Geographic.



Di dekat pintu masuk utama, tim menemukan adegan ikonik dari kejadian terbelahnya Laut Merah. Ikan-ikan besar, kuda yang timbul tenggelam, dan prajurit-prajurit yang membawa tombak dan perisai terjatuh ketika air laut Merah menghantam mereka.

Penggalian tahun ini telah usai. Mosaik-mosaik yang berhasil ditemukan, dipindahkan untuk kepentingan konservasi. Penggalian selanjutnya akan dilaksanakan pada bulan Mei tahun depan.

Sunday, May 15, 2022

Mumi Amun Ra, Mumi Mesir Kuno Yang Membawa Selalu Kemalangan


"Bungkusan berisi mumi tersebut harus diangkut ke dalam kapal secara diam-diam, karena bentuknya yang mirip peti mati. Akhirnya kami selamat dari Mumi Amen Ra. Keesokan harinya mumi tersebut akan meninggalkan Inggris dengan menaiki kapal uap Titanic." Sebuah cerita singkat yang dimuat pada koran kuno Milwaukee Journal pada 10 Mei 1914.

Titanic, siapa yang tidak mengenal kisah tenggelamnya kapal uap terbesar dan termewah tersebut? Kapal titanic merupakan hasil karya dari pembuat kapal Irlandia, William Pirrie di Belfast.

Kapal titanic dikenal sebagai kapal tercepat dan saat itu diyakini tidak akan pernah tenggelam karena memiliki lambung yang dibagi menjadi 16 kompartemen kedap air. Empat dari kompartemen tersebut dapat tergenang air tanpa menyebabkan kehilangan daya apung yang kritis.

Namun, anggapan William Pirrie salah besar. Kapal titanic tenggelam di Samudera Atlantik Utara tepat pada pelayaran perdananya 15 April 1912 karena menabrak gunung es. Anggapan lain mengatakan bahwa kapal Titanic menjadi salah satu korban dari ‘kutukan’ Mumi Amun Ra, si pembawa sial.

Putri Amun Ra atau Amen Ra hidup sekitar 1.500 SM. Konon, Amun Ra merupakan seorang tukang sihir dan peramal yang hidup di jaman Amenophis IV. Ketika Amun Ra meninggal, ia dibaringkan dalam Sarkopagus berukiran indah dan dikubur dalam peti besi Luxor, di tepian Sungai Nil. Makam Amun Ra ditemukan pada abad ke-18. Layaknya tukang sihir, dalam sarkopagus Amen Ra terdapat sebuah amulet, yang berisi gambar Dewa Osiris, disertai tulisan, yang berbunyi:

“Bangunlah dari tidur anda, yang nyenyak. Sorot mata anda akan mengalahkan segalanya, yang dilakukan terhadap anda.”


Melansir dari laman Historical Eve, Mumi Amen Ra yang kemudian dikenal dengan 'Mumi sial’ menjadi salah satu koleksi dari British Museum. Mumi Amen Ra menjadi koleksi spesial dengan penutup antropomorfik yang dicat dari kayu dan plester. ‘Mumi sial’ ini pada kenyataannya hanya-lah tutup peti mati.

‘Mumi sial’ dipamerkan di dalam etalase ruang museum 62 dengan nomor identifikasi 22542 berukuran 1.62 meter. ‘Mumi sial’ dicat dengan warna-warna cerah dan ditutupi dengan prasasti Mesir Kuno.

‘Mumi sial’ itu digambarkan sebagai perempuan memakai wig, kalung besar dan yang paling aneh adalah tangannya terletak di posisi yang berbeda. Tangannya naik secara horizontal dari dadanya dan telapak tangan menghadap ke luar. Karya tersebut berasal dari akhir dinasti XXI (950-900 SM).

Mengapa mumi tersebut diberi nama yang mengerikan? Mumi ini menyimpan banyak cerita kesialan yang terjadi pada pemilik-pemilik sebelumnya.

Para penulis hingga jurnalis seperti Yeats, Conan Doyle atau Henry Rider Haggard membahas mengenai ‘mumi sial’, bahkan surat kabar The Times pada 1912 menerbitkan artikel tentangnya. ‘Mumi sial’ Amen Ra diperoleh oleh Thomas Douglas Murray, salah satu dari empat anggota dari pelancong Inggris yang berada di Thebes antara tahun 1860 dan 1870.

Pada perjalanan menuju ke London, ‘mumi sial’ tidak berhenti membuat masalah. Murray dan rekan-rekannya mengalami berbagai bencana. Salah satu rekannya berjalan menuju ke padang pasir dan tidak pernah kembali. Keesokan hari, kejadian aneh kembali terjadi.

