Sunday, October 30, 2022

Mencairnya Gletser Singkap Gua Penampungan Perang Dunia dan Artefaknya


Mencairnya sebuah gletser di Italia utara telah menyingkap keberadaan gua yang sempat jadi tempat penampungan tentara-tentara Perang Dunia I. Para peneliti kemudian menemukan harta karun artefak-artefak Perang Dunia I di gua penampungan tersebut berkat pencairan gletser.

Selama perang, gua itu diketahui sempat menampung 20 tentara Austria yang ditempatkan di Gunung Scorluzzo di bagian depan Alpine. Menurut sejarawan Stefano Morosini, gua ini terletak dekat Stelvio Pass yang terkenal.

Selama ini orang-orang sudah tahu bahwa tempat persembunyian tentara itu ada. Namun, para peneliti hanya bisa memasukinya pada 2017 saat gletser di sekitarnya telah mencair, ujar Morosini yang merupakan koordinator ilmiah proyek warisan sejarah (heritage project) di Taman Nasional Stelvio (Stelvio National Park) dan mengajar di University of Bergamo..

Di dalam gua itu para peneliti menemukan banyak barang. Beberapa di antaranya adalah makanan, piring, dan jaket yang terbuat dari kulit binatang, rinci Morosini.


Artefak-artefak tersebut menggambarkan "kehidupan sehari-hari yang sangat buruk" para tentara yang harus menghadapi "kondisi lingkungan yang ekstrem," kata Morosini. Suhu musim dingin di lingkungan sekitar gua tersebut bisa turun hingga minus 40 derajat Celsius, tambahnya.

Angka itu juga setara dengan minus 40 derajat Fahrenheit. Suhu serendah itu telah melewati titik beku air dan merupakan suhu yang ekstrem bagi manusia normal pada umumnya.

"Tentara-tentara itu tidak hanya harus berjuang melawan lingkungan yang ekstrem, berperang melawan salju atau longsoran salju, tetapi juga harus berperang melawan musuh," ujar Morosini, seperti dilansir CNN.

"Artefak-artefak itu adalah representasi, seperti mesin waktu, dari ... kondisi ekstrem kehidupan selama Perang Dunia Pertama," tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa semakin banyak barang yang ditemukan di daerah itu setiap musim panas tiba dan setiap lapisan es gletser mencair.

"Ini semacam museum terbuka," ucap Morosini. Dia juga menceritakan bahwa lima tahun lalu mayat dua tentara ditemukan, bersama dengan dokumen-dokumen yang memungkinkan mereka untuk diidentifikasi. Setelah identitas dua tentara itu berhasil diidentifikasi, jenazah-jenazah mereka kemudian diserahkan kepada pihak keluarga mereka.

Artefak-artefak dari gua penampungan itu kini sedang dilestarikan dan akan menjadi bagian dari koleksi di sebuah museum yang didedikasikan untuk Perang Dunia I di Kota Bormio di Italia utara, papar Morosini. Museum tersebut akan dibuka pada akhir 2022 nanti.

Menurut pernyataan dari White War Museum yang terletak di Adamello, Italia utara, gua penampungan itu diduduki pada hari-hari pertama perang oleh pasukan Austria, yang membuatnya sama sekali tidak terlihat dari pihak Italia atau dari pemantauan udara.

Gua penampungan itu berada di ketinggian 3.094 meter atau sekitar 10.151 kaki, tepat di bawah puncak Gunung Scorluzzo. Upaya penggalian di gua tersebut telah dilakukan setiap Juli dan Agustus sejak 2017 demi menghilangkan sekitar 60 meter kubik es dari dalam gua tersebut.

Setidaknya sebanyak 300 benda telah ditemukan di dalam gua tersebut. Beberapa benda tersebut adalah kasur jerami, koin, helm, amunisi, dan koran.

"Penemuan di dalam gua di Gunung Scorluzzo itu memberi kita, setelah lebih dari seratus tahun, sepotong kehidupan di lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut, di mana waktu berhenti pada 3 November 1918 ketika tentara-tentara Austria terakhir menutup gua tersebut dan bergegas menuruni bukit," kata White War Museum dalam pernyataan resminya untuk pers. 

