Monday, July 11, 2022

Pergi ke Luar Negeri, Mumi Raja Ramses Wajib Memiliki Paspor


Bukan cuma warga negara biasa, mumi raja yang paling berkuasa di Mesir wajib memiliki paspor.

Berdasarkan referensi, dokumen perjalanan mulai dikeluarkan pada tahun 450 SM. Sedangkan Kerajaan Inggris baru menggunakan dokumen perjalanan pada abad ke-15. Standarisasi ukuran paspor pun baru dilakukan pada awal abad ke-20. Hasilnya adalah paspor berbentuk buku kecil seperti yang kita gunakan sekarang ini.

Meski penggunaannya terbilang masih baru, mumi Raja Ramses II juga memiliki dokumen perjalanan ini. Agar dapat melakukan perjalanan ke luar negeri, Raja Ramses II, yang dikenal juga sebagai Ramses Agung, diwajibkan untuk memiliki paspor.

Pada tahun 1974, hampir 3000 tahun setelah kematiannya, pemerintah Mesir mengeluarkan dokumen perjalanan untuk mumi Raja Ramses II. Hal ini dilakukan agar sang Ramses Agung dapat diangkut ke Paris untuk perawatan iradiasi untuk mencegah pertumbuhan jamur. Ternyata, bahkan mumi pun masih membutuhkan paspor untuk melakukan perjalanan antar negara.

Paspor sang Firaun ini juga memiliki foto identitas layaknya paspor lainnya. Namun bedanya, foto raja dari dinasti ke-19 kerajaan Mesir ini baru diambil beberapa ribu tahun setelah kematiannya.

Raja Ramses II sering dianggap sebagai firaun terbesar, paling terkenal, dan paling berkuasa di Mesir. Ia berkuasa selama 67 tahun dan dikenang atas penandatanganan traktat perdamaian pertama.

Setelah kematiannya, ia dimakamkan di sebuah makam di Lembah Raja-Raja. Muminya kemudian dipindahkan ke celah reruntuhan di Thebes, ibu kota Mesir Kuno. Ditemukan pada tahun 1881, mumi Raja Ramses II kini berada di Museum Nasional Peradaban Mesir.

Pada tahun 1975, Maurice Bucaille, seorang dokter Prancis yang mempelajari mumi Raja Ramses II mengatakan bahwa mumi itu terancam oleh jamur. Agar tidak terjadi pembusukan total, maka harus dilakukan perawatan dengan segera di Paris


Undang-undang Prancis menetapkan bahwa dibutuhkan paspor sah untuk melakukan perjalanan keluar masuk negara tersebut. Untuk mematuhi hukum setempat, pemerintah Mesir mengeluarkan paspor bagi sang Firaun, layaknya warga negara Mesir lainnya.

The New York Times melaporkan pada 27 September 1976 bahwa “Mumi itu disambut oleh Sekretaris Negara untuk Universitas, Alice Saunter-Seite dan detasemen tentara. Raja Ramses II mendapat perlakuan khusus di Bandara Le Bourget.”

Mumi Raja Ramses II kemudian dibawa ke Museum Etnologi Paris untuk diperiksa oleh Profesor Pierre-Fernand Ceccaldi. Ia merupakan kepala ilmuwan forensik di Laboratorium Identifikasi Kriminal Paris.

Selama pemeriksaan, Cecaldi membuat catatan tentang rambut Raja Ramses II menunjukkan beberapa data pelengkap, terutama tentang pigmentasi. Ia memaparkan bahwa Firaun ke-19 ini berambut “jahe”atau cymnotricche leucoderma. Ini juga berarti dia adalah orang berkulit putih dengan rambut jahe bergelombang.


"Di Mesir kuno orang-orang dengan rambut merah dikaitkan dengan dewa Set, pembunuh Osiris. Nama ayah Raja Ramses II, Seti I, berarti "pengikut Set" tambah Cecaldi.

Pemeriksaan tersebut juga mengungkapkan bukti luka, patah tulang, dan radang sendi yang membuat sang Raja bungkuk di tahun-tahun terakhir hidupnya.

Pada tahun 2007 ditemukan bahwa jumbai kecil rambut Raja Ramses II dicuri selama proses pelestarian tahun 1976. Seorang warga negara berkebangsaan Prancis bernama Jean-Michel Diebolt mengatakan dia mewarisi rambut itu dari mendiang ayahnya. Ayahnya merupakan anggota tim peneliti yang menganalisis mumi. Deibolt telah mencoba menjualnya melalui lelang online seharga 2000 euro. Pihak berwenang Prancis dengan sigap menangkapnya sebelum rambut tersebut terjual.

Friday, July 8, 2022

Hasil Studi Ungkap Hiu Cookiecutter Meneror Hewan Laut Berbagai Ukuran


Hiu cookiecutter atau Isistius brasiliensis merupakan hewan laut yang panjang tubuhnya mencapai 50sentimeter. Hewan ini pada laman Oceana disebut sebagai hewan parasit, karena memakan hewan yang lebih besar tanpa membunuhnya.

