Sunday, June 26, 2022

Erupsi Gunung Tambora Dikonfirmasi Menjadi Penyebab 'Tahun Tanpa Musim Panas'


 Pada 1815, gunung Tambora meletus. Peristiwa itu merupakan erupsi gunung berapi terbesar dalam 1.500 tahun terakhir. 

Letusan gunung Tambora pun disebut-sebut menjadi penyebab 'tahun tanpa musim panas' di Eropa karena debu dan sulfur dioksida akibat erupsi menghalangi sinar Matahari. 

Selama beberapa tahun, para ilmuwan atmosfer tidak yakin jika 'ledakan' gunung itu bisa berkontribusi pada situasi lembap dan basah di Eropa. Namun kini, pemodelan iklim yang digunakan dalam penelitian, menunjukkan bahwa Tambora benar-benar memecahkan rekor dan menjadi penyebab udara dingin tanpa henti di sana. 

Bagi penduduk Indonesia, letusan besar pada 10 April tersebut langsung menyebabkan tsunami yang menewaskan 40-60 ribu orang. Namun, efek sesudah erupsi juga tidak kalah mengkhawatirkan.

Suhu rata-rata dunia pada 1816 adalah 0.4º-0.7ºC (0.7º-1.3ºF), jauh lebih dingin dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi iklim yang tidak biasa itu memberikan inspirasi bagi Mary Shelley untuk menulis kisah Frankenstein.

Dr Andrew Schurer dari University of Edinburgh telah melakukan pemodelan mengenai bagaimana keadaan tahun 1816 jika tidak terjadi letusan Tambora, menggunakan data sebelum erupsi dan input matahari.

Hasilnya yang dipublikasikan pada Enviromental Research Letters menyatakan bahwa erupsi atau tanpa erupsi, Eropa pada 1816 kemungkinan akan menjadi tahun yang lembap. Namun, benar adanya jika letusan Tambora lah yang membuat udara sangat dingin. 

"Model iklim kami menunjukkan adanya pendinginan. Bahkan suhunya sangat dingin, meningkat 100 kali lipat," kata Schurer. 

"Tanpa adanya pengaruh vulkanik, tidak mungklin suhu selembap dan sendingin itu," tambahnya. 

Ketika tahun tanpa musim panas sedang terjadi, orang-orang tidak mengetahui penyebabnya. Letusan gunung berapi yang memengaruhi iklim, baru pertama kali dibahas ketika erupsi Krakatau pada 1883. Tambora sendiri dikaitkan dengan 'tahun tanpa musim panas' pada 1913.

Monday, June 20, 2022

Dikenal Sebagai Tempat yang Romantis, Bagian Bawah Jalanan Kota Ini Justru Menjadi Kuburan Jutaan Kerangka Manusia


Siapa sih yang enggak ingin jalan-jalan ke Paris? Ibu kota Prancis ini seolah menjadi magnet bagi kaum pelancong seantero jagat lantara dikenal sebagai kota yang romatis.

Kota yang paling padat di wilayah Prancis ini juga dijadikan tujuan bagi banyak pasangan untuk menikmati indahnya cahaya dan menara Eiffel.

Tapi, apakah kita telah mengetahui ada sesuatu yang berbeda di bawah tanah kota Paris? Ada sesuatu yang boleh dibilang jauh dari kata romantis, bahkan bisa dibilang mencekam.

Dalam jalan bawah tanahnya tersimpan sebuah jalur gelap penuh dengan kerangka enam juta warga Paris.

Dilansir dari IFL Science, ternyata Paris juga pernah mengalami masalah seperti kematian dan penyakit.

Janji atas kehidupan yang lebih baik di kota besar membuat kumpulan orang-orang bergegas meninggalkan pedesaan.

Akibatnya, menjelang akhir abad ke-18, pemakaman umum sudah sangat padat hingga tidak bisa menampung mayat baru lagi.

