Tuesday, August 30, 2022

Koin Iblis’, Pemujaan Setan, dan Tipuan Arkeologi yang Rumit



Para pekerja proyek renovasi gereja Bath Abbey di Inggris, membuat penemuan mengejutkan ketika mereka sedang mengangkat kursi-kursi di bangunan kuno tersebut. Sepasang koin misterius dengan gambar iblis terletak di sana.

Di bawah gambar iblis, terdapat tulisan dalam bahasa Latin “CIVITAS DIABOLI” yang berarti kota iblis. Sementara di baliknya, tertulis kata-kata dalam bahasa Denmark, “13 MAJ ANHOLT 1973”.

Tertegun oleh penemuan aneh tersebut, peneliti berusaha mengungkap kisah luar biasa di balik ‘koin iblis’.

Menurut para ahli dari Wessex Archaeology, tanggal yang tertulis di koin, mengacu pada sebuah insiden di pulau Anholt, Denmark, pada 1973.

Pada saat itu, penduduk lokal menemukan 13 ‘tempat pemujaan’ di Anholt – memicu penyelidikan lebih lanjut oleh polisi. Topeng, lilin hitam, tumpukan batu yang aneh, tulang dililit tali, hingga kepala palsu yang tertancap di tiang, ditemukan di sana.

Benda-benda ‘aneh’ itu kemudian diliput oleh media nasional Denmark, memunculkan spekulasi adanya ilmu hitam dan pemujaan setan di Anholt. Bahkan, ada rumor tentang pengorbanan manusia di pulau tersebut. Namun, teori terakhir ini terbantahkan karena terduga korban menghubungi polisi.

Saat kehebohan mulai mereda, misteri baru justru muncul. Koin-koin dengan gambar iblis mulai muncul di gereja-gereja dan museum di Denmark. Hampir 400 koin ditemukan.

“Beberapa koin bahkan dilengkapi dengan surat yang menyatakan bahwa itu berasal dari imam iblis tertinggi bernama Alice Mandragora,” papar arkeolog.

Namun, ternyata, artefak-artefak aneh yang ditemukan – termasuk ‘koin iblis’ – merupakan bagian dari tipuan rumit.

Di 2013 lalu, koran Denmark, Politiken, mengungkap bahwa lelucon itu berasal dari gagasan Knud Langkow, pegawai di National Gallery of Denmark yang meninggal pada 2004.

Keponakannya, Lene Langkow Saaek, menjelaskan bahwa Knud Langkow bukanlah pemuja setan. Tipuan itu hanyalah bagian dari selera humornya.

"Saya rasa, kenormalan adalah hal membosankan bagi Knud. Ia tidak suka hidup yang biasa-biasa saja," papar Lene. 

Beberapa koin memang dicetak oleh Knud sendiri. Namun, sisanya, kemungkinan dibuat oleh para ahli yang ikut terlibat. 

Bruce Eaton, Project Manager Wessex Archaeology di Bath Abbey, mengatakan, banyak sejarawan dan arkeolog yang sering memalsukan artefak. Namun, biasanya hanya berupa tulisan, bukan benda fisik seperti yang dilakukan Knud. 

Ia menambahkan, penemuan ‘koin iblis’ ini, menekankan pentingnya menyelidiki benda-benda misterius yang baru ditemukan dengan kecurigaan.

“Untuk mendeteksi temuan palsu yang dirancang untuk menyesatkan, diperlukan mata yang kritis,” katanya.

Meskipun begitu, masih ada satu misteri tentang ‘koin iblis’ yang belum terpecahkan hingga saat ini. Masih belum jelas bagaimana koin dari Denmark tersebut bisa sampai ke gereja Bath Abbey di Inggris.

Ada pola yang menunjukkan bahwa ‘koin iblis’ ini muncul di lokasi-lokasi liburan. Jadi, ada kemungkinan Knud Langkow atau salah satu bawahannya, meletakkan koin-koin tersebut saat sedang mengunjungi gereja bersejarah Bath Abbey. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa itu pernah terjadi.

'Koin iblis' yang ditemukan di Bath Abbey, kini berada dalam perawatan Wessex Archaeology. Mereka akan dimasukkan ke dalam arsip situs bersama dengan artefak-artefak yang berasal dari zaman Romawi hingga modern. 


NASA Temukan Gundukan Pasir Berwarna Biru di Planet Mars

Mars mungkin dikenal sebagai Planet Merah, namun, belum lama ini, NASA justru menemukan ‘gundukan pasir’ berwarna biru. Ini membuat banyak orang bertanya-tanya.

Gambar gundukan biru tersebut diambil oleh kamera HiRise dari Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) pada 24 Januari 2018 lalu. Mereka menemukannya di wilayah kawah Lyot.

Menurut NASA, gundukan pasir berwarna biru tersebut “terbuat dari material halus dan memiliki komposisi berbeda dari sekitarnya”.

Gambar yang dipublikasikan NASA tersebut menarik perhatian publik. Hal ini karena Mars sedang mengalami badai debu raksasa yang bisa mengancam misi NASA di planet tersebut.

Belum lama ini, foto selfie gabungan yang diambil dari wahana luar angkasa Curiosity, memperlihatkan kondisi Mars saat badai debu. Para peneliti menyatakan bahwa itu “belum pernah terjadi sebelumnya” di sana.

Badai debu telah mendatangkan malapetaka di Mars. Beruntung, rover Curiosity masih baik-baik saja hingga saat ini karena ia bergantung pada plutonium sebagai sumber bahan bakar – bukan sinar matahari.

Namun, rover Opportunity, yang telah berada di Mars selama 15 tahun, tidak seberuntung Curiosity. Ia secara efektif beralih ke ‘mode tidur’ selama badai berlangsung.

Sunday, August 28, 2022

Pertama Kalinya, Ilmuwan Temukan Helium di Planet Luar Tata Surya

Untuk pertama kalinya, para ilmuwan telah menemukan eksoplanet dengan atmosfer heliumnya sendiri.

Terobosan besar ini menandai langkah besar dalam memahami susunan planet lain – untuk mengetahui lebih lanjut mengenai atmosfer planet luar, bagaimana kehidupan di sana, dan apakah mereka merupakan rumah bagi para alien.

Penemuan ini hadir setelah sekelompok peneliti melihat gas di super-Neptunus yang jauh dari sistem tata surya kita. Planet – yang bernama WASP-107b dan berjarak 200 tahun cahaya di rasi Virgo – mengkonfirmasi prediksi ilmuwan tentang  planet lain di luar angkasa.

Helium merupakan unsur paling umum kedua yang ada di alam semesta. Para ilmuwan telah memperkirakan bahwa senyawa itu akan ditemukan pada planet-planet lain di sekitar Bumi – seperti pada gas raksasa Saturnus dan Jupiter.

Namun, ini pertama kalinya helium ditemukan di tempat lain di luar tata surya.

Peneliti menggunakan teknik yang memungkinkan kita memahami lebih banyak tentang planet luar (eksoplanet). Teknik tersebut memiliki cahaya inframerah yang memungkinkan untuk melihat planet-planet beratmosfer tinggi dari jarak jauh. Seiring berjalannya waktu, itu bisa membantu kita melihat atmosfer eksoplanet lebih dalam dari yang pernah dipelajari sebelumnya.

“Kami berharap dapat menggunakan teknik tersebut bersama teleskop ruang angkasa James Webb pada penelitian yang akan datang, untuk mempelajari planet lain yang memiliki hidrogen dan helium, serta mengetahui seberapa lama senyawa tersebut dapat bertahan di atmosfer mereka,” kata Jessica Spake, dari departemen fisika dan astronomi di Universitas Exeter.

"Dengan mengukur cahaya inframerah, kita dapat melihat lebih jauh ke luar angkasa daripada jika kita menggunakan sinar ultraviolet," tambahnya.

WASP-107b merupakan planet asing dengan kepadatan yang sangat rendah. Ukuran WASP-107b hampir mirip dengan Jupiter, namun hanya memiliki 12% dari massanya. Untuk eksoplanet, suhunya termasuk dingin. Namun, jika dibandingkan dengan Bumi, WASP-170b lebih panas 500 derajat celsius.

Saturday, August 27, 2022

'Gereja Rahasia’ Kuno Dari Abad Ke-1 Ditemukan di Bekas Wilayah ISIS


Para arkeolog di Suriah menemukan sisa-sisa ‘gereja rahasia’ yang kira-kira berasal dari abad pertama Kekristenan. Itu tersembunyi di wilayah yang pernah menjadi kekuasaan ISIS selama dua tahun.

Namun, entah bagaimana caranya, gerbang kuno yang mengarah ke bawah tanah, tampaknya telah luput dari perhatian pasukan ISIS yang pernah menempatinya.

Di samping gundukan tanah yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, para peneliti menemukan terowongan luas yang menjadi rute pelarian, pintu tersembunyi, prasasti Yunani, dan altar dengan ukiran salib dan simbol kristiani lainnya.