Dalam studi baru, disebutkan bahwa hiu bermata hijau ini meneror hewan dari berbagai ukuran. Dilansir dari Live Science, hiu cookiecutter menggunakan gigi runcing mereka untuk memakan hiu putih besar, yang berukuran sepuluh kali lipat lebih besar.

Para ilmuwan mengamati tanda gigitan pada hewan yang lebih besar dan berasumsi bahwa itulah yang dimakan oleh hiu jenis ini. Akan tetapi, kenyatanya, Isistius brasiliensis juga mengunyah hewan lain yang berada di dasar rantai makanan. Inilah yang menjadikan mereka memiliki peran unik dalam ekosistem laut.

“Mereka memakan semuanya mulai dari predator puncak yang terbesar dan terberat seperti hiu putih, orca, semua yang dapat Anda bayangkan, hingga makhluk terkecil. Tidak banyak hewan yang melakukan ini,” ujar Aaron Carlisle, seorang asisten profesor di School of Marine Science and Policy di Universitas Delaware kepada UD Daily.

Hiu cookiecutter hidup di perairan tropis dan subtropis. Mereka bisa tinggal di kedalaman lebih dari 1.500 meter. Para peneliti menguji asumsi bahwa hiu ini memakan hewan yang lebih besar di laut bagian atas dengan mempelajari 14 hiu jenis itu. Belasan hiu iniditangkap oleh Monterey Bay Aquarium di Hawaii.

Perut hiu sebagian besar kosong, tidak ada makanan. Namun, tim dapat mengetahui apa saja yang dikonsumsi oleh hewan dengan melihat komposisi kimia jaringan mereka. Tidak hanya itu, tim juga memerikan DNA lingkungan (eDNA) atau keberadaan DNA yang tersisa bahkan ketika tidak ada jaringan untuk dipelajari.

“DNA lingkungan adalah alat yang semakin populer dan kuat, yang bekerja dengan gagasan apabila hewan berenang di laut, maka ada DNA yang terlepas di dalam air,” jelas Aaron Carlisle.

“Jadi, jika Anda mengambil sampel air dan menyaringnya, Anda dapat mengekstrak DNA dari semua yang ada di air itu, serta mengidentifikasi spesies apa saja yang tersedia. Kami mencobanya pada isi perut mereka (hiu cookiecutter),” lanjutnya.

Adapun hasil yang didapat oleh para peneliti ialah hiu ini kebanyakan memakan spesies yang lebih kecil di kedalaman lebih dalam. Sebut saja ada krustasea, cumi-cumi, dan ikan kecil seperti anggota genus Ariomma dan Cololabis. Beberapa hewan yang dimangsa ini mungkin cukup kecil untuk ditelan utuh. Sebaliknya, hewan besar dari laut bagian atas hanya 10 persen dalam pola makan hiu cookiecutter.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam laman Scientific Reports dengan judul Intergrating multiple chemical tracers to elucidate the diet and habitat of Cookiecutter Sharks pada 3 Juni 2021. Temuan tersebut menjelaskan mengenai perilaku hewan laut yang satu ini. Kendati demikian, belum dapat dipastikan apakah pola makan yang sama terjadi pada hiu cookiecutter secara global, karena sampel hiu dalam penelitian ini kecil dan dari rentang geografis yang terbatas.

Dikutip dari laman Shark Research Institute, hiu cookiecutter berbentuk seperti cerutu dengan moncong bulat yang sangat pendek. Hewan ini memiliki bibir suktorial, sirip punggung terletak jauh di belakang dan sirip ekor besar berbentuk dayung.

Hiu jenis ini adalah perenang yang buruk dan umumnya ditangkap hanya pada malam hari. Mereka mungkin melakukan migrasi secara vertikal ke perairan dalam sekitar 2.000–3.000 meter ke tengah laut atau permukaan pada malam hari.

Thursday, July 7, 2022

Temuan Dinosaurus yang Terawetkan Kulitnya Berusia 110 Juta Tahun


Para arkeolog menemukan 'mumi' dinosaurus terawetkan dengan baik. Anda mungkin bertanya-tanya, kenapa disebut mumi? Ya, hal ini lantaran para arkeolog bukan hanya menemukan tulang dinosaurus saja melainkan juga kulitnya.

Menurut penelitian, nodosaurus merupakan genus dinosaurus ankylosaurian dari Late Cretaceous dan juga herbivora yang berjalan dengan empat kaki. Ini merupakan salah satu spesimen nodosaurus tertua yang pernah ditemukan. Sisa-sisa fosil sangat hidup, menyerupai naga yang sedang tidur.

“Pada dasarnya adalah mumi dinosaurusbenar-benar luar biasa,” Don Brinkman, direktur pelestarian dan penelitian di Museum Royal Tyrrell.

Pihak museum bekerja sama dengan National Geographic Society dalam meneliti nodosaurus baru. Nodosaurus ditemukan pada 2011 oleh perusahaan penggali yang tidak menaruh curiga melakukan penemuan bersejarah tersebut saat menggali pasir minyak tambang.