Pertempuran Tsushima, Kejayaan Militer Jepang Melawan Dominasi Eropa


Pasca Restorasi Meiji 1868, Kekaisaran Jepang muncul sebagai pelopor kemajuan di Asia di bidang industri dan pengetahuan. Pengetahuan pun menjadi tongak kebangkitan militer Jepang selama awal abad XX.

Berkat Restorasi Meiji pun, secara politik Jepang berani mengambil langkah untuk bersaing dengan Rusia untuk pengaruhnya di semenanjung Korea dan Manchuria ketika Tiongkok mengalami masalah politik internalnya.

Di sisi lain, Rusia menginginkan ekspansinya ke semenanjung Korea. Jepang menganggap tindakan ini merupakan hal yang tidak bisa ditoleransi.

Maka 8 Februari 1904, Angkatan Laut negeri matahari terbit itu menyerang tiga pangkalan laut Rusia di Korea: Port Harbour, Dalny, dan Chenulpo. Pertempuran pecah baik di darat maupun laut Korea, yang menyebabkan Rusia mundur ke Mukden, Manchuria.

Mengetahui kekalahan militernya, Tsar Nicholas II segera memerintahkan armada laut di Baltik untuk ke Selat Tsushima dengan memutar jauh melewati Terusan Suez. Bahkan salah satunya harus singgah di Madagaskar untuk isi bahan bakar.

Angkatan Darat Rusia pun didatangkan dari Moskow lewat Kereta Api Trans-Siberia. Kekuatan penuh ini bertujuan untuk mematahkan blokade Jepang dan meraih kembali dominasi laut mereka di Perairan Korea.

Rupert Butler dkk dalam buku Perang yang Mengubah Sejarah, Buku Kedua menulis, armada Baltik terbagi dari tiga rute, dan baru bergabung di Laut Tiongkok Selatan Maret 1905.

Penggabungan armada dengan 38 kapal ini diangap sebagai kekuatan penuh militer Rusia.

Tengah malam antara 26 dan 27 Mei, armada Rusia memasuki Selat Tsushima dengan harapan bisa menghadapi Jepang di siang hari. Namun mereka kepergok kapal penjelajah Jepang, Shinamo Maru di antara kabut sebelum subuh.


Terdeteksinya keberadaan kapal Rusia membuat Armada Jepang di pelabuhan Masampo, pesisir tenggara Korea berangkat dari pukul 05.05 waktu setempat. Armada juga diberangkatkan dari Pulau Tsushima. Total yang dikerahkan Jepang berjumlah 103 kapal.

Pukul 13.39 27 Mei, armada laut Jepang berhasil memergoki armada Rusia. Butler dan tim menulis, kapal-kapal Jepang relatif modern daripada Rusia dalam pertempuran ini, bahkan satu jam setelahnya, mereka dapat melakukan manuver rumit agar bisa sejajar dengan armada Rusia.

Sedangkan armada Rusia berada dalam formasi berantakan yang terbagi dalam dua barisan.

Kedua pihak dalam baku tembak. Jepang memfokuskan targentnya pada Savaroff dan Oslyabya yang mengakibatkan keduanya lumpuh dan kebakaran. Sedangkan Rusia berhasil melumpuhkan Asama. Kedua pihak mengalami keberhasilan.

Pada 14.05, Oslyabya membawa 515 pelaut tenggelam ke dasar laut. Satu jam berikutnya pun, Jepang terus menghujani kapal-kapal Rusia hingga formasi menjadi kelompok-kelompok kecil.

Kondisi memburuk bagi armada Rusia membuat mereka tak ada pilihan kecuali harus lari ke pelabuhan Vladivostok, sekitar 1.040 km jauhnya di utara.

Pukul 18.00, kedua armada kehilangan kontak. Dalam selimut asap dan kabut itu, Jepang lagi-lagi berhasil menemukan armada Rusia. Lewat Fuji, mereka berhasil menenggelamkan Alexander III dan Borodino dan meledekkan gudang senjatanya.

Dilaporkan dari 1.660 awak di kapal itu, hanya lima pelaut yang selamat. Sedangkan di pihak Jepang korban terdapat 514 orang, tanpa kehilangan kapal sama sekali.

Kekalahan telak bagi Rusia yang sudah berantakan itu, akhirnya membuat sebagiannya memilih berlayar ke Shanghai lalu menyerahkan diri di Manila, Filipina.