‘Gereja rahasia’ yang ditemukan di kota Manbij ini diduga pernah berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang Kristen yang mengalami penganiayaan selama Kekaisaran Romawi.

Di dalamnya bahkan terdapat kuburan yang mungkin digunakan untuk pendeta gereja. Sisa-sisa manusia juga ditemukan di dalam makam batu besar.

Seandainya ISIS mengetahui tentang reruntuhan gereja yang pertama kali ditemukan peneliti pada 2014 ini, mereka pasti sudah menghancurkannya. Para arkeolog merahasiakannya selama bertahun-tahun sebelum menggalinya pada 2017, setahun setelah ISIS meninggalkan area tersebut.


Penduduk setempat juga membantu menemukan bagian kedua terowongan dengan menggunakan tangga batu menuju gua yang dipenuhi dengan kamar-kamar dan simbol Kristen.

“Tempat ini sangat spesial. Saya pikir, di sinilah para penjaga akan berdiri di gerbang untuk melihat pergerakan di luar. Selanjutnya mereka akan memperingatkan yang lainnya untuk keluar di pintu lain apabila perlu melarikan diri,” papar Abdulwahab Sheko, kepala Exploration Committee di Manbij.

Pada abad-abad awal Kekristerinan, umat Kristen menghadapi persekusi dari Kekaisaran Romawi. Pertama-tama oleh Kaisar Nero. Ada kesalahpahaman dengan ajaran mereka yang menimbulkan tuduhan inses, kanibalisme, dan kekejaman lainnya.

Menurut John Wineland, profesor sejarah dan arkeologi di Southeastern University, itu mungkin terkait dengan salah paham tentang  “persekutuan Kristen di mana Kristus berkata untuk mengambil dan memakan tubuh dan meminum darah-Nya”.

Akibatnya, umat Kristen dipaksa untuk beribadah secara rahasia sampai abad 313. Pada saat itu, agama Kristen tidak dianggap sebagai kejahatan lagi oleh Kaisar Konstatinus.

Meskipun lokasi pertama mungkin digunakan sebagai tempat perlindungan bagi orang Kristen yang ingin berdoa, namun penemuan simbol relijius di seluruh situs kedua menunjukkan bahwa itu muncul setelah agama Kristen diterima.

Saat ini, setelah ISIS keluar dari wilayah tersebut, para peneliti mengatakan, mereka berkomitmen untuk melindungi ‘gereja rahasia’ ini.

Rencana NASA dan ESA Membawa Tanah Mars ke Bumi Untuk Selidiki Kehidupan Alien



NASA dan European Space Agency (ESA) berencana untuk membawa tanah dan batuan Mars ke Bumi dalam rangka memahami apakah planet tersebut bisa menyokong kehidupan alien.

Mengambil sampel tanah dari planet merah dianggap bisa menjadi terobosan untuk memahami lebih jauh apakah di Mars terdapat kehidupan. Meskipun begitu, misi ini sangat sulit – membutuhkan beberapa kali peluncuran dan navigasi yang kompleks.

Dua badan antariksa tersebut telah menandatangani pernyataan terkait niat mereka untuk membawa tanah dari Mars agar bisa diteliti di Bumi.

Sebelumnya, kita telah mengirim ‘sesuatu’ ke Mars: contohnya, Curiosity, si kendaraan penjelajah, yang berguling di sekitar Mars untuk meneliti permukaannya. Namun, menurut para ilmuwan, akan lebih berguna apabila kita bisa membawa sesuatu dari planet tersebut dan memeriksa detailnya di Bumi.

Secara keseluruhan, misi ini mungkin membutuhkan waktu selama tiga bulan. Pertama-tama, kendaraan eksplorasi NASA akan dikirim ke Mars untuk mengumpulkan 31 sampel. Misi kedua, sampel tersebut akan ditempatkan di kendaraan spesial yang membawanya ke orbit Mars. Selanjutnya, pesawat ruang angkasa terbang ke Mars untuk menangkap dan membawa sampel tersebut ke Bumi.

Begitu sampai di Bumi, sampel itu akan diteliti untuk mengetahui petunjuk tentang Mars dan juga planet kita sendiri. Para ahli telah mendeskripsikannya sebagai rencana paling menggiurkan – pertama kalinya manusia membawa sesuatu dari planet lain.

“Misi Mars sebelumnya menemukan aliran air dan zat kimia yang mendukung kehidupan mikrob di Planet Merah. Adanya sampel bisa memberikan lompatan penting dalam memahami potensi Mars sebagai tempat tinggal,” kata Thomar Zurbuchen, administrator Science Mission Directorate NASA.

“Saya berharap bisa berkolaborasi dengan mitra internasional dan komersial untuk mengatasi tantangan teknologi di masa depan. Dengan begitu, kita bisa membawa pulang sampel dari Mars,” tambahnya.  

David Parker, Director of Human and Robotic Exploration ESA, setuju bahwa ini misi yang sulit. Namun, itu bisa memberikan wawasan baru yang menakjubkan bagi Mars dan Bumi.

“Bagi seorang ilmuwan, kesempatan untuk membawa sampel Planet Merah yang telah dipilih dengan hati-hati dan teliti kembali ke Bumi merupakan prospek yang menggiurkan. Merekonstruksi sejarah Mars dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentangnya adalah misi yang dramatis,” paparnya.

Friday, August 19, 2022

Pembuatan Antivenom dari Laba-laba Raksasa Paling Beracun di Dunia


The Australian Reptile Park berhasil membuahkan laba-laba jantan raksasa. Tidak hanya menjadi yang paling beracun di Australia, tapi juga seluruh dunia.

Laba-laba ini sangat besar sehingga tim Reptile Park memberikan nama Colossus. Jaring corongnya sangat berbahaya. Racun laba-laba ini bisa membunuh manusia dewasa dengan mudah.

Antivenom

Racunnya yang mematikan ternyata sangat berharga -- digunakan para peneliti untuk membuat antivenom. Itulah sebabnya, daripada dibunuh, Colossus dibawa ke Australian Reptile Park, tempat ‘pemerahan’ racun di Australia.

Para peneliti mengekstrak racun laba-laba tanpa membunuhnya. Racun-racun tersebut lalu dikirim ke laboratorium untuk memproduksi antivenom.

Laba-laba corong ini berbahaya bagi primata dan serangga. Ini merupakan evolusi unik yang kurang menguntungkan. Sebab, primata sebenarnya bukan mangsa utamanya. Meskipun begitu, ia bisa dieksploitasi untuk menciptakan antivenom.

Kelinci, yang tidak terpengaruh oleh gigitan laba-laba, diinjeksi dengan racun tersebut. Sistem kekebalan tubuhnya lalu memproduksi antibodi tanpa membahayakan nyawa kelinci.

Selanjutnya, antibodi tersebut ‘dipanen’ untuk menciptakan antivenom yang menetralkan racun laba-laba pada manusia yang tergigit.

Januari dan Februari merupakan waktu puncak untuk bertemu laba-laba corong saat ia sedang berkeliaran mencari pasangan. Mereka terkadang bersembunyi di tempat tinggal manusia. Terutama pada lokasi yang lembap dan dingin. Misalnya, sepatu, tempat menjemur pakaian dan tumpukan kayu bakar.

Tuesday, August 16, 2022

Peneliti Buktikan Makhluk Mitologi Unicorn Nyata


Unicorn adalah makhluk mitologi yang digambarkan sebagai kuda bertanduk. Sebagai makhluk mitologi tentu banyak yang berpikir bahwa hewan ini hanyalah imajinasi atau hanya ada dalam dongeng anak-anak.

Pada Februari 2016, para peneliti mengungkapkan bahwa mereka menemukan fosil unicorn Siberia teranyar. Temuan fosil terbaru itu mengubah pandangan para peneliti.

Selama beberapa dekade sebelumnya, mereka berasumsi bahwa unicorn Siberia tersebut telah punah pada 350.000 tahun lalu. Tapi dari fosil yang ditemukan di Kazakhstan tersebut, mereka menyadari bahwa makhluk luar biasa ini masih ada hingga sekitar 29.000 tahun lalu.

Ini membuktikan bahwa unicorn memang nyata dan menjelajahi bumi selama puluhan ribu tahun yang lalu. Sayangnya, unicorn ini tak seperti yang ada dalam buku dongeng yaitu kuda bertanduk.

Dalam publikasi di American Journal of Applied Science, para peneliti menyebut unicorn yang sebenarnya ini memiliki nama ilmiah Elasmotherium sibiricum. Ia tampak bertubuh besar dan tinggi menyerupai badak modern.

Bedanya, unicorn Siberia ini memiliki tanduk sangat besar di keningnya.

Menurut deskripsi awal, unicorn Siberia memiliki tinggi 2 meter dengan panjang 4,5 meter dan berat sekitar 4 ton. Deskripsi tersebut tentu menggambarkan bahwa makhluk ini lebih mendekati ukuran mamoth (gajah purba) dibandingkan ukuran kuda.

Meski ukurannya sangat besar, hewan ini diperkirakan adalah pemakan rumput.