Setelah enam tahun dan 7.000 jam rekonstruksi yang melelahkan, nodosaurus siap untuk bertemu dengan publik.

Lebih lanjut, dinosaurus jenis ini memiliki kulit tebal dan runcing untuk melindunginya dari pemangsa, seperti baju besi prajurit perang. Kulit ini masih tersisa dan terawetkan berusia 110 juta tahun. Pelestarian pelat lapis baja yang luar biasa, serta beberapa sisik yang diawetkan, membantu ahli paleontologi akhirnya memahami ukuran dan bentuk pertahanan keratin makhluk itu.

“Saya telah menyebut yang satu ini batu Rosetta karena baju besinya,” Donald Henderson, kurator dinosaurus di Museum Museum Paleontologi Royal Tyrrell di mana fosil tersebut dipamerkan.



Para ilmuwan menganggap bahwa Nodosaurus ini mungkin telah tersapu oleh sungai yang banjir dan terbawa ke laut, di mana ia akhirnya tenggelam. Selama jutaan tahun di dasar laut, mineral melindungi baju besi dan kulit dinosaurus ini, melestarikannya dalam bentuk yang sekarang dipamerkan.

"Kami tidak hanya memiliki kerangka. Kami memiliki dinosaurus seperti yang sebenarnya," kata Caleb Brown sebagai peneliti postdoctoral di Museum Paleontologi Royal Tyrrell.

Spesimen baru ini bukan satu-satunya spesimen ankylosaur luar biasa yang baru saja ditemukan. Sebelumnya, Royal Ontario Museum juga sempat menemukan spesies baru di Montana, yang mereka juluki Zuul berisi jaringan lunak seperti kerangka dan bagian tanduk. Namun sisa-sisa dinosaurus sama sekali tidak mirip dengan nodosaurus di Alberta.

Meski demikian, penemuan dua sampel yang luar biasa ini sangat membantu para peneliti untuk mengetahui seperti apa rupa hewan ini dan bagaimana mereka menggunakan tanduk sebagai pelindung mereka.

Nodosaurus sekarang dipajang di Museum Royal Tyrrell di Drumheller, Alberta, Kanada sebagai bagian dari pameran yang menyoroti pentingnya kerja sama antara industri ekstraksi dan ahli paleontologi dalam mengungkap fosil.

Saat masih hidup, Nodosaurus diperkirakan beratnya bisa mencapai 1.360 kilogram. Sedangkan saat ditemukan, mumi dinosaurus ini beratnya sekitar 1.134 kilogram. Wah penemuan yang sangat menakjubkan bukan?

Wednesday, July 6, 2022

Tak Ada Atmosfer yang Mendekati Seperti Bumi, Kecuali Planet Kepler-442b

 Ada sekian banyak bintang di galaksi Bima Sakti, dan setiap bintang memiliki planet dengan jumlah yang beragam. Ada yang letaknya terlalu dekat dari bintangnya, ada yang letaknya terlalu jauh, atau di zona yang semestinya layak huni.

Meski ada planet yang berada di zona layak huni, tetapi tak semuanya bisa menampung kehidupan seperti di Bumi, dan hanya sedikit yang memiliki oksigen. Sekalipun memiliki oksigen, belum tentu planet itu memiliki kehidupan di dalamnya.

Tiliklah Mars, tetangga kita yang sama-sama berada di zona layak huni dan memiliki oksigen walau tipis. Tetapi planet merah itu masih sukar ditemukan tanda adanya kehidupan.

Berdasarkan studi Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (Vol 505, 2021), ternyata kondisi seperti Bumi di planet yang berpotensi layak huni jauh lebih langka dari yang diperkirakan sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan Giovanni Covone dan tim dari berbagai lembaga itu, berfokus pada kondisi yang diperlukan untuk fotosintesis berbasis oksigen untuk berkembang di suatu planet.

Dengan pandangan itu--yang dianggap sebagai standar kondisi Bumi--dapat memungkinkan biosfer kompleks tercipta, seperti menanam tanaman yang membutuhkan radiasi matahari yang cukup.

Diyakini, untuk membuat fotosintesis yang membuat kehidupan subur ada banyak elemen lainnya. Seperti penataan ulang karbon dioksida dan air yang menjadi glukosa, dan molekul oksigen yang sangat berperan. Tetapi tetap saja semua elemen itu membutuhkan kualitas cahaya yang cukup energik untuk menghasilkan reaksi, tanpa menghancurkan protein.

Mereka mempelajari cahaya yang diterima oleh 10 planet ekstrasurya yang layak huni di berbagai jenis bintang.

Para peneliti mengambil ukuran cahaya yang jatuh di permukaan planet yang berbeda, dan panjang gelombang yang membentuk radiasi. Lalu menghitung tingkat, yang disebut sebagai, eksergi, atau jumlah proses yang dapat diekstrak dari sinar bintangnya.


Hasilnya, mereka gagal menemukan kecocokan tunggal seperi kondisi atmosfer Bumi. Alasannya, mayoritas kebetulan bintang yang diedari planet-planet ini adalah katai merah. Bintang ini mampu meresap ke bagian dalam planet dengan angin kencang yang dapat dengan cepat melepas atmosfer.