Les Innocents, salah satu komplek pemakaman terbesar di Paris pada 1700-an, dilaporkan tak ayal menimbulkan bau busuk dari mayat-mayat yang tidak bisa dimakamkan dengan baik karena kuburan sudah padat.

Baunya sangat buruk hingga memengaruhi produk pewangi dan pemilik toko parfum berjuang untuk menjual barang-barang mereka.

Pada Mei 1780, pemakaman tersebut benar-benar ‘meledak’.

Dinding ruang bawah tanah dari properti yang berbatasan dengan Les Innocents mengalami keretakan dan terbelah akibat penguburan berlebihan serta hujan musim semi.

Hal ini juga membuat menyebarnya penyakit dari mayat-mayat yang setengah membusuk dalam ruang bawah tanah tersebut.

Selama beberapa bulan, pihak berwenang memerintahkan penutupan Les Innocents dan pemakaman kota lainnya.

Tidak akan ada lagi mayat yang bisa dikubur di sana.

Bahkan karena dibayang-bayangi ancaman kesehatan masyarakat, kota ini juga memutuskan untuk menyingkirkan isi pemakaman tersebut. 

Beruntung, mereka memiliki sebuah rencana.


Paris dulunya merupakan rumah bagi tambang-tambang tua yang sempurna untuk digunakan sebagai osuarium (makam batu kapur) bawah tanah.

Antara 1787 hingga 1814, tulang-tulang manusia dari pemakaman dikirim ke pertambangan. Pintu masuk menuju makam bawah tanah dibuat tepat di luar gerbang kota.

Pintu masuk itu disebut Barrière d'Enfer, yang jika diterjemahkan memiliki arti 'Gerbang Neraka'.

Awalnya, kerangka ditumpuk di tambang secara serampangan. Namun, mereka kemudian diatur ke dalam posisi yang bisa Anda lihat saat ini.

Dari enam juta kerangka yang ada di osuarium, Anda bisa melihat kerangka beberapa tokoh sejarah Prancis

Termasuk mereka yang dipenggal selama Revolusi Prancis, seperti Georges Danton dan Maximilien de Robespierre, serta seniman terkenal Charles Perrault yang menulis kisah populer Little Red Riding Hood, Cinderella, dan Sleeping Beauty.

Saat ini, The Paris Catacombs atau Katakombe Paris terlihat mengular bagai labirin di kedalaman 20 meter sepanjang 1,5 kilometer.

Anda dapat mengunjungi situs ini sebagai turis.

Thursday, June 16, 2022

Awan Kordylewski, Satelit Debu yang Mengorbit Bumi Seperti Bulan

 Selain kehampaannya, luar angkasa adalah tempat berantakan yang penuh dengan debu, minyak, gas, dan sampah bawaan manusia.

Ketika antarbintang schmutz terperangkap dalam jaring gravitasi matahari, planet dan objek besar lainya, beberapa hal menarik mungkin akan terjadi. Sebagai contoh, terciptanya bola debu luar angkasa yang dikenal sebagai awan Kordylewski.

Sama seperti tumbleweed kosmik, bola-bola debu ini akan mengikuti ke mana pun inangnya bergerak. Mengambil objek kasar, kotoran, dan potongan asteroid kecil di sepanjang jalan, sebelum akhirnya membuang mereka kembali ke ‘padang rumput’ di ruang angkasa.

Meski sudah dideskripsikan sejak 1950-an, tetapi bukti konkret yang menunjukkan keberadaan awan Kordylewski ini sulit didapat. Sebab, luar angkasa begitu luas sementara debu-debu sangat kecil.

Meski begitu, saat ini, para astronom dari Hungaria, mengatakan bahwa mereka akhirnya menangkap penampakan awan tersebut di kamera.

The Royal Astronomical Society (RAS) telah mengonfirmasi keberadaan awan debu yang sukar dipahami tersebut pada Kamis (25/10). Menurut mereka, awan Kordylewski, mengorbit Bumi persis seperti Bulan, dengan jarak yang mirip pula.