Perkiraan usia fosil ini (29.000 tahun lalu) dilakukan oleh peneliti dari Tomsk State University, Rusia menggunakan teknik penanggalan radiokarbon.

Berdasarkan ukuran dan kondisi tengkorak yang ditemukan, kemungkinan unicorn Siberia ini jantan yang sangat tua. Sayangnya, penyebab kematiannya tetap tidak diketahui.

Namun yang lebih penting adalah pertanyaan di benak peneliti, bagaimana unicorn ini bertahan lebih lama dari yang meninggal ratusan ribu tahun sebelumnya.

"Kemungkinan besar, bagian selatan Siberia Barat adalah salah satu habitatnya, di mana badak ini bertahan paling lama dibandingkan dengan sisa fosil lainnya," kata Andrey Shpanski, salah satu tim tersebut dikutip dari Science Alert, Senin (25/12/2017).

"Ada kemungkinan lain bahwa ia bisa bermigrasi dan tinggal sebentar di daerah yang lebih selatan," imbuhnya.

Tim tersebut berharap penemuan ini akan membantu mereka lebih memahami bagaimana faktor lingkungan memainkan peran dalam kepunahan unicorn Siberia itu. Apalagi beberapa hal mungkin telah berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya dengan bermigrasi melintasi jarak yang jauh.

Mengetahui bagaimana spesies bertahan begitu lama memungkinkan kita untuk membuat lebih banyak pilihan mengenai masa depan spesies kita sendiri. Terutama saat kita menemukan diri kita dalam situasi yang agak berbahaya.

Ludovico di Varthema, Sang Penentu Arah Pemburu Rempah



Sepanjang abad pertengahan, Venesia merupakan bandar perdagangan penting.  Kota di pesisir Italia itu menjadi pusat pala, cengkih, lada, hingga kayu manis untuk orang-orang Eropa. Selama berabad-abad lamanya, pedagang Arab merahasiakan negeri asal rempah-rempah itu.

Kepulauan Rempah memang begitu dirahasiakan. Banyak mitos yang menggambarkan bahwa lokasinya dijaga monster raksasa yang memangsa kapal-kapal yang melintas, dihuni para kanibal yang begitu buas, hingga badai yang mengempaskan kapal-kapal yang mencoba menyambanginya.

Mitos itu tetap terpelihara sampai seorang asal Italia membuktikan semuanya. Ludovico di Varthema, sebuah nama yang nyaris dilupakan dunia. Lelaki mantan serdadu itu berasal dari Kota Bologna, sekitar 153 kilometer dari Venesia.

Dia bukanlah pedagang, bukan pula duta penjajah. Dia adalah pejalan soliter yang memiliki keilmuan, minat budaya, dan gairah menjelajah. Pada akhir 1502, Varthema meninggalkan istri dan keluarganya demi sebuah tekad penjelajahan. Dia bertolak dari bandar perdagangan Venesia, menuju Kepulauan Rempah yang begitu rahasia.

“Ada banyak pria yang telah mengabdikan dirinya untuk menyelidiki hal-hal dunia ini,” tulis Varthema pada paragraf pertama dalam jurnal perjalanannya. “Dengan bantuan berbagai studi, perjalanan, dan pertalian yang sangat tepat, mereka telah berusaha untuk mencapai keinginan itu.”

“Ada banyak pria yang telah mengabdikan dirinya untuk menyelidiki hal-hal dunia ini,” tulis Varthema. “Dengan bantuan berbagai studi, perjalanan, dan pertalian yang sangat tepat, mereka telah berusaha untuk mencapai keinginan itu.”
Jurnalnya dibukukan dengan tajuk Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese. Buku itu terbit pertama kali di Roma pada 1510, atau sekitar dua tahun sebelum Portugis menemukan Kepulauan Rempah. Catatan perjalannya dialihbahasakan untuk pertama kalinya ke dalam bahasa Inggris oleh Richard Eden dengan tajuk History of Travayle pada periode 1556 sampai 1577.

Dia mengunjungi Alexandria dan menyusuri Sungai Nil di Mesir, kemudian berlanjut ke Beirut dan Damaskus. Perjalannya pun terkadang mengharuskan dia untuk menyamarkan identitas. Bergabung dengan serdadu Mamluk, Varthema memakai nama samaran Yunas. Dari kota kuno Damaskus, dia menempuh perjalanan melewati Lembah Sodom bersama karavan para peziarah haji menuju Mekkah dan Madinah. Varthema tercatat sebagai seorang non-Muslim pertama yang berhasil memasuki kota suci itu.

Perjalanannya berlanjut menyusuri gurun di barat daya , dan bersiap menyeberang menuju ke Persia, India, Srilangka, hingga Kepulauan Nusantara. Catatan perjalannya mengungkapkan bahwa dia berkesempatan singgah ke Malaka, Aceh, Banda, Maluku sebagai titik perjalanannya paling timur. Kemudian, dia menuju arah balik dan singgah ke Borneo dan Jawa.

“Menurut anggapan saya, yang juga menyetujui banyak pendapat,” ungkap Varthema, “saya merasa inilah Taprobana.”

Pada abad pertengahan, para penjelajah samudra kerap menyebut Taprobana untuk menunjuk pulau yang kini kita sebut sebagai Sumatra.

“Pider”—demikian dia menyebut Kota Pedir—merupakan satu-satunya kota persinggahannya di pesisir timur Sumatra. Varthema mengutip pendapat orang-orang bahwa inilah kota pelabuhan terbaik di pulau ini. Dia juga menunjukkan bahwa warga Pedir membangun rumahnya dengan batu dan banyak rumah di sini yang berlapis karapas. Perawakan warganya kecil, berkulit agak cerah, bermuka lebar dengan hidung pesek, dan bermata bulat dan hijau.

“Dan Anda perlu tahu bahwa mereka merupakan laki-laki paling aktif yang pernah saya jumpai,” ungkap Varthema tentang orang-orang Sumatra. “Mereka juga perenang ulung, dan sungguh ahli dalam membuat senjata api.

Catatan Portugis yang berjejak di kawasan ini pada masa-masa kemudian, tampaknya meneguhkan kesaksian Varthema. Keahlian orang Melayu dalam perkara artileri tampaknya dibawa oleh pengaruh orang-orang Persia, yang mendapat pengetahuan soal senjata api dari orang-orang Kristen.

“Gajah dalam jumlah besar dihasilkan di sini,” ungkap Varthema, “yang terbesar yang pernah saya lihat.” Uang emas, perak, dan timah mereka memiliki sisi yang menampilkan iblis, sementara sisi lainnya menampilkan sesuatu bersama kereta yang ditarik oleh gajah-gajah.

Varthema menggambarkan satu ruas jalan di Pedir menjadi ajang sekitar 500 pedagang uang, yang menunjukkan bahwa sejumlah besar pedagang asing telah meramaikan kota pesisir ini. Mereka tidur beralas kasur dengan seprai sutra dan kain katun. Pulau inimemiliki sumber daya kayu yang melimpah untuk pembuatan kapal. Perdagangan diramaikan oleh komoditi gading, sutera, kemenyan, lada, dan molaga—sejenis cabai.

“Orang-orangnya tidak menyukai perang,” tulis Varthema, “gemar memperhatikan barang dagangan mereka, dan sangat bersahabat dengan orang asing.”
Dia memiliki kesan mendalam tentang Pedir, yang saat itu menurutnya memiliki tiga raja paganisme, dan memiliki kesamaan dengan orang-orang Tanassari (kini Myanmar) perihal gaya hidup, busana, dan kebiasaan lainnya. “Orang-orangnya tidak menyukai perang,” tulisnya, “gemar memperhatikan barang dagangan mereka, dan sangat bersahabat dengan orang asing.”

Varthema mandapati kenyataan bahwa pala dan cengkih tidak tumbuh di sini, melainkan di tempat lain yang harus ditempuh dengan berlayar. Lantaran perahu besar akan berisiko diganggu perompak, mereka berlayar dengan chiampana—sebutan Varthema untuk kapal kecil atau sampan—yang telah dibekali makanan dan buah-buahan untuk bertolak menuju “Bandan”.

“Kami melayari sekitar dua puluh pulau, sebagian dihuni dan lainnya tidak,” catat Varthema.  Ini memberi gambaran kepada kita bahwa mereka melintasi sepanjang pesisir Jawa ke arah timur. Selama 15 hari di lautan, sampailah mereka Banda, satu dari gugusan pulau pala.

Varthema baru saja menunaikan rute penjelajahan yang belum pernah dilayari para pelaut Eropa. Setidaknya, tidak ada catatan perjalanan dari orang Eropa sebelum Varthema tentang rute dan tempat ini.

Banda, menurut catatannya, pulau yang “sangat buruk dan suram [...] Di sini tidak ada raja atau pemerintah, melainkan orang-orang desa yang tampak liar dan sulit mengerti.” Warganya berbusana sehelai kemeja dan menghuni rumah pangung dari pondok-pondok kayu. Namun, dia menambahkan, “Sirkulasi uang di sini seperti layaknya Kalkuta”.