Mereka menulis, bintang dengan suhu sekitar setengah dari Matahari , tidak dapat menopang biosfer yang mirip dengan Bumi. Lantaran, bintang seperti itu tidak menyediakan energi yang cukup dalam rentang panjang gelombang yang benar.

Meski demikian, peristiwa oksigeniknya masih dimungkinkan, tetapi planet-planet seperti itu tidak dapat mempertahankan biosfer yang kaya.

Sedangkan pada bintang katai merah, yang suhunya sepertiga dari suhu Matahari juga kurang lebih sama.

Bintang katai yang suhunya lebih dingin, mustahil dapat memberikan intensitas panjang gelombang yang tepat untuk mengaktifkan fotosintesis.

"Karena katai merah adalah jenis bintang yang umum di galaksi kita, hasil ini menunjukkan bahwa kondisi seperti bumi di planet lain mungkin jauh lebih jarnag dari yang kita harapkan," kata Covone, dikutip dari rilis.

Covone menambahkan, bintang yang lebih terang hingga 10 kali lebih banyak dari kisaran Matahari, akan lebih baik untuk menghasilkan banyak energi. Tetapi umumnya tidak cukup lama untuk kehidupan yang kompleks seperti yang ada di Bumi agar bisa berkembang.

"Studi ini menempatkan batasan kuat pada ruang parameter untuk kehidupan yang kompleks, jadi sayangnya tampaknya "titik manis" untuk menampung biosfer mirip Bumi yang kaya tidak begitu luas," ujar Covone.

Dalam laporan Covone dan tim, hanya ada satu dari planet yang diteliti yang hampir menerima radiasi bintang. Radiasi ini diperlukan diyakini dapat menopang biosfer yang besar.

Planet itu adalah Kepler-442b, sebuah planet berbatu yang massanya sekitar dua kali massa Bumi, dan mengorbit bintang yang cukup panas yang disebut tipe-K, atau Kepler-22. 

"Jadi, kemungkinan besar biosfer Kepler-442b tidak terbatas cahaya," tulis para peneliti. "Perlu juga diperhatikan bahwa Kepler-442b tidak terkunci secara pasang surut dan mengorbit bintang tipe-K."


"Hal ini membuat planet ini menjadi target yang menjanjikan untuk pencarian tanda-tanda kehidupan, karena Cuntz & Guinan (2016) telah menunjukkan bahwa bintang tipe-K menyediakan lingkungan sirkumstellar yang menguntungkan bagi kehidupan."

Para peneliti memberi catatan mengenai pertimbagan cahaya bintang dan kehidupan.Yakni, produksi biomassa di Bumi tidak dibatasi oleh jumlah baiknya kualitas radiasi yang masuk, melainkan ketersediaan nutrisi yang dimiliki. 

Sehingga mereka berpendapat, planet ekstrasurya dengan nilai kuntatitas rendah sebenarnya bisa saja menampung biosfer sebanding dengan di planet kita. Tetapi bisa saja standarnya berbeda dengan yang ada di Bumi kita.

Covone menambahkan, "Studi ini menempatkan batasan kuat untuk ruang parameter pada kehidupan yang kompleks. Jadi sayangnya, tampaknya "titik manis" untuk menampung biosfer mirip Bumi yang kaya tidak begitu luas [di angkasa luar]."

Untuk membuka cakrawala pengetahuan mereka tentang apa sjaa yang dibutuhkan untuk sebuah planet yang dibutuhkan, mereka menaruh harapan pada misi di masa depan. Salah satunya, pada James Webb Space Telsecope (JWST) yang akan diluncurkan akhir tahun ini.

Monday, July 4, 2022

Sejarah Tersembunyi Julfar, Kota yang Hilang di Gurun Uni Emirat Arab


Saat ini Dubai di Uni Emirat Arab (UEA) ini merupakan salah satu kota terbaik dan termaju di Timur Tengah bahkan di dunia. Namun di balik kemajuan pesat salah satu kotanya ini, ternyata UEA menyimpan banyak sejarah dari kota-kota kunonya, termasuk kota-kota yang hilang terkubur di bawah gurunnya.

Salah satu kota hilang paling terkenal di wilayah Timur Tengah adalah sebuah kota kuno di UEA. Nama kota yang hilang itu adalah Julfar.

Julfar diyakini merupakan rumah bagi pelaut Arab legendaris Ahmed ibn Majid, bahkan juga diduga sebagai tempat tinggal Sindbad si Pelaut. Julfar berkembang pesat selama seribu tahun sebelum jatuh ke dalam kehancuran dan menghilang dari ingatan manusia selama hampir dua abad.

Tidak seperti kota gurun lainnya, Julfar adalah pelabuhan yang berkembang pesat. Bahkan, kota ini menjadi pusat perdagangan selatan Arab Teluk pada Abad Pertengahan.