Kerak awan yang bergejolak ini diduga berada pada orbit permanen sekitar 250 mil di atas Bumi. Sebagai perbandingan, jarak rata-rata Bulan yang menjadi satelit Bumi sekitar 238 mil.

“Awan Kordylewski merupakan salah satu objek tersulit untuk ditemukan. Dan meskipun mereka sedekat Bumi dan Bulan, tapi ia sering diabaikan oleh peneliti,” kata Judit Slíz-Balogh, astronom di Eötvös Loránd University yang menjadi pemimpin penelitian.

Awan Kordylewski terletak di dua titik khusus dalam sistem Bumi-Bulan. Titik yang dikenal dengan nama Langrangian ini relatif stabil secara gravitasi. Objek-objek luar angkasa, termasuk debu, yang melayang di dekat titik tersebut cenderung diam, bergerak maju atau di belakang Bulan dalam orbit.

 “Sangat menarik mengetahui bahwa planet tempat tinggal kita ternyata memiliki satelit debu yang mengorbit bersama Bulan,” imbuhnya.

Wednesday, June 15, 2022

Air Asin di Mars Mengandung Oksigen, Bukti Adanya Kehidupan Mikroba


Pada penelian sebelumnya, para ahli melaporkan jika air asin yang berada di bawah permukaan Mars, dapat menampung oksigen yang cukup untuk mendukung jenis kehidupan mikroba miliaran tahun lalu.

Gagasan tersebut semakin diperkuat dengan temuan yang dipublikasikan oleh jurnal Nature Geosciences pada Rabu (24/10/2018). Dalam laporannya, para ahli menyebutkan bahwa jumlah oksigen yang tersedia hanya cukup untuk mikroba atau hewan sederhana seperti spons laut.

"Kami menemukan bahwa air asin dengan konsentrasi garam tinggi (di Mars) dapat mengandung oksigen yang cukup untuk membuat mikroba hidup," ucap Vlada Stamenkovi seorang penulis utama penelitian tersebut dan fisikawan teoritis di Jet Propulsion Laboratory, California, Amerika Serikat.

"Hal ini sepenuhnya mengubah pemahaman kita tentang potensi kehidupan di Mars, hari ini dan masa lalu," tambahnya.

Sebelum penelitian tersebut terbit, para ahli beranggapan bahwa jumlah jejak oksigen di Mars tidak cukup untuk mempertahankan kehidupan mikroba.

"Kami tidak pernah berpikir bahwa oksigen dapat memainkan peran untuk kehidupan di Mars. Pasalnya hanya ada sedikit oksigen di atmosfer, sekitar 0,14 persen," ucap Stamenkovi.

Untuk perbandingan, gas yang mendukung kehidupan membentuk 21 persen udara yang dihirup

Sama seperti di Mars, dasar samudera Bumi dengan mata air panas dan minum oksigen juga hidup mikroba.

"Itu sebabnya, setiap kali kami memikirkan kehidupan di Mars, kami mempelajari potensi kehidupan anaerobik," ucap Stamenkovi.

Penelitian terbaru ini dikembangkan dari data robot penjelajah Curiosity milik NASA yang menemukan oksida mangan di sana. Senyawa kimia ini hanya bisa diproduksi dengan banyak oksigen.

Kandungan garam yang tinggi memungkinkan air untuk tetap cair, suatu kondisi diperlukan untuk oksigen yang akan dilarutkan. Pada suhu yang lebih rendah, air asin menjadi tempat favorit bagi mikroba.

Suhu di planet Mars tersebut dapat bervariasi antara minus 195 sampai 20 derajat celcius, hal ini tergantung pada wilayah, musim dan waktu.

Para ahli juga merancang sebuah simulasi untuk menggambarkan bagaimana oksigen yang larut dalam air asin pada suhu di bawah titik beku. Model tersebut memperkirakan perubahan iklim di Mars selama 20 juta tahun terakhir dan juga selama 10 juta tahun ke depan.