Pukul 09.30 28 Mei 1905, Jepang melalui tiga skuadron kapal penjelajahnya mengontak armada Rusia yang tersisa. Mereka pun mengepung dan kadang-kadang menembak skuadron Rusia.

Laksamana Madya Nikolai Nebogatov, pemimpin armada menganggap melawan adalah hal yang sia-sia. Ia pun menyerahkan empat kapalnya pada Jepang.

Setelah Nebogatov ikut ditangkap, armada Jepang masih menyisir selat Tsushima dan Laut Jepang. Beberapa pasukan Rusia pun mendaratkan diri, dan menyusuri pantai hingga tiba di Vladivostok.

Berdasarkan laporan yang dicatat Butler dan tim, secara keseluruhan Jepang kehilangan 118 orang tewas dan 583 luka-luka. Di pihak Rusia sendiri kehilangan 4.380 orang tewas, 5.917 yang ditawan, dan 1.862 ditahan di negara-negara netral.

Pertempuran itu menjadi awal dominasi Jepang di Pasifik. Tsar Nicholas II akhirnya mengadakan Perjanjian Portsmouth dengan Jepang dan ditandatangani 5 September 1905. Perjanjian itu membuat Rusia menyerahkan Pulau Sakhalin, pangkalan militer di Korea dan Manchuria, maupun hak pengunaan jalur kereta api di sana.

Dalam buku the Battle of Tsu-Shima oleh Vladimir Semenoff (1907), ia mengutip tulisan Sir George Sydenham Clarke, petinggi militer Inggris. Petinggi militer itu mengatakan Tsushima adalah "pertempuran besar dan sangat momentum penting bagi angkatan laut terpenting sejak Trafalgar."

Sedang Butler dan tim menulis, "Keberhasilan Jepang membuat mereka menjadi kekuatan dominan di Pasifik, berasama A.S. Persaingan yang kemudian terjadi akhirnya membuka jalan bagi menyebarnya Perang Dunia II di Pasifik."

Saturday, October 29, 2022

Menguak Keberadaan Negeri Punt Lewat Perdagangan Babun era Mesir Kuno


Setiap negara di dunia pasti melakukan hubungan perdagangan dari negara lainnya, untuk memenuhi kebetuhan di dalam negeri. Kita mengenal dalam sejarah bahwa, jalur sutera pun menjadi jalan perdagangan antara Eropa dan Asia.

Jauh sebelum itu, Mesir kuno oleh para peneliti juga telah melakukan perdangan antar negara, yang kemudian kegiatan tersebut membantu kita untuk menelusuri jejak Punt, negeri yang hilang dalam catatan sejarah.

Punt kuno setidaknya menjadi mitra dagang Mesir selama 1.100 tahun, dalam menjual barang-barang mewah seperti dupa, emas, kulit macan tutul, dan babon. Negeri tersebut dapat dikunjungi melalui darat dan laut, tapi tampaknya para ahli melihat bahwa perdagangan babun dilakukan oleh pelayaran bangsa Mesir kuno melalui Laut Merah.


“Pelayaran jarak jauh antara Mesir dan Punt, dua negara berdaulat, merupakan poin penting dalam sejarah manusia, sebab mendorong evolusi teknologi maritim,” ucap Nathaniel J Dominy, antropolog Dartmouth College dalam rilisan persnya, Selasa (15/12).

Manusia sudah lama melakukan pelayaran perdagangan jarak jauh, terutama untuk jual-beli kerang dan ukiran. Tapi melalui hubungan dagang Mesir-Punt menjadi gambaran bagi para ahli untuk mempertanyakan, bagaimana perkembangan kapal Mesir kuno yang biasanya digunakan untuk berlayar di Sungai Nil, lalu berkembang untuk mengarungi Laut Merah.

“Banyak ahli memandang perdagangan antara Mesir dan Punt sebagai langkah maritim panjang pertama dalam jaringan perdagangan yang dikenal sebagai jalur rempah-rempah, yang akan membentuk kekayaan geopolitik selama ribuan tahun,” ujar Dominy. “Ahli lainnya mengungkapkan, bahwa hubungan Mesir-Punt sebagai awal dari globalisasi ekonomi.”

Untuk mengetahui asalnya, Dominy dan timnya mengumpulkan oksigen dan menganalisa kandungan isotop mumi babun yang berada di kuil makam Mesir kuno dari, era Kerajaan Baru (1550-1069 SM), Ptolemaic (305-30 SM), dan mencocokannya dengan babun modern lainnya yang endemik di Afrika timur dan selatan Arab.