Kota ini diketahui berada di suatu tempat di pantai Teluk Persia di utara Dubai. Situs dari kota itu pernah ditemukan oleh para arkeolog pada tahun 1960-an dan berpuluh-puluh tahun kemudian situs itu tidak pernah ditemukan lagi.

Barulah pada tahun 2010, seperti diberitakan The National, sisa-sisa bangunan sebuah kota kuno yang diyakini sebagai kota perdagangan abad pertengahan Julfar ditemkan kembali di wilayah Ras al Khaimah. Upaya penggalian arkeologi kota bata lumpur tua itu didanai oleh Pemerintah Ras al Khaimah.

Dr Kevin Lane, manajer proyek penggalian tersebut, berkata: "Ini benar-benar merevisi apa yang kami pikirkan tentang Julfar. Jauh lebih substansial. Kami sudah tahu bahwa ini adalah pelabuhan yang ramai. Sekarang kami memiliki buktinya. "

Ancient Origins memaparkan bahwa tanda-tanda permukiman paling awal yang ditemukan di situs Julfar berasal dari abad ke-6. Periode tersebut adalah masa ketika penduduknya sudah berdagang hingga ke India dan Timur Jauh secara rutin.

Kemudian abad ke-10 hingga 14 adalah zaman keemasan bagi Julfar dan untuk perdagangan dan pelayaran Arab jarak jauh. Para navigator dan pelaut Arab secara rutin melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia. Orang-orang Arab telah berlayar ke perairan Eropa jauh sebelum orang-orang Eropa berhasil berlayar melalui Samudra Hindia dan ke Teluk Persia.

Sebagai pangkalan utama pelayaran dan perdagangan ini, Julfar adalah kota terbesar dan terpenting di Teluk selatan selama lebih dari seribu tahun. Para pedagang Arab secara rutin melakukan pelayaran laut raksasa selama delapan belas bulan sejauh Tiongkok untuk berdagang.

Pusat komersial yang begitu berharga ini menarik terus perhatian para penjelajah di luar Arab. Portugis mengambil alih wilayah ini pada abad ke-16, dan saat itu Julfar menjadi kota besar yang berpenduduk sekitar 70.000 orang.

Seabad kemudian Persia merebutnya. Namun pada 1750 mereka menyerah pada suku Qawasim dari Sharjah yang menempatkan diri mereka di wilayah Ras al-Khaimah. Suku tersebut terus menguasai daerah itu hingga hari ini.

Namun mereka meninggalkan Julfar sehingga lama-kelamaan kota itu terlupakan dan hanya menjadi reruntuhan di antara bukit-bukit pasir. Saat ini sebagian besar area Kota Julfar kemungkinan besar masih tersembunyi di bawah bukit-bukit pasir yang luas di utara Ras al-Khaimah tersebut.

Ras al-Khaimah adalah wilayah hamparan padang pasir yang luas yang ditopang oleh Pegunungan Hajar. Wilayah gurun yang mencakup sekitar 95% teritorial Uni Emirat Arab ini tidak diragukan lagi masih menyembunyikan banyak rahasia.

Hampir setiap tahun ditemukan penemuan-penemuan signifikan yang mengisi beberapa ruang kosong pagi kepingan-kepingan puzzle masa lalu dari salah satu negara Arab yang paling luar biasa ini. Yang menarik, semua situs penemuan itu ditambah banyak tempat eksotis lainnya hanya berjarak sekitar satu jam berkendara dari kota modern Dubai sehingga memudahkan para pejalan untuk menziarahinya.

Penjelasan Astronom soal Dugaan Penampakan Meteor Jatuh di Banggai

Kejadian yang diduga sebagai fenomena meteor jatuh telah membuat heboh warga di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kejadian pada Selasa (16/3/2021) malam sekitar pukul 21.00 WITA itu disebutkan telah menimbulkan kilatan cahaya yang sangat terang serta suara dentuman yang cukup kuat.

Kejadian di Banggai tersebut sempat terekam kamera ponsel warga setempat. Seorang anak perempuan di Kecamatan Luwuk, Banggai, yang sedang merekam sebuah alat berat dan kondisi di sekitarnya pada malam hari itu secara tak sengaja merekam kejadian tersebut. Ia sempat menggeser arah bidikan kamera ke kiri, dan kemudian ia kembalikan ke arah kanan. Di saat itulah, terlihat cahaya terang bergerak diagonal dari arah atas ke bawah.

Tak hanya bergerak, benda tersebut juga seolah terlihat sempat meledak hingga menghasilkan cahaya yang sangat terang. "Apa itu?! Apa itu mama?" kata anak perempuan yang berada di belakang kamera. Berdasarkan pemberitaan media lokal setempat, sekitar pukul 21.00 WITA terdengar ledakan yang menggetarkan rumah warga tak lama setelah kilatan cahaya yang sangat terang itu terlihat.

Menanggapi video viral tersebut, astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, membenarkan bahwa penampakan benda jatuh itu adalah meteoroid. "Betul itu merupakan kejadian masuknya meteoroid ke atmosfer Bumi," kata Marufin seperti dikutip dari Kompas.com.