Ia juga menunjukkan perhitungan di daerah mana yang paling memungkinkan untuk menghasilkan oksigen berbasis air garam. Dan hasilnya, air asin di seluruh planet tersebut mungkin saja dapat menjadi sumber oksigen, terutama air asin di bawah permukaan kutub yang memiliki konsentrasi cukup tinggi.


 

Sunday, June 12, 2022

Evolusi Dinosaurus Menjadi Burung Diungkap oleh Peneliti Melalui DNA

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, berhasil menelusuri sejarah genetik makhluk-makhluk yang sudah punah, terutama dinosaurus.

Peneliti mencoba menelaah kerabat dinosaurus saat ini, yaitu burung dan kura-kura. Dengan menggunakan metode matematika, para peneliti dari University of Kent tersebut mampu menentukan bagaimana cara melihat DNA dinosaurus.

Hasil yang ditemukan mengungkapkan bahwa kromosom dalam DNA dinosaurus tiga kali lebih banyak daripada kromosom milik manusia. Jumlah tersebut diakui oleh peneliti sebagai hal yang sangat mengesankan. Penemuan tersebut juga sejalan dengan apa yang sudah diketahui para ilmuwan saat ini tentang hewan yang punah.

Jumlah kromosom tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan dinosaurus dalam berbagai bentuk, ukuran, dan karakteristik.

"Kami pikir hal tersebut menghasilkan variasi. Memiliki banyak kromosom memungkinkan dinosaurus mengacak gen mereka lebih banyak daripada jenis hewan lainnya," ungkap Darren Griffin dari Universitas Kent.

Peneliti juga menambahkan bahwa gen yang teracak tersebut memungkinkan dinosaurus untuk dapat berevolusi dengan cepat dalam bertahan hidup.

Lebih mengejutkan lagi, penemuan tersebut tidak hanya terdapat pada dinosaurus saja. Peneliti menemukan bahwa burung juga diberkati kelebihan yang sama.

Penelitian juga mengungkapkan bahwa burung memiliki jumlah kromosom yang luar biasa besar, berjumlah 80 kromosom. Hal tersebut tidak mengherankan mengingat burung merupakan spesies yang sangat beragam.

Sebelumnya, sejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi evolusi dinaosaurus menjadi burung. Penelitian tersebut menjelaskan bagaimana tulang dan bulu mengalami penyusutan hingga proses perkembangbiakan.

Para ilmuwan menegaskan bahwa asteroid yang menabrak Bumi 66 juta tahun lalu tidak memusnahkan semua dinosaurus. Beberapa dari mereka yang berhasil terbang menyelamatkan diri dan terus bertahan hingga zaman modern.

Jadi, alih-alih dinosaurus dan burung adalah kerabat jauh, bukti fosil dan bukti terbaru yang ditemukan peneliti justru memperkuat gagasan bahwa kedua spesies tersebut merupakan satu keluarga. Menurut peneliti, burung-burung yang ada di sekitar manusia saat ini adalah dinosaurus.

Harta Karun Berupa Perhiasan Emas Kuno Ditemukan di Gunung Kazakhstan


Para arkeolog berhasil menemukan ribuan potong perhiasan emas di sebuah pemakaman kuno di gunung Kazakhstan.

Gunung Tarbagatai yang terpencil dan berbatasan dengan Tiongkok utara, dahulu merupakan rumah bagi bangsa Saka. Para penunggang kuda ini merupakan orang-orang nomaden yang bergerak melintasi Iran, India, dan Asia Tengah selama ratusan tahun sebelum ditaklukkan oleh penjajah Turki di abad ke-4 Masehi.

Tumpukan emas yang baru ditemukan tersebut, diduga merupakan milik anggota elit dari bangsa Saka.

Beberapa perhiasan meliputi anting berbentuk seperti bel kecil, kalung bertahtakan batu mulia, serta rantai dan lempengan emas. Terdapat bukti solder yang dianggap cukup canggih untuk artefak berusia 2.800 tahun.