Seorang rekan Murray yang berada di hotel ditembak secara tidak sengaja oleh pelayan keturunan Mesir. Tangannya hancur dan harus diamputasi. Murray pun mengalami kebangkrutan. Seorang rekannya yang kaya raya mengalami sakit parah, kehilangan pekerjaan dan terpaksa menjual korek api di jalanan.


Tidak ingin terlibat terlalu jauh, Morray memberikan ‘mumi sial’ tersebut kepada pengusaha sukses Mr Arthur F Wheeler. Namun, ketahanan jiwa Wheeler tidak bertahan lama, ia pun menyerahkan mumi Amun Ra ke British Museum pada 1889. Hal ini karena tiga anggota keluarganya mengalami kecelakaan tragis dan rumah yang dimiliki terbakar tanpa tersisa.

Malapetaka dari ‘mumi sial’ tidak berhenti disitu saja. Saat ‘mumi sial’ diangkut menggunakan truk dari rumah Wheeler menuju museum, kendaraan tersebut secara tiba-tiba mundur dan menabrak tukang angkut. Tukang angkut tewas ditempat dan seorang pekerja lainnya meninggal mendadak dua hari kemudian.

Kesialan terus terjadi dimanapun mumi Amen Ra berada. Di museum terdapat beberapa cerita kesialan yang menimpa pengunjung dan penjaga. Dari mulai anak pengunjung yang meninggal dunia setelah mengejek wajah mumi hingga kematian seorang jurnalis Bertram Fletcher Robinson pada 1907 karena demam yang dipercaya disebabkan oleh ‘mumi sial’.

Namun, salah satu konspirasi mengenai kapal Titanic dan ‘mumi sial’ Amun Ra berhasil dibantahkan oleh Charles Haas, presiden Titanic Historical Society yang mendapatkan akses ke manifes dan diagram kargo Titanic pada 1985.

"Manifes kargo mematahkan mitos tersebut," kata Charles Haas.

Meskipun kapal Titanic mengangkut barang tidak biasa seperti bulu-bulu unggas, topi bulu binatang, jaringan sel, suku cadang, kulit, bulu kelinci, karet, jaring rambut, dan perangkat pendingin tetapi tidak ada petunjuk keberadaan mumi di sana.

Ternyata, kisah tenggelamnya kapal Titanic yang disebabkan oleh ‘mumi sial’ Amun Ra merupakan karangan dari dua orang kebangsaan Inggris, yaitu William Stead dan Douglas Murray. William Stead merupakan seorang jurnalis dan editor terkenal. Sementara Douglas Murray dikenal sebagai ahli Mesir Kuno.


Setelah kedua orang ini menciptakan kisah ‘mumi sial’, mereka mengunjungi British Museum. Mereka mengarang cerita yang menunjukkan bahwa penghuni asli peti mati adalah jiwa yang disiksa, dan roh jahat itu kini berkeliaran di dunia.

Stead dan Murray mengirimkan kisah baru mereka ke surat kabar yang antusias dengan kisah ini, kedua cerita itu digabung menjadi satu, lalu dicetak dan beredar luas.

Hal ini mendukung pernyataan salah seorang penumpang yang selamat dan menceritakan kisah "Kutukan Mumi" dalam wawancara dengan New York World.

Akhirnya kisah horor milik Stead dan Murray tercipta, kehadiran Stead di atas kapal Titanic, laporan wawancara penumpang yang menceritakan kisah "kutukan mumi" bercampur menjadi satu, menciptakan sebuah legenda adanya Mumi di atas kapal Titanic.

Saturday, May 14, 2022


 Di lingkungan galaksi Bimasakti, Matahari kita adalah bintang yang relatif terang, dan di dalam lingkungannya, para astronom telah mampu mengidentifikasi rentang elemen terluas di sebuah bintang di luar tata surya kita.

Studi yang dipimpin oleh astronom Universitas Michigan Ian Roederer, telah mengidentifikasi 65 elemen dalam bintang HD 222925. Empat puluh dua elemen yang diidentifikasi adalah elemen berat yang terdaftar di bagian bawah tabel periodik elemen.

Mengidentifikasi unsur-unsur ini dalam satu bintang akan membantu para astronom memahami apa yang disebut "proses penangkapan neutron cepat", atau salah satu cara utama penciptaan unsur-unsur berat di alam semesta. Hasil penelitian mereka tersebut telah diposting di arXiv pada 10 Mei 2022 dengan judul yang panjang: "The R-Process Alliance: A Nearly Complete R-Process Abundance Template Derived from Ultraviolet Spectroscopy of the R-Process-Enhanced Metal-Poor Star HD 222925", dan telah diterima untuk dipublikasikan di Astrophysical Journal Supplement Series.