Menurut dia, penampakan fenomena meteor jatuh di Banggai, Sulawesi Tengah, kali ini sangat terang atau boloid (bolide), karena pada puncaknya sempat seterang Bulan purnama. "Makanya kejadian langit ini bisa disebut Peristiwa Banggai atau Peristiwa Pagimana (lokasi dimana kejadian tersebut terekam)," ujarnya.

Pernyataan Marufin itu juga dibenarkan oleh Rhorom Priyatikanto, peneliti astronomi dari Pusat Sains Antariksa Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan). "Dari video yang saya lihat, tampak seperti meteor terang/bolide," kata Rhorom seperti juga dilansir Kompas.com.

Melihat intensitas cahaya yang dihasilkan, ia menduga meteor itu memiliki ukuran yang cukup signifikan. "Untuk dapat terlihat seterang itu, bisa jadi meteor berukuran puluhan sentimeter. Meteor punya beragam ukuran. Dari yang sebesar debu, kerikil, bongkahan batu, hingga yang semeter. Makin besar (ukurannya) makin jarang (ditemukan)," paparnya.

Rhorom menjelaskan ukuran meteor yang lebih kecil dari itu pun sebenarnya sudah bisa memunculkan cahaya yang bisa teramati dengan mata telanjang. "Meteor yang berukuran lebih dari 1 sentimeter bisa menghasilkan jejak cahaya yang cukup terang dan terlihat dengan mata."

Namun begitu, perlu juga dipahami bahwa tidak semua benda bercahaya yang terlihat di langit adalah meteor yang jatuh, karena bisa saja itu merupakan sampah antariksa atau benda buatan manusia. Meski demikian, ada perbedaan yang bisa kita jadikan patokan untuk mengetahui apakah itu adalah meteor atau benda lain.

"Kecepatan meteor biasanya lebih tinggi dan bisa menghasilkan cahaya yang lebih terang. Kalau sampah antariksa, cenderung pecah berkeping-keping sedari awal," jelas Rhorom.

Dugaan terkait suara dentuman yang terdengar di Banggai sebagai peristiwa meteor jatuh semakin dikuatkan pula oleh konfirmasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Mereka tidak mendeteksi suara dentuman tersebut sebagai peristiwa gempa bumi ataupun erupsi gunung berapi.

"Sensor seismik BMKG di Luwuk tidak mencatat adanya anomali gelombang seismik saat masyarakat Pagimana, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, melaporkan adanya lintasan meteor," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, seperti yang ia tulis di akun Twitter dan Facebook pribadinya.

Saturday, July 2, 2022

Gas di Bumi Ditemukan Juga di Venus, Tanda Adanya Kehidupan?

 Para astronom telah mendeteksi gas fosfin di atmosfer Planet Venus—menunjukkan fenomena yang belum pernah diketahui sebelumnya. Penemuan ini mengarahkan peneliti kepada dua kemungkinan: apakah ada mekanisme tertentu yang memang memproduksi gas tersebut atau ada sumber kehidupan di sana.

Dipublikasikan pada jurnal Nature Astronomy, para ilmuwan melihat tanda spektral yang menunjukkan fosfin, gas yang juga umum ditemukan di Bumi. Gas tersebut diketahui berasal dari pembusukkan materi organik atau secara khusus dibuat di laboratorium.

Dilansir dari IFL Science, para peneliti memperkirakan kelimpahan 20 ppb gas fosfin di awan Venus. Atmosfer planet tersebut sangat asam sehingga fosfin bisa hancur, kecuali ada mekanisme yang membuatnya terus diproduksi.

Tim mempertimbangkan beberapa proses kimiawi seperti gunung berapi, petir atau meteorit, yang mungkin bisa memproduksi gas fosfin. Namun, itu semua tidak terlihat di Venus.

Fakta ini pun membawa ilmuwan kepada kesimpulan yang menarik bahwa apa yang terjadi di Venus terkait gas fosfin pasti belum pernah diketahui sebelumnya.

Dan meskipun dugaan gas berasal dari proses biologis masih sulit dibuktikan, tapi menurut peneliti, hal tersebut tidak dapat diabaikan.

“Kami melakukan banyak perhitungan tentang bagaimana molekul tersebut bisa terbentuk dan hancur,” kata Professor Jane Greaves, pemimpin penelitian dari University of Cardiff kepada IFL Science.

Penemuan penting ini didapat dari pengamatan teleskop James Clerk Maxwell dan Atacama Large Millimeter Array, masing-masing di 2017 dan 2019. Fosfin sendiri telah disebut-sebut sebagai tanda biologis yang baik untuk melihat kehidupan di planet berbatu di luar Tata Surya.

Selama ini, para ilmuwan menggunakan observasi semacam itu untuk memberikan patokan pada pengamatan eksoplanet. Mereka tidak menyangka akan menemukan fosfin di Venus.

Venus memang diketahui bukan tempat yang ramah untuk ditinggali, tapi ia juga mendapat julukan “kembaran jahat Bumi”. Permukaan Venus memiliki suhu 470°C dan tekanannya setara dengan 900 meter di bawah permukaan laut di Bumi. Suhu dan tekanannya akan menurun seiring dengan peningkatan ketinggian.