Identitas kerangka yang dikubur bersama perhiasan ini tidak diketahui dengan pasti karena kuburannya belum digali sepenuhnya. Namun, menurut Zainolla Samashev, arkeolog yang bertanggung jawab atas proses penggalian ini, kemungkinan kerangka tersebut milik seorang wanita dan pria yang pernah berkuasa di masa itu.

Penemuan terkait bangsa Saka yang paling terkenal mungkin terjadi pada 1969. Kala itu, para arkeolog menemukan makam seorang pejuang terkemuka di Almaty, kota terbesar di Kazakhstan.

Ia dimakamkan di dalam sebuah peti kayu dengan 4.800 perhiasan emas, termasuk cincin, anting, pedang, dan cambuk bertahtakan emas. Ada dugaan bahwa ia bukan sekadar pejuang, tapi juga raja muda yang meninggal di usia 18.

Sejak saat itu, 200 gundukan makam lainnya telah ditemukan di dataran Kazakhstan yang subur, yang dianggap sebagai surga oleh raja-raja Saka. Meski begitu, kuburan dengan perhiasan emas cukup langka.

Para ilmuwan mengatakan, wilayah tersebut kini menjadi fokus para arkeolog. Mereka berharap bisa menemukan objek berharga lainnya di sana.

“Ada banyak makam dan prospeknya sangat besar,” pungkas Yerben Oralbai, arkeolog asal Kazakhstan.

Wednesday, June 8, 2022

Lubang Raksasa Muncul Tiba-Tiba di Selandia Baru, Apa Penyebabnya?


Baru-baru ini muncul sinkhole raksasa di Selandia Baru. Sinkhole adalah lubang di tanah yang terbentuk secara tiba-tiba.

Saking besarnya sinkhole yang muncul, tak salah jika sinkhole di Selandia Baru itu disebut sebagai salah satu sinkhole terbesar. Ukuran panjangnya saja mencapai dua kali lapangan sepak bola.  

Ahli gunung berapi Selandia Baru Brad Scott mengatakan kepada media setempat, sinkhole ini adalah lubang terbesar uang pernah dilihatnya. Ia menduga ukuran sinkhole ini berpotensi lebih besar.

Sinkhole yang ada di North Island, Selandia Baru itu terbentuk setelah kawasan tersebut diguyur hujan lebat. Penampakan ini pertama kali diketahui seorang peternak sapi saat sedang mengumpulkan sapi dan nyaris jatuh ke dalam lubang saat mengendarai sepedanya.

Dilansir National Geographic, Senin (7/5/2018), ini bukanlah Sinkhole pertama yang muncul di Selandia Baru. Beberapa tahun sebelumnya sudah ada sembilan sinkhole.

Selandia Baru memiliki beberapa garis patahan utama dan sinkhole lebih mungkin muncul di dekat garis patahan. Sinkhole terbaru ini muncul di atas medan batu apung, di mana tanah rawan ambruk.

Sinkhole di Selandia Baru

Menurut survei Geologi AS, sinkhole muncul saat air tanah tidak mengalir di permukaan dan menghancurkan batu di bawahnya. Batu kapur dan ladang garam adalah lahan yang paling sering menjadi tempat munculnya sinkhole ini.

Batu kapur dan ladang garam adalah lahan yang paling sering menjadi tempat munculnya sinkhole ini.

Sinkhole yang baru muncul di Selandia Baru memiliki dinding vertikal tinggi yang membuatnya terlihat seperti Grand Canyon, sementara sinkhole lain bentuknya bulat seperti mangkuk.

Bila air mengikis tanah di bawah sinkhole terus menerus dari waktu ke waktu, pada akhirnya tanah yang ada di atasnya akan longsor.

Menurut situs web USGS, beberapa negara bagian di AS seperti Florida, Texas, Alabama, Missouri, Kentucky, Tennessee, dan Pennsylvania memiliki tekstur tanah yang sangat mungkin dapat membuat sinkhole.

Selain kondisi tanah, sinkhole juga bisa disebabkan oleh pengembangan lahan manusia. Kegiatan seperti konstruksi dan pemompaan air tanah dapat membuat tanah kurang stabil dan membuat kemunculan sinkhole lebih mungkin terjadi.