Banda, menurut catatannya, pulau yang “sangat buruk dan suram [...] Di sini tidak ada raja atau pemerintah, melainkan orang-orang desa yang tampak liar dan sulit mengerti.”
“Tak ada yang tumbuh di sini, selain pala dan buah-buahan,” catat Varthema. Pala tumbuh secara spontan, dan menjadi harta semua warga. Setiap orang pun dapat menghimpun pala sebanyak yang dia mau, ungkapnya.

Varthema melanjutkan perjalanan selama 12 hari ke pulau penghasil cengkih terkemuka di Kepulauan Rempah ini. “Kita tiba di Pulau Monoch,” demikian dia menyebut Maluku, “yang lebih kecil ketimbang Bandan.” 

Tampaknya Varthema menganggap Maluku adalah toponimi sebuah pulau. Tidak jelas benar, di mana dia berlabuh. Namun pernyataannya bahwa pulau ini penghasil cengkih dan lebih kecil daripada Banda, mungkin dia berada di Ternate atau Tidore. “Negeri ini berada begitu rendah,” ungkapnya. Pada kenyataannya memang Maluku bergaris lintang rendah. “Dan, bintang utara tidak tampak dari sini.”

“Kami menjumpai bahwa mereka menjual cengkih dua kali lebih mahal dari pala, sebagai ukurannya, karena mereka tidak mengenal ukuran berat.” Ajaibnya, nilai tukar cengkih terhadap pala relatif tidak berubah sampai hari ini. Di Ternate, pada awal tahun ini, cengkih dijual seharga Rp105 ribu, sementara pala Rp55 ribu per kilogram.

Maluku adalah titik paling timur dalam perjalanannya. Pelayaran berikutnya menuju “Giava” atau Jawa, yang menurut petualang semasa merupakan “pulau terbesar di dunia dan paling kaya, dan Anda akan menyaksikan sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.” Namun, sebelum berjejak di Jawa, Varthema singgah ke “Bornei”—atau penjelajah Portugis yang datang belakangan menyebutnya Borneo.

Perjalanan menuju Jawa ditempuh selama lima hari. Sang nakhoda, yang kemungkinan orang Melayu, ternyata sudah memiliki kompas dan peta dengan garis melintang dan memanjang. Dia berkata kepada Varthema bahwa di sisi selatan Jawa, terdapat jalur pelayaran menuju pulau lain. “Pulau tersebut memiliki siang hari yang tidak lebih dari empat jam,” ungkap sang nakhoda kepadanya, “dan lebih dingin daripada di bagian dunia lainnya.”


Buku "Itinerario" karya Varthema yang diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh Geerard Nieuwenhuizen dan Willem Snellaart, dan terbit pada 1654. (Wikimedia Commons)
Apabila catatan Varthema benar, ada dua perkara yang menarik untuk dikaji dan didiskusikan. Pertama, para pelaut Melayu sudah mengenal peta dan kompas. Kedua, mereka juga telah mengenal pelayaran ke kawasan subtropis nun jauh di benua seberang selatan Jawa.

Setelah menyinggahi Malaka, dia mengabdi sebagai serdadu Portugis di Cannanore—kini Kannur—India selama dua tahun. Pada akhir 1507, dia pulang dengan rute melayari Tanjung Harapan. Saat singgah ke Lisbon, dia berkesempatan berjumpa dengan Raja Portugis Manuel I untuk membahas gelar kebangsawanannya yang dia terima saat bertugas di Kannur. Akhirnya, dia berjejak kembali ke kampung halamannya di Italia. Varthema wafat di Roma pada Juni 1517 dalam usia sekitar 50 tahun.

“Karyanya sungguh memengaruhi dalam penentuan arah ekspansi Portugis,” tulis Raymond, “dan digunakan oleh Magellan dalam menunjukkan perkaranya terkait pelayaran pertama mengelilingi dunia.”
Raymond John Howgego mengungkapkan pandangannya tentang perjalanan Varthema yang telah “mendefinisikan arah kontak orang Eropa dengan Asia.”

Ray merupakan penulis asal London yang menyusun The Book of Exploration, peneliti yang gemar menapaki jejak para penjelajah, dan mantan konsultan untuk National Geographic.

Kendati sebagian sarjana modern meragukan perjalanannya ke Hindia terkait kronologi dan catatan yang relatif tidak detail, faktanya penjelajahan itu mungkin benar dilakukan. Raymond juga menambahkan bahwa informasi yang diberikan Varthema, kendati dari sumber kedua, pada dasarnya memiliki keakuratan. “Karyanya sungguh memengaruhi dalam penentuan arah ekspansi Portugis,” tulis Ray, “dan digunakan oleh Magellan dalam menunjukkan perkaranya terkait pelayaran pertama mengelilingi dunia.”

Tahun ini tepat 500 tahun wafatnya sang penjelajah pionir di Kepulauan Rempah. Saya kembali teringat pesan Varthema, yang meneguhkan bahwa catatan perjalanannya bukanlah kabar dusta. “Ingatlah baik-baik bahwa testimoni dari satu saksi mata akan lebih bernilai ketimbang sepuluh kabar burung.”

Sunday, August 14, 2022

Xoloitzcuintli, Anjing Sahabat Bangsa Aztek dan Maya


Bagi bangsa Aztek dan Maya, sahabat terbaik manusia adalah anjing tak berbulu yang merupakan penyembuh, sumber makanan, dan bisa mengantarkan mereka ke Dunia Bawah Tanah (Underworld).

Dikenal dengan sebutan \'anjing Meksiko tidak berbulu\', xoloitzcuintli mendapatkan namanya dari dua kata yang diambil dalam bahasa Aztek. Yakni, Xolotl, dewa petir dan kematian, dan itzcuintli yang berarti anjing. Menurut kepercayaan Aztek, Anjing Xolotl ini diciptakan oleh dewa untuk menuntun manusia, serta mengantarkan jiwa-jiwa orang mati menuju Mictlan, Underworld.

Xoloitzcuintli (atau disingkat dengan Xolo), sering muncul pada karya seni Mesoamerika kuno dengan telinga runcing dan kulit keriput yang semakin menunjukkan kebotakkannya. Dibentuk sebagai bejana keramik kecil -- yang biasa disebut Colima Dogs -- untuk negara modern di Meksiko barat tempat mereka biasa ditemukan.

Bejana keramik berbentuk anjing Xolo ditemukan pada makam-makam berusia 2000 tahun di Meksiko Barat. (Metropolitan Museum of Art)
Di Colima, dan negara tetangga Nayarit dan Jalsico, para arkeolog memperkirakan, lebih dari 75 persen penguburan pada masa Praklasik ditemukan bejana ini. Mungkin menjadi simbol di mana Xolo akan membantu mengantar jiwa-jiwa yang telah mati menuju Underworld.

Anjing tidak berbulu ini juga menarik perhatian penulis Eropa seperti Christoper Columbus dan misionaris Spanyol di abad 16, Bernadino de Sahagun. Bernadino mendeskripsikan, bangsa Aztek akan melilitkan selimut pada Xolo di malam hari untuk membuatnya tetap hangat.

Xolo menjadi konduktor panas yang baik bagi bangsa Aztek. Semacam penghangat air bagi si sakit dan orang lanjut usia. "Xolo akan tahu jika Anda sakit," ujar Kay Lawson, peternak Xolo dan mantan presiden Xoloitzcuintli Club of America.

Pada saat Xolo secara resmi diakui di Meksiko pada tahun 1956, jenis ini hampir punah. Namun, saat ini, Xolo mengalami kebangkitan. Ia disukai banyak orang -- terutama mereka yang memiliki alergi terhadap bulu. Meskipun begitu, anjing ini tidak bisa dipelihara semua orang.

"Anda harus terus memikirkannya. Xolo mampu membuka pintu dan peti. Ia merupakan anjing primitif. Xolo sangat pintar," tambah Lawson. 

Tabung Lava Raksasa Berpotensi Jadi "Rumah" Bagi Astronaut di Bulan

Meski bulan relatif mudah diakses dan merupakan satu-satunya benda langit yang pernah dijejak oleh manusia, namun tempat ini tetap saja tak bisa dihuni. Tanpa atmosfer dan medan magnet, bulan akan mudah terpapar oleh variasi suhu ekstrem, radiasi, dan dampak meteorit.

Semua itu merupakan faktor yang dapat mengancam kelangsungan hidup koloni di bulan dalam jangka pendek maupun panjang.

Kabar baiknya, ilmuwan baru-baru ini berhasil mengidentifikasi tempat persinggahan di bulan yang mungkin bisa melindungi makhluk hidup dari ancaman-ancaman tersebut.

Studi yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters memastikan keberadaan tabung lava lebar di daerah Marius Hill di bulan. Tabung ini, dapat digunakan untuk melindungi astronaut dari kondisi-kondisi berbahaya di permukaan bulan.