"Sepengetahuan saya, itu rekor untuk objek apa pun di luar tata surya kita. Dan apa yang membuat bintang ini begitu unik adalah karena ia memiliki proporsi relatif yang sangat tinggi dari unsur-unsur yang tercantum di dua pertiga bagian bawah tabel periodik. Kami bahkan mendeteksi emas," kata Roederer. "Unsur-unsur ini dibuat oleh proses penangkapan neutron yang cepat. Itulah yang sebenarnya kami coba pelajari: fisika dalam memahami bagaimana, di mana, dan kapan elemen-elemen itu dibuat."

Prosesnya, juga disebut dengan "proses-r", dimulai dengan adanya unsur-unsur yang lebih ringan seperti besi. Kemudian, dengan cepat - dalam hitungan detik - neutron ditambahkan ke inti unsur yang lebih ringan. Ini menciptakan elemen yang lebih berat seperti selenium, perak, telurium, platinum, emas, dan thorium, jenis yang ditemukan di bintang HD 222925, dan semuanya jarang terdeteksi di bintang lain, menurut para astronom.

"Anda membutuhkan banyak neutron yang bebas dan kondisi energi yang sangat tinggi untuk membebaskan mereka dan menambahkannya ke inti atom," kata Roederer. "Tidak banyak lingkungan di mana itu bisa terjadi - dua, mungkin."


Salah satu lingkungan ini telah dikonfirmasi: penggabungan bintang-bintang neutron. Bintang neutron adalah inti runtuh dari bintang super-raksasa, dan merupakan benda langit terkecil dan terpadat yang diketahui. Tabrakan pasangan bintang neutron menyebabkan gelombang gravitasi dan pada tahun 2017, astronom pertama kali mendeteksi gelombang gravitasi dari penggabungan bintang neutron. Cara lain proses-r mungkin terjadi adalah setelah ledakan kematian bintang masif.

"Itu adalah langkah maju yang penting: mengenali di mana proses-r dapat terjadi. Namun itu adalah langkah yang jauh lebih besar untuk mengatakan, 'Apa yang sebenarnya dilakukan oleh peristiwa itu? Apa yang diproduksi di sana?" kata Roeder. "Di situlah studi kami masuk."

Unsur-unsur yang diidentifikasi Roederer dan timnya dalam HD 222925 dihasilkan baik dalam supernova masif atau penggabungan bintang-bintang neutron sangat awal di alam semesta. Materi itu dikeluarkan dan dilemparkan kembali ke luar angkasa, di mana ia kemudian direformasi menjadi bintang yang dipelajari Roederer saat ini.

Bintang ini kemudian dapat digunakan sebagai proksi untuk apa yang akan dihasilkan oleh salah satu peristiwa itu. Setiap model yang dikembangkan di masa depan yang menunjukkan bagaimana proses-r atau alam menghasilkan unsur-unsur di dua pertiga terbawah tabel periodik harus memiliki ciri yang sama dengan HD 222925, kata Roederer.

Yang terpenting, para astronom menggunakan instrumen pada Teleskop Luar Angkasa Hubble yang dapat mengumpulkan spektrum ultraviolet. Instrumen ini adalah kunci yang memungkinkan para astronom mengumpulkan cahaya di bagian ultraviolet dari spektrum cahaya yang redup, yang berasal dari bintang keren seperti HD 222925.

Para astronom juga menggunakan salah satu teleskop Magellan di Las Campanas Observatory di Cili untuk mengumpulkan cahaya dari HD 222925 di bagian optik dari spektrum cahaya.

Spektrum ini mengodekan "sidik jari kimia" unsur-unsur di dalam bintang, dan membaca spektrum ini memungkinkan para astronom tidak hanya mengidentifikasi unsur-unsur yang terkandung dalam bintang, tetapi juga berapa banyak unsur yang dikandung bintang.

"Kami sekarang mengetahui output elemen demi elemen yang terperinci dari beberapa peristiwa proses-r yang terjadi di awal alam semesta," kata Anna Frebel, rekan penulis studi dan profesor fisika di Massachusetts Institute of Technology. "Setiap model yang mencoba memahami apa yang terjadi dengan proses-r harus dapat mereproduksi itu."

Frebel membantu dengan interpretasi keseluruhan dari pola kelimpahan elemen HD 222925 dan bagaimana hal itu menginformasikan pemahaman kita tentang asal usul elemen dalam kosmos.