Seluruh wilayah di dunia dengan tanah yang mudah larut dapat berpotensi mengembangkan sinkhole.


 

Tuesday, June 7, 2022

Retakan Raksasa di Kenya Ini Bisa Membelah Benua Afrika Menjadi Dua

 

 Rekaman video yang menakjubkan menunjukkan retakan besar di Kenya. Celah besar itu memiliki kedalaman 50 kaki dan lebar 65 kaki. Saking besarnya, retakan tersebut merusak jalan raya antara Nairobi-Narok.

Saat ini, para ilmuwan yang mempelajari lempeng tektonik, mengatakan bahwa ada kemungkinan retakan tersebut akan membelah benua Afrika menjadi dua.

Lucia Perez Diaz, peneliti di University of London, menjelaskan bagaimana perpecahan benua ini bisa saja terjadi.

Menulis di The Conversation, Diaz menjelaskan: “Lembah Celah Besar membentang sepanjang 1800 mil dari Teluk Aden di utara menuju Zimbabwe di selatan. Membagi dataran Afrika menjadi dua bagian yang tidak seimbang. Yakni, Somali dan Nubian.

“Aktivitas di bagian timur lembah – sepanjang Etiopia, Kenya, dan Tanzania – menjadi bukti ketika retakan besar tiba-tiba muncul di barat daya Kenya.”

Proses tersebut dikenal dengan sebutan “rontoknya benua (continental rifting)”. Perlu kekuatan besar di Bumi untuk menyebabkan hal tersebut.


Di bawah kerak Bumi, “bulu magma” terbentuk dan mendorong tenaga ke atas hingga akhirnya permukaan terbelah menjadi dua.

“Pada akhirnya, selama puluhan juta tahun, dasar laut menyebar ke sepanjang celah lembah. Air laut akan membanjiri retakkan tersebut dan daratan benua Afrika menjadi semakin kecil. Akan terbentuk pulau-pulau baru di Samudra Hindia yang terdiri dari bagian-bagian Etiopia dan Somalia, termasuk Tanduk Afrika,” papar Diaz.

Zona keretakan ini aktif menyebar beberapa milimeter per tahun.

Artinya, dalam 10 juta tahun mendatang, lautan baru akan muncul dan memisahkan benua Afrika menjadi dua wilayah berbeda.



Monday, June 6, 2022

Kedua Kalinya Sebuah Tsunami Menyebar ke Tiga Samudra, Kok Bisa?


Sebuah tsunami mengejutkan yang berpusat di Samudra Atlantik Selatan menjalar hingga jarak lebih dari 10.000 kilometer. Tsunami ini menyebar melalui tiga samudra: Atlantik Utara, Pasifik, dan Hindia.

Ini adalah kedua kalinya sebuah tsunami tercatat menyebar di tiga samudra berbeda pada abad 21 ini. Tsunami pertama yang tercatat menyebar di tiga samudra pada abad ini adalah tsunami akibat gempa bumi di Samudra Hindia pada 2004. Tsunami Samudra Hindia 2004 ini dikenal juga sebagai tsunami Aceh karena menewaskan sekitar 230.000 orang di Aceh.

Tsuami kedua abad ini yang tercatat menyebar di tiga samudra bari terjadi pada Agustus 2021. Para ilmuwan awalnya bingun bagaimana tsunami itu bisa menyebar ke tiga samudra. Baru sekaranglah mereka akhirnya mengetahui bagaimana gelombang itu tsunami dipicu.

Gempa yang memicu tsunami pada Agustus lalu berhasil diukur memiliki pusat 47 kilometer di bawah dasar laut. Kedalaman ini sebenarnya terlalu dalam untuk memicu gelombang tsunami yang signifikan.

Namun ternyata, tsunami ini bukan hanya produk dari satu gempa berkekuatan 7,5 magnitudo tersebut. Hasil pemeriksaan baru pada data seismologi menunjukkan bahwa gempa itu sebenarnya adalah serangkaian lima sub-gempa, dan di tengah-tengahnya ada gemuruh yang jauh lebih besar dan lebih dangkal yang mungkin menyebabkan tsunami global.