Tabung lava merupakan saluran alami yang terbentuk ketika aliran lava mengembangkan kerak keras, yang mengental dan membentuk atap di atas aliran lahar yang masih mengalir. Begitu lava berhenti mengalir, terowongan terkadang mengering, membentuk saluran kosong. Di Bumi, ada pula beberapa tabung lava, salah satunya adalah Gua Valentine, yang terletak di California.

Gua Valentine, tabung lava di Lava Beds National Monument, California, Amerika Serikat. (Dave Bunnell/Under Earth Images via Wikimedia Commons)
Tabung lava tersebut ditemukan oleh para peneliti di JAXA, badan antariksa Jepang. Mereka menggunakan data radar dari wahana antariksa SELENE untuk mencari pola gema yang mungkin bisa mengungkap pintu masuk  terbuka ke ruang bawah tanah raksasa. 

Ukuran pasti dari tabung lava ini belum sepenuhnya diketahui. Berdasarkan data, tabung ini diperkirakan memiliki panjang beberapa kilometer dan lebar serta tinggi sekitar satu kilometer. Dengan ukuran ini, tabung lava tersebut setidaknya cukup untuk menampung kota seukuran Philadelphia.

"Penting untuk mengetahui di mana dan seberapa besar tabung lava tersebut jika kita ingin membangun basis di bulan," ujar Junichi Haruyama, peneliti senior di JAXA. "Tetapi mengetahui dua hal tersebut juga penting untuk sains dasar. Kita mungkin bisa mendapatkan sampel batu baru, data aliran panas, dan data observasi gempa bulan."

Membangun koloni di bulan bisa menjadi keuntungan besar bagi prospek eksplorasi antariksa di masa depan. Gravitasi rendah di bulan berarti meluncurkan pesawat antariksa dari permukaannya membutuhkan bahan bakar lebih sedikit, sehingga mengurangi biaya peluncuran. 

Basis di bulan juga bisa menjadi pusat ideal antara operasi penambangan asteroid dan Bumi. Selain itu, juga berpotensi sebagai destinasi wisata yang spektakuler. 

Tabung lava di Marius Hills ini, bisa menjadi tempat sempurna untuk mengawali era baru kolonisasi bulan.

 

Patung Kayu Berumur 4.000 Tahun Ditemukan di Mesir


Arkeolog di Mesir menemukan patung kepala kayu yang merupakan peninggalan dinasti VI Mesir Kuno.
Patung berusia 4000 tahun itu digali di Saqqara, sebuah pemakaman kuno yang berfungsi sebagai nekropolis (pemakaman) utama di Memphis, Ibu Kota Mesir Kuno.Arkeolog meyakini patung itu berkaitan dengan sosok Ankhesenpepi II, seorang ratu pada masa dinasti VI Mesir. Bagian kepala patung itu memiliki proporsi yang realistis, dengan leher ramping, dan giwang menggantung di telinga.Seperti dimuat laman UPI, disebutkan, patung itu berukuran hampir satu kaki atau sekitar 30 centimeter."Kepala itu ditemukan pada lapisan di sebelah timur piramida sang ratu, di dekat area piramida yang ditemukan awal pekan ini."Demikian pernyataan dari Kementerian Kepurbakalaan Mesir melalui akun Facebook-nya.

Kementerian itu mengutip pernyataan Philip Collombert, yang sedang dalam misi penggalian program kerjasama Perancis-Swis. Ankhesenpepi II adalah istri Raja Pepi I dan ibu dari Raja Pepi II. Setelah kematian Raja Pepi I, Ratu Ankhesenpepi II menjadi ratu terpenting pada dinasti VI Mesir Kuno. Sejauh ini, reruntuhan obelisk dengan tinggi 2,4 meter merupakan artefak terbesar yang ditemukan dari pemakaman kerajaan Mesir Kuno.
Obelisk adalah monumen tinggi, ramping bersisi empat yang dimahkotai puncak berbentuk piramida.Peneliti meyakini piramida kecil di puncak obelisk yang merupakan penghormatan kepada sang ratu, juga masih tersembunyi di sekitar areal itu.
Collombert dan rekannya berharap upaya penggalian yang dilakukan bisa mengungkap keberadaan piramida mini lainnya.

"Ini kawasan yang menjanjikan, dan akan ada banyak rahasia yang terungkap," kata Mostafa Waziri, Sekjen Dewan Tertinggi Kepurbakalaan.

Gelombang Gravitasi Ungkap Tabrakan Dua Bintang Mati


Tim internasional yang terdiri atas ribuan ilmuwan berhasil melacak asal-usul gelombang gravitasi yang ditemukan belum lama ini.

Setelah sebelumnya mendeteksi gelombang riak-riak kecil di dimensi ruang-waktu ini untuk kelima kalinya sepanjang sejarah, para ilmuwan dengan menggunakan teleskop berusaha menemukan dan mengamati sumber gelombang gravitasi tersebut. Yaitu, tabrakan antara dua bintang yang sudah mati.

Mengakhiri spekulasi selama beberapa minggu sebelumnya, para peneliti ini memastikan bahwa pada 17 Agustus lalu mereka telah mendeteksi gelombang gravitasi dari ledakan akibat penggabungan dua bintang neutron. Kedua bintang ini berukuran masing-masing sekitar setengah dari massa Matahari, yang terjadi pada lokasi 130 juta tahun cahaya dari Bumi.

Penemuan tersebut dipuji sebagai fajar era baru dalam Ilmu Astronomi.

Direktur eksekutif LIGO David Reitze menyebut fenomena yang terdeteksi itu sebagai "kembang api paling spektakuler di alam semesta".

"Dalam kasus ini, \'soundtrack audio\' berasal dari kicauan bintang neutron sejalan dengan perputaran mereka - karena mereka mengorbit bersama dan bertabrakan. Dan \'videonya\' adalah cahaya yang kita lihat setelah tabrakan tersebut," jelasnya.

Bintang neutron atau bintang mati adalah inti bintang raksasa yang sangat padat dan runtuh yang telah meledak dalam supernova. Ukuran bisa lebih berat dari Matahari dan hanya berjarak 20 kilometer satu sama lain.

Friday, August 12, 2022

Benarkah Korban Letusan Vesuvius Ini Sedang Masturbasi?


Sebuah foto korban letusan gunung Vesuvius di kota kuno Pompeii, Romawi, pada tahun 79 baru saja menjadi viral di Twitter, Reddit, dan 4Chan setelah diunggah ke akun Instagram resmi Taman Arkeologi Pompeii.

Dalam foto tersebut, sang pria tampak sedang duduk di lantai dan kepalan tangan kanannya berada di atas area kelamin. Alhasil, warganet pun berspekulasi mengenai apa yang sedang dilakukan pria tersebut ketika Vesuvius merenggut nyawanya.

Menurut teori yang paling umum, pria Pompeii ini sedang bermasturbasi.

Namun, teori tersebut disanggah oleh pakar volkano, Pier Paolo Petrone, yang telah mempelajari korban Gunung Vesuvius selama 25 tahun terakhir. Dikutip dari News.com.au  5 Juli 2017, Petrone berkata bahwa korban letusan Vesuvius langsung mati seketika akibat panas yang membuat organ mereka terbakar.

“Tidak ada cara yang pasti untuk memastikan apakah pria ini sedang bermasturbasi atau tidak, dan menurutku tidak ada gunanya membuang waktu untuk mendiskusikannya,” ucapnya.

Dia melanjutkan, individu dalam foto ini adalah seorang pria dewasa yang terbunuh oleh gas panas dan awan abu yang membunuh semua populasi di sekitar Gunung Vesuvius.

Panas yang luar biasa membuat tangan dan kaki mayat pria Pompeii mengencang sehingga berakhir dalam posisi "tragis" tersebut. “Kebanyakan korban manusia di Pompeii memiliki posisi tangan dan kaki yang aneh karena kontraksi yang terjadi setelah panas menyerang tubuh mereka setelah kematian,” tutupnya.

Terkubur Manik-Manik Selama 4.000 Tahun, Keluarga Pemimpin Ini “Hidup” Kembali


Di sebuah situs terpencil yang menghadap ke Laut Salish di British Columbia, para arkeolog membuat penemuan menakjubkan di tahun 2010. Para peneliti dari Universitas Toronto dan Shíshálh Nation setempat tercengang saat menemukan makam seorang pemimpin kuno yang bersemayam hampir 3.700 tahun silam dengan pakaian manik-manik seremonial seberat 70 pon lebih. Di sisinya, terbaring pula beberapa anggota keluarga besarnya.

"Ini adalah beberapa penguburan paling rumit di Amerika Utara sebelum terjadi kontak dengan penduduk Eropa," terang Terence Clark, seorang arkeolog di University of Saskatchewan di Saskatoon yang memimpin proyek tersebut.

Pada tanggal 1 Juli, peringatan 150 tahun Konfederasi Kanada, dua museum Kanada memberi gambaran sekilas tentang keluarga kuno ini kepada publik. Dalam pameran baru yang besar, Museum Sejarah Kanada di Quebec dan Museum Swiya di British Columbia meluncurkan rekonstruksi wajah digital dari pemimpin dan keluarganya ini.