Diskusi seputar kehidupan di Venus sangat populer, tetapi untuk mendapatkan kepastian tentang apa yang menghasilkan gas fosfin ini, para peneliti perlu melakukan studi lebih lanjut dan mendalam tentang atmosfer planet tersebut.

"Kami mencoba melakukan lebih banyak pengamatan," kata Profesor Greaves.

“Kami berharap selama satu tahun ke depan bisa mendapatkan peta yang lebih detail tentang keberadaan fosfin—berapa banyak jumlahnya, bagaimana distribusi geografisnya apakah ia  berubah seiring waktu,” tambahnya.

Selama beberapa dekade terakhir, upaya serius telah dilakukan untuk memperluas pencarian akan kehidupan di luar Bumi. Mata kita telah terfokus pada dunia yang sangat dingin seperti Mars, bulan seperti Europa dan Enceladus, dan bahkan pada wilayah yang kaya metana seperti Titan. Namun, saat ini, tampaknya Venus bisa masuk kategori pencarian.

“Ini sangat menarik karena fosfin merupakan tanda-tanda hayati potensial bagi kehidupan. Molekul tersebut adalah produk sampingan dari beberapa metabolisme mikrob di Bumi,” ungkap Dr Brendan Burns, dari Deputy Director of the Australian Centre for Astrobiology, yang tidak terlibat dalam penelitian.

“Seperti yang diakui penulis sendiri, fosfin bisa saja berasal dari beberapa reaksi geokimia atau fotokimia yang tidak diketahui. Dengan demikian, butuh lebih banyak studi untuk mengetahui dengan pasti. Meski begitu, kemungkinan kecil dari tanda-tanda biologis kehidupan yang ada di luar Bumi memiliki potensi besar untuk mengubah pemahaman kita tentang tempat kita di alam semesta," pungkasnya.

Kapal Berusia 400 Tahun Ditemukan di Laut Baltik dalam Keadaan Hampir Utuh


Para penyelam dari Finlandia tanpa sengaja menemukan kapal berusia 400 tahun di Laut Baltik.

Dilansir dari Euronews, itu ditemukan 85 meter di bawah permukaan laut dalam keadaan baik. Hanya ada kerusakan kecil di dek, tiang dan haluannya—disebabkan oleh tabrakan dengan pukat ikan.

Secara keseluruhan, lambung kapal hampir utuh, hanya beberapa papan yang hilang.

Kapal ‘Fluit’ milik Belanda ini pernah mendominasi perdagangan Baltik antara akhir abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Namun, ia jarang ditemukan.

Kapal tersebut tidak memiliki senjata tetapi mampu membawa banyak beban. Fitur teknisnya sudah canggih untuk ukuran saat itu, memungkinkan kapal dioperasikan oleh jumlah awak yang lebih kecil daripada biasanya

The Badewanne Diving Team, sekelompok relawan penyelam di Finlandia, ‘tersandung’ kapal Fluit ketika sedang mencari bangkai kapal peninggalan Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

“Penemuan kapal Fluit menawarkan kesempatan unik untuk menyelidiki perkembangan jenis kapal yang berlayar di seluruh dunia dan bagaimana itu menjadi dasar globalisasi modern,” ungkap Dr Niklas Eriksson, arkeolog maritim dari University of Stockholm, dikutip dari Euronews. 

Bangkai kayu hanya dapat bertahan di beberapa tempat di dunia. Salinitas rendah di Laut Baltik, dikombinasikan dengan kegelapan mutlak dan suhu yang sangat rendah sepanjang tahun, telah melindungi kapal 'Fluit' ini dari kehancuran akibat proses pembusukan kimiawi, biokimia dan biologis. Hal itu juga menjaga kapal dari organisme penghancur kayu seperti cacing kapal.

Friday, July 1, 2022

Medan Magnet Bumi Melemah, Satelit dan Pesawat Luar Angkasa Alami Gangguan


 Di sebuah area yang membentang dari Afrika hingga Amerika Selatan—kerap disebut dengan ‘Anomali Atlantik Selatan’—medan magnet Bumi perlahan melemah. Ini menyebabkan gangguan teknis pada satelit-satelit yang mengorbit Bumi.

Medan magnet Bumi sangat penting bagi kehidupan planet. Itu merupakan kekuatan kompleks dan dinamis yang melindungi kita dari radiasi kosmik dan partikel bermuatan dari Matahari. Berperan seperti konduktor berputar pada dinamo sepeda motor, ia menciptakan aliran listrik yang menyebabkan medan elektromagnetik terus berubah.

Medan ini jauh dari kata statis dan memiliki kekuatan dan tujuan yang bervariasi. Sebagai contoh, studi terbaru menunjukkan bahwa posisi kutub magnet utara berubah dengan cepat.

Selama 200 tahun terakhir, medan magnet telah kehilangan sekitar 9% kekuatannya dilihat dari rata-rata global. Intensitas magnet yang berkurang inilah yang terjadi di Anomali Atlantik Selatan.