Gempa ketiga yang 'tak terlihat' ini terjadi hanya 15 kilometer di bawah permukaan bumi dengan kekuatan 8,2 magnitudo. Namun di tengah keramaian gempa-gempa tersebut, sistem pemantauan kita benar-benar telah melewatkannya.

"Peristiwa ketiga ini spesial karena sangat besar, dan tidak bersuara," jelas seismolog Zhe Jia dari California Institute of Technology.

"Dalam data yang biasa kami lihat [untuk pemantauan gempa], gempa itu hampir tidak terlihat," ujar Jia seperti dilansir Science Alert.

Memotong data seismologi ke dalam periode yang lebih lama dari 500 detik, Jia dan rekan-rekannya kemudian mampu mengungkapkan keberadaan gempa dangkal dan lambat tersebut yang belum pernah terlihat sebelumnya.


Di antara kelompok gangguan biasa lainnya, para peneliti itu menemukan gemuruh selama 3 menit yang memecah bagian antarmuka lempeng sepanjang 200 kilometer. Secara keseluruhan, peristiwa yang satu ini menghasilkan lebih dari 70 persen dari total momen seismik yang terekam.

"Jadi," para peneliti menyimpulkan, "gempa South Sandwich Island tampaknya merupakan gabungan dari retakan dalam dan slip tsunamigenik lambat; ini menjelaskan kombinasi yang agak tidak biasa dari kedalaman yang relatif besar tersebut dan tsunami yang teramati secara global itu."

Temuan hasil studi baru yang telah terbit di jurnal Geophysical Research Letters ini menunjukkan bahwa sistem peringatan gempa dan tsunami kita perlu diperbarui. Jika kita ingin memperingatkan masyarakat pesisir tentang kejadian serupa, maka sistem kita perlu membaca yang tersembunyi di dalam data untuk melihat gempa yang lebih besar.

"Sulit untuk menemukan gempa kedua karena terkubur di gempa pertama," kata Jia.

"Sangat jarang terjadi gempa bumi kompleks seperti ini... Dan jika kita tidak menggunakan dataset yang tepat, kita tidak dapat benar-benar melihat apa yang tersembunyi di dalamnya."

Judith Hubbard, ahli geologi yang bekerja untuk Earth Observatory of Singapore dan yang tidak terlibat dalam studi terbaru ini, mengatakan dia bersyukur bahwa orang-orang lain telah menggali data tsunami tak terduga itu untuk lebih memahami dari mana asalnya.

"Dengan gempa bumi yang kompleks ini, gempa terjadi dan kita berpikir, 'Oh, itu tidak terlalu besar, kami tidak perlu khawatir.' Kemudian tsunami menerjang dan menyebabkan banyak kerusakan," kata Hubbard.

"Studi ini adalah contoh yang bagus tentang bagaimana kita dapat memahami bagaimana peristiwa ini bekerja, dan bagaimana kita dapat mendeteksinya lebih cepat sehingga kita dapat memiliki lebih banyak tanda peringatan di masa depan."

Sunday, June 5, 2022

Pedang Bizantium Langka Berusia 1000 Tahun Ditemukan di Turki


Dua buah pedang langka dan unik ditemukan oleh para arkeolog di Turki. Keduanya ditemukan di tempat terpisah di kota yang merupakan bekas Kekaisaran Bizantium. Salah satunya, digali di gereja, diperkirakan digunakan sebagai persembahan.

Kenop bundar seperti cincin menghiasi ujung gagang setiap pedang. Model pedang seperti ini jarang ditemukan di Bizantium. Menurut penelitian, fitur menarik pada kedua pedang ini membedakan pedang kenop bundar lainnya dari peradaban terdekat.

Hingga saat ini, sulit untuk menentukan etnis atau kelompok apa yang menggunakannya sekitar 1000 tahun yang lalu.