Dibuat oleh tim ilmuwan antropologi-biologi dan pakar citra yang dihasilkan komputer (CGI) disertai konsultasi dengan para tetua Shíshálh—masyarakat asli Kanada, rekonstruksi tersebut terlihat sangat hidup.

Sekitar usia 50 tahun saat dia meninggal, pemimpin ini dikuburkan dengan pakaian manik-manik seberat lebih dari 70 pon - sebuah indikasi kekayaan dan kekuatan yang besar. (Philippe Froesch, Visual Forensic)
"Ketika masyarakat kami datang dan melihat rekonstruksi ini, mereka mengatakan bahwa wajah-wajah tersebut seperti paman saya dan ada pula yang seperti istrinya," tutur Keith Julius, seorang anggota dewan Shíshálh Nation di Sechelt, B.C.

Situs kuburan pertama kali terungkap setelah para peneliti melihat kerang dan artefak yang terkikis dari sebuah tumpukan di wilayah barat laut Vancouver. Kunjungan berikutnya mengungkapkan beberapa manik-manik batu, sehingga mereka meminta para arkeolog untuk menyelidiki.

Di sebuah kuburan berbentuk piring yang dihiasi dengan oker merah, para arkeolog menemukan sisa-sisa kerangka seorang pria berusia sekitar 50 tahun, yang berbaring meringkuk di sisinya dan menghadap ke laut. Hampir 350.000 manik-manik batu kecil—yang cukup untuk mengisi bak mandi—menutupi seluruh permukaan tubuhnya.

Memproduksi begitu banyak manik-manik dengan tangan akan memakan banyak waktu, ujar Clark. Terbuat dari serpihan potongan kecil batu lumpur, masing-masing manik harus ditumbuk ke dalam cakram kira-kira setengah ukuran aspirin, lalu dibor dengan sebuah lubang.

Ketika arkeolog Brian Thom dari University of Victoria mencoba meniru proses ini beberapa tahun yang lalu dengan potongan batu tulis dan peralatan batu tradisional, dibutuhkan waktu 13 menit untuk membuat satu manik batu saja. Pembuat manik berpengalaman bisa saja mempercepat proses produksi dan melipatgandakan hasilnya, ujar Clark. Namun, tetap saja diperlukan lebih dari 35.000 jam untuk membuat pakaian manik-manik upacara pemimpin.

Dalam masyarakat yang tak mengenal uang, di mana jam kerja setara dengan nilai, manik-manik merepresentasikan kekayaan yang fantastis,” ungkap Alan McMillan, seorang arkeolog di Universitas Simon Fraser di Burnaby yang bukan bagian dari tim.

Karena Clark dan rekan-rekannya memperluas penggalian tersebut, mereka menemukan lebih banyak penguburan dari periode yang sama, dan lebih banyak kekayaan kuno di dalamnya. Hanya beberapa meter dari kepala pemimpin, tim tersebut menemukan sisa tubuh seorang wanita yang meninggal antara usia 19 dan 23 tahun. Para pengiring jenazah telah mengikat kalung kerang yang berkilau di lehernya dan menghiasi tubuhnya dengan 5.700 manik-manik batu.

Manik-manik batu kecil yang ditemukan di sekitar tengkorak wanita muda ini mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa mereka telah menghiasi rambutnya. (Philippe Froesch, Visual Forensic)
Selain itu, para arkeolog menemukan hampir 3.200 butiran manik-manik dari kulit kerang pada sedimen di sekitar tengkoraknya. Butiran tersebut berukuran kurang lebih dua setengah kali sebutir pasir dan lebih sulit dibuat daripada manik-manik batu. "Kami telah menunjukkan penemuan tersebut kepada pakar manik di seluruh dunia dan mereka tidak tahu bagaimana pembuatannya," kata Clark.

Manik-manik kecil itu bisa saja ditenun ke dalam rambut wanita muda itu sebagai hiasan. “Mereka pasti berkulit putih, cerah, berkemilau, dan memiliki rambut hitam. Saya pikir mereka pasti sangat cantik,” kata Clark. 

Di dekat wanita muda itu, tim menemukan dua kuburan lainnya. Salah satu kuburan berisi sisa-sisa dua pemuda yang dikubur dengan 2.200 manik-manik dari batu dan kulit kerang. Setelah memeriksa penemuan, ahli Antropologi-Biologi dari Museum Sejarah Kanada, Jerome Cybulski, mengungkapkan bahwa kedua pria itu merupakan saudara kembar, berdasarkan beberapa ciri yang ditemukan.

"Mereka memiliki struktur gigi dan pola tengkorak yang sama,” ucap Clark. Sedangkan, makam lainnya terdapat bayi yang memiliki jejak oker merah pada kerangkanya. Kini, jejak oker merah ini sering digunakan di acara ritual Northwest Coast.

Cara keluarga besar kuno ini dalam menimbun kekayaan tersebut selama 3.700 tahun nampaknya masih menjadi misteri. Kala itu, masyarakat yang tinggal di tepi Laut Salish masih mencari nafkah dengan memancing, berburu rusa, dan mencari makan dengan mengolah tanaman akar yang kaya karbohidrat. Mereka belum mampu mendapatkan budak atau tinggal di rumah panjang yang mampu menampung banyak keluarga besar—suatu kondisi yang dapat meningkatkan akumulasi kekayaan.

Clark menganggap bahwa keluarga pemimpin ini memiliki pengetahuan yang sangat berharga bagi keluarga  lain. Orang-orang memberikan banyak hadiah kepada garis keturunan keluarga pemimpin ini setiap kali ada perayaan atau pesta. “Keluarga ini sangat kaya karena mereka memiliki pengetahuan khusus tentang ritual atau spiritual,” kata Clark.

Andrew Martindale, seorang arkeolog di Universitas British Columbia yang bukan anggota tim, menganggap penemuan yang luar biasa itu menunjukkan bahwa "sejarah tidak sesederhana yang kita duga." Ia juga memuji cara tim peneliti dan para tetua Shíshálh dalam bekerja sama menciptakan rekonstruksi wajah baru dari keluarga besar kuno ini.

"Nampaknya, ini merupakan proyek yang sangat kolaboratif dan saling menghormati untuk menunjukkan siapa mereka sebenarnya," katanya. "Dan saya pikir itu sangat penting."

Thursday, August 11, 2022

Kuburan Massal Ratusan Anak-anak Ditemukan di Irlandia

Ratusan kerangka anak-anak ditemukan di sebuah kamar bawah tanah sebuah gedung bekas penampungan perempuan tak bersuami dan bayi mereka di Irlandia.

Sebuah komisi yang dibentuk untuk menyelidiki dugaan kekerasan itu berujung pada penggalian di bekas sebuah institusi yang dikelola Gereja Katolik St. Mary di Tuam, Galway, Irlandia.

Dan hasil temuannya sangat mengejutkan karena penemuan kerangka manusia dalam jumlah siginifikan di 17 dari 20 ruang bawah tanah yang digali dalam beberapa pekan terakhir.

"Sejumlah kecil sisa tulang diambil untuk dianalisa," demikian penjelasan komisi investigasi.

"Sisa-sisa tulang yang ditemukan termasuk individu  yang meninggal dunia dari janin berusia 35 pekan hingga anak-anak berusia 2-3 tahun

"Penelitian radiokarbon menunjukkan sisa-sisa tulang belulang itu berasal dari masa panti penampungan ibu dan anak ini beroperasi yaitu pada 1925-1961," lanjut komisi.

"Komisi sangat terkejut dengan penemuan ini dan akan melanjutkan investigasi terhadap mereka yang bertanggung jawab memperlakukan jenazah manusia seperti ini," tambah komisi.

Sementara itu, menteri urusan anak-anak Irlandia, Katherine Zappone menggambarkan penemuan itu sebagai sebuah kabar menyedihkan dan amat mengusik.

"Hingga saat ini kami hanya mendengar rumor. Kini kami memiliki kepastian bahwa tulang belulang itu ada di sana," ujar Zappone.

Setelah 45 Tahun Apollo, Misi ke Bulan Direncanakan Kembali


Manusia kembali akan menjajal melakukan misi ke bulan dengan pelaksana, misi, dan tim yang berbeda dengan misi Apollo yang berakhir tahun 1972.

Bila misi Apollo dilakukan oleh pemerintah, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), maka misi kali ini akan dilakukan oleh perusahaan penerbangan antariksa swasta, SpaceX.

Selain itu, misi kali ini juga beranggotakan orang awam yang ingin berwisata, bukan astronot profesional yang hendak melakukan penelitian.

Rencananya, misi ke bulan akan dilakukan SpaceX pada tahun 2018. Perjalanan akan memakan waktu seminggu dengan total jarak sekitar 640.000 kilometer.

Manusia yang ikut paket wisata ini akan diajak menikmati pemandangan angkasa yang gelap dan panorama bulan dari ketinggian rendah. Tidak ada acara mendarat di bulan seperti Neil Armstrong.