Dari 1970 hingga 2020, kekuatan bidang minimum di wilayah tersebut turun dari sekitar 24 ribu nanotesla menjadi 22 ribu. Di saat yang bersamaan, luas wilayah anomali telah tumbuh dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 20 kilometer per tahun. Selama lima tahun terakhir, pusat intensitas minimum kedua juga telah muncul di barat daya Afrika—menunjukkan bahwa Anomali Atlantik Selatan dapat terpecah menjadi dua sel terpisah.

Para ilmuwan dari Swarm Data, Innovation and Science Cluster (DISC) menggunakan data dari konstelasi satelite Swarm milik European Space Agency (ESA) untuk lebih memahami fenomena tersebut. Satelit Swarm dirancang untuk mengidentifikasi dan mengukur dengan tepat sinyak magnetik berbeda yang membentuk medan magnet Bumi.


Jürgen Matzka, dari German Research Centre for Geoscience, mengatakan: “Anomali telah muncul sejak dekade lalu dan dalam beberapa tahun terakhir berkembang dengan pesat. Kami sangat beruntung memiliki satelit Swarm di orbit untuk menyelidiki perkembangan Anomali Atlantik Selatan. Tantangannya sekarang adalah memahami proses-proses dalam inti Bumi yang mendorong perubahan-perubahan ini.”

Diduga pelemahan medan magnet yang sedang terjadi saat ini merupakan tanda bahwa Bumi sedang menuju pembalikan kutub—di mana kutub magnet utara dan selatan akan berpindah tempat. Peristiwa seperti itu telah terjadi beberapa kali sepanjang sejarah planet ini.

Pada tingkat permukaan, Anomali Atlantik Selatan tidak menimbulkan bahaya. Namun, bagaimana pun juga, satelit dan pesawat luar angkasa yang terbang di atasnya akan mengalami gangguan teknis saat medan magnet semakin melemah di wilayah tersebut. Dampaknya, partikel bermuatan dari Matahari bisa menembus ketinggian satelit orbit Bumi.

Misteri asal-usul Anomali Atlantik Selatan belum terpecahkan. Namun, satu hal yang pasti: pengamatan medan magnet dari Swarm memberikan wawasan baru yang menarik tentang interior Bumi yang sulit dipahami.

Pernah Dikira UFO, Oumuamua Kemungkinan Berasal dari Reruntuhan Planet

Omuamua pertama kali ditemukan pada 2017 saat melintasi tata surya dan pernah dianggap sebagai UFO. Namun, setelah diketahui lebih lanjut, Oumuamua hanyalah batuan antariksa antar bintang (ISO) biasa yang asal-muasalnya masih misterius.

Sebuah penelitian terbaru memiliki teori untuk benda ini, yakni Oumuamua adalah bagian dari sebuah planet yang hancur lebur oleh bintang. Para peneliti memberi kemungkinan yang lain bahwa objek tersebut tidak mesti sebagai planet, tapi bisa jadi sebuah planetoid yang hancur, atau sebuah komet.

Apapun asal-usul bentuk pertamanya, para peneliti meyakini benda tersebut hancur lebur oleh kekuatan pasang surut dari bintang utamanya. Pecahannya tersebut kemudian terlempar keluar dari sistem bintangnya dan melewati sistem lainnya seperti Tata Surya.

"Oumuamua sama sekali tidak seperti yang lain di Tata Surya kita," terang Yun Zhang, penulis utama studi tersebut dari National Astronomical Observatories di Chinese Academy of Sciences."

Ini benar-benar objek misterius, tetapi beberapa tanda, seperti warna dan tidak adanya emisi radio, menunjukkan‘ Oumuamua menjadi objek alami."

Dua sifat utama yang tidak biasa dari objek ini adalah bentuknya dan tidak memiliki koma, Kelompok ilmuwan dapat menjelaskannya dengan pemodelan canggih mereka.

"Kami menghadirkan model komprehensif untuk pertama kalinya untuk mengatasi semua bagian teka-teki yang terkait dengan objek antarbintang pertama Oumuamua berdasarkan prinsip fisik yang dipahami dengan baik," kata Zhang dilansir dari IFLScience.

Melalui simulasi komputer, para peneliti menunjukan bagaimana sebuah pecahan benda antariksa bisa melayang dengan bentuk yang menyerupai cerutu. 


Benda raksasa tersebut jatuh pada ruang dan percepatan non-gravitasi ketika melewati bintang seperti yang komet umumnya alami ketika berhadapan dengan panas Matahari. Tapi pada Oumuamua tidak memiliki penguapan yang membentuk koma seperti yang dimiliki komet.

Menurut model yang dibuat, para peneliti memperkirakan tubuh pecahan benda raksasa yang kemudian menjadi Oumuamua menjadi panas untuk menguapkan komponen yang semestinya menguap dan tak bisa menghasilkan koma.

“Kami mengantisipasi lebih banyak objek antar bintang. Pengunjung dengan sifat yang mirip dengan Oumuamua pasti ditemukan dengan pengamatan di masa mendatang,” terang Zhang.