Para arkeolog menemukan pedang di Amorium. Ini merupakan sebuah kota Bizantium yang menjadi persimpangan penting antara Konstantinopel dan kota-kota besar lainnya. Amorium juga sempat menjadi lokasi militer dan benteng yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama melawan invasi Arab.

Para peneliti melakukan penggalian sistematis di Amorium sejak tahun 1988. Pedang pertama ditemukan terpisah-pisah dan berkarat di atrium sebuah gereja pada tahun 1993.  Yang kedua ditemukan pada tahun 2001 di bagian bawah kota. Keduanya berasal dari abad ke-10 dan ke-11, selama periode Bizantium tengah (843 hingga 1204).

Penemuan pedang di sebuah gereja mungkin "dianggap aneh". Namun menurut Errikos Maniotis, seorang peneliti independent, meletakkan senjata di tempat-tempat suci menjadi kebiasaan pada saat itu.

Ada kemungkinan bahwa pedang tersebut diletakkan di gereja bukan untuk tujuan kekerasan. "Dari sumber bersejarah diketahui bahwa senjata telah disimpan sebagai persembahan nazar di gereja-gereja," tutur Maniotis. Benda khusus sengaja ditinggalkan untuk dewa, pemimpin agama, atau lembaga.

Kaisar Bizantium Konstantinus VII Porphyrogennetos menulis bahwa perisai Santo Theodore Teron digantung di bawah kubah gereja. Ini dilakukan sebagai penghormatan.

Baca Juga: Tradisi Pria Romawi Kuno Potong Ibu Jari, Ternyata Demi Hal Ini

“Senjata yang ditempatkan di gereja biasanya dikaitkan dengan relikui suci yang berhubungan dengan para santo prajurit," tambah Maniotis. Dalam agama, relikui biasanya terdiri atas jasad atau bagian tubuh serta benda-benda pribadi dari seseorang yang dianggap suci atau dihormati. Relikui ini diawetkan atau disimpan untuk tujuan penghormatan.


Pedang kedua, ditemukan di kota yang lebih rendah, memiliki gagang sepanjang 14 sentimeter dan bilah bermata dua. Panjang bilahnya setidaknya 61 sentimeter. Penemuan ini dipaparkan oleh Maniotis dan rekan peneliti studi Zeliha Demirel-Gökalp dalam studi. Demirel-Gökalp adalah direktur penggalian di Amorium dan seorang profesor di Departemen Sejarah Seni.

Dimensi pedang menunjukkan bahwa seorang prajurit Bizantium mungkin telah menggunakannya sebagai pedang opsional sekunder selama pertempuran.

Meskipun jarang terjadi di Kekaisaran Bizantium, pedang berkenop cincin dikenal dari budaya lain. Kenop berbentuk cincin yang paling awal diketahui berasal Dinasti Han Tiongkok (206 SM hingga 220 M). Praktik penggunaannya pun menyebar ke bangsa Skit dan Hun nomaden.

Pada budaya lain, pedang ini ditemukan di Sarmatian, yang tinggal di Asia Tengah, dan Romawi. Bisa jadi tentara Romawi mengadopsi praktik ini dari tentara bayaran Sarmatian.

Tidak seperti pedang lain yang pernah ditemukan, pedang yang ditemukan di gereja memiliki struktur seperti pelindung silang (cross-guards). Ini tampak seperti sepotong logam yang tegak lurus dengan bilah di ujung pegangannya. Fitur ini, serta yang lainnya, belum pernah terlihat pada pedang kenop cincin sebelumnya. Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa pedang ini unik dan langka.  

Pedang itu sangat tidak biasa, para peneliti mengusulkan untuk memberi nama baru yaitu pedang kenop cincin Bizantium hibrida. Lokasi tempat penemuan kedua pedang berdekatan satu sama lain di Amorium. Sehingga mungkin ada gudang senjata khusus di kota yang memproduksi jenis pedang cincin ini. Atau bisa jadi semua ini hanya kebetulan semata.