Elon Musk, pendiri Space X, seperti diberitakan The Guardian pada Selasa (28/2/2017) mengatakan, misi ke bulan pertama SpaceX itu akan diikuti oleh dua orang.

Musk enggan menyebut nama dua orang peserta itu. Namun, ia menegaskan bahwa keduanya telah membayar biayanya dan sangat serius dengan misi. Keduanya akan menerima pelatihan sebelum terbang.

"Mereka yang bergabung sadar penuh dan memahami ada risiko. Kami berusaha sebaik mungkin untuk meminimalkan risikonya," ungkap Musk.

Penerbangan ke bulan akan ditempuh dengan pesawat CrewDragon. Pesawat itu akan diantarkan ke antariksa dengan roket Falcon 9.

Musk enggan merinci biaya misi ke bulan itu tetapi mengatakan bahwa biayanya bisa dibandingkan dengan mengirim astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

NASA saat ini menyewa pesawat antariksa Rusia, Soyuz, untuk mengirimkan astronot ke ISS. Biaya per penerbangan adalah 70 juta dolar AS.

Meski tahun 2018 tinggal setahun lagi, namun ada kecenderungan misi ke bulan itu mundur. Tahun 2014, Musk mengatakan pihaknya siap mengantarkan manusia ke antariksa. Nyatanya, sampai kini belum terjadi.

Musk juga menyatakan, tahun 2021 pihaknya bisa melakukan misi ke Musk. Diperkirakan target itu baru akan tercapai 2024. Bagaimana pun, penerbangan antariksa bagi awam mungkin bisa disaksikan dalam masa hidup Anda.

Tuesday, August 9, 2022

Teka-teki 'Wanita Gemuk' dalam Kepercayaan Prasejarah Mediterania


Wilayah Mediterania adalah laboratorium besar yang strategis untuk studi ilmiah tentang kepercayaan awal masyarakat prasejarah. Begitu banyak artefak prasejarah muncul di sana.

"Setiap orang telah mendengar tentang mitologi Yunani dan kultus seputar kaisar Romawi," tulis Anthony Bonanno dan tim.

Ia menulis bersama Caroline Malone, David Trump, Simon Stoddart, dan Tancred Gouder kepada Scientific American dalam artikel berjudul The Death Cults of Prehistoric Malta yang terbit pada 1 Januari 2005.

Jauh kurang terkenal adalah kepercayaan-kepercayaan awal masyarakat pertanian Mediterania yang mendahului kemajuan peradaban Yunani-Romawi.

Bukti peradaban dari kepercayaan terdahulu masyarakat prasejarah Mediterania adalah ditemukannya sosok manusia—wanita—yang gemuk, telah memainkan peran penting.

Beberapa dari figur artefak dikenali dalam bentuk perempuan, para arkeolog terkadang menyebut mereka sebagai "wanita gemuk" dan mengaitkannya dengan perayaan kesuburan, baik manusia maupun pertanian.

Kuil-kuil dan ruang pemakaman bawah tanah yang terkait dengan kesuburan berisi banyak gambar manusia gemuk—beberapa tidak lebih besar dari beberapa sentimeter, yang lain seukuran raksasa—serta hewan dan simbol phallic.

"Temuan ini memberikan pencerahan baru tentang bagaimana praktik keagamaan tertentu berevolusi di Malta dan mungkin mengapa mereka akhirnya menghilang," tambah Bonanno dan timnya.

Patung-patung tentang figur wanita gemuk yang sesuai dengan gambaran umum tersebut berasal dari era Paleolitik Atas (sekitar 25.000 tahun yang lalu) hingga awal masyarakat pengguna logam di era Neolitik.


Sayangnya, banyak dari patung-patung ini jauh kurang informatif daripada sebelumnya karena cara pengumpulannya yang tidak ilmiah. Penanggalan angka-angka tersebut seringkali tidak akurat.

Catatan tentang di mana dan bagaimana lokasinya seringkali tidak lengkap, sehingga kita tidak dapat mengetahui apakah sosok-sosok itu khas situs pemakaman, kuil, atau rumah.

Penemuan patung-patung serupa di situs-situs yang jauh dan dari era yang berbeda mengilhami tradisi panjang spekulasi ilmiah tentang agama prasejarah yang tersebar luas berdasarkan pemujaan terhadap Dewi Ibu—nama lain dewi kesuburan.

Dunia Hewan: Ada Jejak Makhluk Purba di Balik Mata Paus Modern


Lebih dari 35 juta tahun yang lalu, para mamalia pertama yang kembali ke laut memiliki mata yang tajam. Menurut sebuah studi baru, sistem visual paus, pesut, dan lumba-lumba modern yang secara kolektif dikenal sebagai cetacea dalam dunia hewan, semuanya berasal dari nenek moyang yang sama dengan penglihatan bawah air yang kuat.

Baik paus maupun kuda nil diperkirakan berevolusi dari mamalia darat berkaki empat sekitar 50 juta tahun lalu. Meskipun keduanya memiliki gaya hidup akuatik, hanya satu dari cabang ini yang dapat menyelam jauh ke dalam laut.

Kapan dan mengapa keterampilan itu berkembang masih menjadi misteri. Namun, temuan dalam studi baru ini menunjukkan transisi terjadi tak lama setelah mamalia itu turun ke laut.

Temuan ini didasarkan pada protein di mata mamalia yang dikenal sebagai rhodopsin. Protein ini sangat sensitif terhadap cahaya biru redup seperti yang ditemukan di laut dalam.

Dengan menganalisis gen di balik protein ini untuk paus hidup dan beberapa mamalia terkait, para peneliti dapat memprediksi urutan gen leluhur yang pertama kali memungkinkan penyelaman bawah laut yang dalam.

Ketika terekspresikan dalam sel-sel yang tumbuh di laboratorium, urutan khas gen ini mampu 'menghidupkan kembali' protein pigmen yang telah lama hilang.

Dibandingkan dengan protein pada mamalia darat, protein ini tampak jauh lebih sensitif terhadap tingkat cahaya rendah. Protein ini juga merespon dengan cepat terhadap perubahan intensitas cahaya.

Jika protein sensitif seperti itu ada di cetacea air pertama, para peneliti berpikir makhluk ini mungkin mencari makanan di kedalaman 200 meter atau lebih di mana cahaya mulai memudar di laut.

"Secara keseluruhan, pergeseran leluhur dalam fungsi rhodopsin ini menunjukkan bahwa beberapa cetacea akuatik pertama dapat menyelam ke zona mesopelagik," kata para peneliti menyimpulkan, sebagaimana dilansir Science Alert.

"Selain itu, rekonstruksi kami menunjukkan bahwa perilaku ini muncul sebelum adanya perbedaan antara paus bergigi dan paus balin."

Semua cetacea tampaknya memiliki nenek moyang yang bisa melihat di kedalaman. Namun, sekarang mereka hanya berburu di perairan dangkal.

Ahli biologi evolusioner Belinda Chang menjelaskan, "spesies-spesies terakhir mengembangkan semua spesialisasi mencari makan yang beragam yang kita lihat pada paus dan lumba-lumba modern saat ini."

Studi sebelumnya tentang sisa-sisa fosil paus purba telah menunjukkan bahwa cetacea air pertama memiliki tubuh seperti lumba-lumba dengan ekor dan kaki belakang vestigial untuk berenang.

Studi baru kali ini, yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, adalah salah satu yang pertama untuk menyelidiki bagaimana mata makhluk itu bekerja dalam pencarian makanan bawah air. Yang lebih mengesankan, para peneliti melakukannya tanpa fosil fisik.

"Catatan fosil adalah standar emas untuk memahami biologi evolusi. Namun terlepas dari apa yang film Jurassic Park tampilkan, ekstraksi DNA dari spesimen fosil jarang terjadi karena kondisinya cenderung buruk," kata ahli biologi evolusi Sarah Dungan dari University of Toronto.

"Jika Anda tertarik pada bagaimana gen dan DNA berevolusi, Anda mengandalkan pemodelan matematika dan sampel gen yang kuat dari organisme hidup untuk melengkapi apa yang kami pahami dari catatan fosil."

Monday, August 8, 2022

Istana Cucu Jenghis Khan yang Telah Lama Hilang Akhirnya Ditemukan


Sekelompok ilmuwan Turki dan Mongolia telah menemukan sisa-sisa istana Khan yang telah lama hilang di Turki timur. Mereka meyakini istana ini dibangun oleh cucu Jenghis Khan, Hulagu Khan.

Hulagu Khan adalah penguasa negara Ilkhanid yang berumur pendek di tahun 1260-an Masehi. Sebuah laporan di Live Science menyatakan bahwa para arkeolog yang bekerja di situs penggalian Provinsi Van dekat Caldıran mungkin menemukan istana Khan yang didokumentasikan secara historis, yang dibangun antara tahun 1260-1265.

Hulagu Khan yang memerintah tahun 1256-1265 terkenal terkait dengan penjarahan brutal Baghdad pada 1258, yang menghancurkan sebagian besar kota dan warisan sejarahnya yang kaya. Kemarahan Khan di kota itu mengakibatkan penghancuran Perpustakaan Besar Baghdad, yang berisi banyak manuskrip dan buku tentang matematika, astronomi, fisika, filsafat dari Zaman Keemasan Islam (abad ke-8 dan seterusnya). Setelah Baghdad dijarah, pemimpin kota itu, Khalifah Al-Musta'sim Billah, dieksekusi.

Negara Ilkhanate (secara harfiah berarti khanat atau negara bawahan) muncul pada tahun 1220-an dan Hulagu Khan, putra Tolui Khan, menjabat sebagai penguasa tertinggi pertama Ilkhanate dari tahun 1251. Pada masa puncaknya negara Ilkhanate mencakup wilayah Irak, Tajikistan, Turki dan Pakistan. Negara Ilkhanid tidak bertahan lama dan runtuh selama kerusakan Black Death pada tahun 1330-an.

Saat ini delapan ahli dari Turki dan Mongolia sedang melakukan survei arkeologi di Dataran Caldiran di bawah kepemimpinan Profesor Ersel Çağlıtütuncigil, Kepala Departemen Arkeologi Islam Turki di Izmir Katip Çelebi University. Selama sebulan terakhir, mereka telah menemukan sisa-sisa tungku keramik karavanserai kuno, dan keramik dari periode Ilkhanid.

Tempat pembakaran karavanserai terletak di Jalur Sutra darat bersejarah Turki, dan sebelumnya tidak terdaftar dalam inventaris aset budaya, sebagaiman diberitakan Daily Sabah. Caravanserai adalah penginapan pinggir jalan di sepanjang rute perdagangan utama seperti Jalur Sutra yang berfungsi ganda sebagai pusat pertukaran barang, ide, dan budaya.

"Kami telah menemukan sebuah karavanserai yang sangat penting. Ada beberapa sisa bangunan yang menunjukkan keberadaan sebuah kota di sini. Penelitian menunjukkan bahwa kota ini didirikan di sebelah timur karavanserai. Kami telah menemukan banyak artefak tembikar di area kota. Contoh serupa dari keramik ini hanya dapat dilihat di Karakorum, Mongolia. Oleh karena itu, data ini dengan jelas menunjukkan adanya struktur Ilkhanate di Anatolia," jelas Profesor Ersel Çağlıtütuncigil.

Menurut outlet berita Daily Sabah yang dikutip oleh Ancient Origins, para sejarawan di tim survei itu sedang memeriksa catatan sejarah yang menyebutkan keberadaan istana dan ibu kota musim panas di wilayah tersebut. Namun, catatan ini tidak merinci di mana tepatnya istana itu berada.

Sejarawan Armenia abad ke-13, Kirakos dari Ganja (1200-1271 Masehi), menyebutkan sebuah istana yang terletak di suatu tempat antara Danau Van dan Danau Urmiya. Sejarawan Armenia lainnya, Grigory dari Akanc (1250-1335 Masehi), menulis bahwa negara bagian Ilkhanate memiliki ibu kota musim panas dan istana di timur laut Danau Van di Ala Taq.

Istana Khan yang diketahui kelompok peneliti sebagai Istana Hulagu Khan dulunya pernah dijarah secara besar-besaran, sehingga sulit untuk menguatkan bukti keberadaan sisa istana tersebut.

"Sisa-sisa kompleks istana Khan sekarang hancur total," kata anggota tim penggalian Munkhtulga Rinchinkhorol, seorang arkeolog dari Akademi Ilmu Pengetahuan Mongolia, kepada Live Science.

Meskipun istana itu mengalami penjarahan, tim peneliti telah menemukan potongan-potongan genteng berlapis kaca, batu bata, keramik berlapis tiga warna dan pecahan porselen. Ini adalah material yang biasanya ada pada istana.

Penelitian lebih lanjut di situs tersebut sedang dilakukan oleh tim gabungan Turki-Mongolia untuk mengompilasikan bukti dan analisis atas sisa bangunan yang mereka yakini sebagai istana cucu Jengis Khan itu. Sebuah laporan penelitian akan disiapkan dalam beberapa bulan ke depan, kata Rinchinkhorol.

Anak-Anak Zaman Es Bermain di Genangan Air Raksasa 11.000 Tahun Lalu


Penelitian baru tim arkeologi di Inggris menemukan jejak kaki yang terawetkan selama ribuan tahun. Jejak tersebut meninggalkan bukti prasejarah yang menunjukan bahwa anak-anak zaman Pleistosen di Amerika utara bermain di genangan air raksasa 11.000 tahun yang lalu.

Anak-anak, mungkin jumlahnya empat orang, berlari dan memercikan air dari genangan di tanah yang basah. Sekarang, jejak mereka tertinggal di dasar danau yang kering bersama dengan cekungan bekas jejak kaki kungkang raksasa.

Temuan menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di Amerika Utara selama zaman Pleistosen, sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun yang lalu, menyukai percikan air.

"Semua anak suka bermain dengan genangan air berlumpur, yang pada dasarnya memang seperti itu," Matthew Bennett, seorang profesor ilmu lingkungan dan geografis di Bournemouth University di Inggris yang mempelajari jejak tersebut, mengatakan kepada Live Science.

Lebih dari 11.000 tahun yang lalu, anak-anak kecil yang melakukan perjalanan bersama keluarga mereka melalui apa yang sekarang disebut Taman Nasional White Sands di New Mexico. Mereka menemukan hal-hal impian masa kecil, yakni genangan air berlumpur yang terbuat dari jejak kaki kungkang raksasa.

Bennett telah melakukan perjalanan ke White Sands lebih dari selusin kali dalam lima tahun terakhir. Ia mencari dan menganalisis jejak kaki yang ditinggalkan oleh manusia zaman es dan megafauna (hewan yang lebih berat dari 99 pon, atau 45 kilogram).

Dia dan rekan-rekannya telah membuat sejumlah penemuan luar biasa. Penemuan itu termasuk jejak kaki manusia antara 21.000 dan 23.000 tahun yang lalu, yang merupakan 'bukti tegas' paling awal dari orang-orang di Amerika.

Penemuan jejak berlumpur anak-anak dan kungkang ini belum dipublikasikan dalam jurnal peer-review. Tapi Bennett berencana untuk menulis tentang mereka dalam beberapa bulan mendatang sebagai makalah metode, untuk membantu para ilmuwan yang mempelajari

Jalur serupa menentukan berapa banyak orang yang hadir dan berapa usia orang-orang itu ketika mereka membuat trek.

Misalnya, jejak yang dianalisis Bennett bukanlah representasi akurat dari kaki anak-anak, karena lumpur licin mendistorsi setiap jejak. Tapi Bennett mampu membandingkan jejak kaki yang diawetkan dan kotor dengan data pertumbuhan modern untuk menyimpulkan usia anak-anak.

Dia menemukan bahwa ada lebih dari 30 jejak kaki yang melintasi jalur kungkang itu. Kemungkinan dari anak-anak berusia antara 5 dan 8 tahun, kata Bennett.



Kungkang tanah raksasa yang sekarang sudah punah, mungkin Nothrotheriops, meninggalkan jejaknya setelah berjalan melalui area tersebut dengan empat kaki. Setiap jejak kakinya sebenarnya adalah jejak ganda, kata Bennet.

"Saat ia meletakkan cakar depannya, cakar belakangnya datang dan menginjaknya," jelasnya. Kombinasi kaki depan dan belakang ini memberikan jejak kaki berbentuk ginjal.

Setiap jejak kaki kungkang raksasa berukuran hampir 16 inci (40 sentimeter). Dan binatang itu berukuran mulai dari sapi hingga sebesar beruang, kata Bennet.

Jejak kaki itu dangkal, sekitar 1,2 inci (3 cm), tetapi tampaknya itu cukup dalam untuk diisi dengan air dan menggelitik anak-anak.

"Kami sangat sering melihat jejak anak-anak di White Sands. Kemungkinan besar karena, seperti anak-anak sekarang, anak-anak ini berlomba, meninggalkan ratusan jejak kaki setiap hari," kata Bennett.

Anak-anak dan orang dewasa dalam kelompok itu "hampir pasti" adalah pemburu yang terjebak bersama saat mencari makanan," tambahnya.

"Dulu, Anda hanya akan membawa anak Anda ke tempat kerja. Dan jika pekerjaan berjalan melintasi bekas dasar danau untuk melacak seekor binatang, Anda akan membawa anak Anda bersama Anda."

Sulit untuk menentukan usia jejak kaki tanpa stratigrafi terperinci, atau mempelajari lapisan batuan dari situs dan tanpa menemukan bahan organik apa pun, yang dapat diberi penanggalan radiokarbon.

"Tetapi berdasarkan penemuan jejak berusia 23.000 tahun dan fakta bahwa kungkang tanah punah sekitar 11.000 tahun yang lalu, jejak anak-anak yang pernah mencolok ini kemungkinan dibuat antara 23.000 dan 11.000 tahun yang lalu, kata Bennet.