Analisa terhadap rasio isotop dapat menentukan asal makanan dan minuman yang dikonsumsi. Hasilnya diyakini bahwa hewan tersebut berasal dari negara yang kini menjadi Ethiopia, Eritrea, Djibouti, Somalia, dan Yaman.

Temuan ini juga menjadi penguat bukti mengenai lokasi Punt, yang selama ini menjadi teka-teki. Sebab sebelumnya pada 1997, J Phillip menulis esai Punt and Aksum: Egypt and the Horn of Africa dalam Journal of African History menyebutkan bahwa Punt tak dapat ditemukan di peta manapun, dan tak memiliki sisa-sisa arkeologis.

“Babun adalah pusat perdagangan ini, jadi menentukan lokasi Punt itu penting,” terang Dominy. “Selama lebih dari 150 tahun, Punt telah menjadi misteri geografis. Analisis kami adalah yang pertama untuk menunjukkan bagaimana mumi babun dapat digunakan untuk memecahkan teka-teki abadi ini."

Para peneliti juga sempat memperkirakan bahwa babun yang ditemukan juga berasal dari Nubia (kini Mesir selatan dan Sudan utara), tapi anggapan tersebut dikesampingkan karena tak terdapat bukti pendukungnya yang kuat, dan konfrontasi politik Mesir kuno dan Nubia pada masanya..

Dominy memaparkan, babun sangat penting bagi Mesir kuno untuk dipuja sebagai penggambaran Thoth, dewa bulan dan kebijaknsanaan. Banyak hieroglif Mesir kuno yang menggambarkan Papio hamadryas (babun hamadryas) sebagai laki-laki yang duduk dengan ekor meringkuk ke sebelah kanan tubuhnya.

Friday, October 28, 2022

Misteri Penis Kecil Napoleon yang Berpindah-pindah Tangan Lintas Benua


"Setiap kali seseorang menyiratkan bahwa sejarah itu membosankan, saya bawakan penis Napoleon," tulis Tony Perrottet dalam bukunya Napoleon's Privates: 2,500 Years of History Unzipped. Buku itu terbit pada 2008.  

Alkisah, seorang dokter mencabut penis Napoleon selama otopsi pada 1821. Lalu, dokter itu memberikanya kepada pendeta di Corsica. Keluarganya menyimpan penis itu setelah sang pendeta meninggal beberapa tahun kemudian. Selanjutnya, penis itu berpindah tangan, dibeli oleh kolektor Inggris pada 1916. Penis Napoleon sempat dipamerkan di Manhattan, New York City pada 1927.

Perrottet diwawancarai oleh David Farley yang dirilis di Worldhum, majalah daring tentang perjalanan. Dalam wawancara itu ia mengingat sebuah artikel majalah Time yang mengungkapkan ada banyak tangis dan cekikikan diantara penonton yang menyaksikan saat itu dipamerkan.

Penis Napoleon sempat dilelang di London pada 1969, namun tidak laku terjual. Kemudian dilelang kembali di Paris pada 1977 dan dibeli oleh John Kingsley Lattimer, salah satu ahli urologi terkemuka dunia.

John membawanya relik seharga $3.000 itu pulang ke New Jersey dan menyimpanya di bawah tempat tidur sampai ia meninggal 30 tahun kemudian. Menurut Time, putri John telah menerima warisan penis Napoleon itu.

Perrottet mengatakan pada David bahwa Lattimer memang tertarik pada peninggalan-peninggalan yang tidak wajar—seperti kerah berlumuran darah Abraham Lincoln. Karena itulah, Perrottet pergi ke New Jersey untuk melihat barang-barangnya sebelum Lattimer meninggal.

"Ia tidak akan menunjukkan penis itu kepada saya. Saya bertanya lebih dari satu kali apakah saya bisa melihatnya, dan dia terus mengatakan bahwa dia tidak ingin menunjukkannya. Tapi setelah dia meninggal tahun lalu, putrinya—yang mewarisi penis Napoleon—tiba-tiba menunjukkanya padaku," kata Perrottet pada percakapanya dengan David pada 2008.

Dalam buku Perrottet, saat sang dokter mengambil penis Napoleon, ia menyimpanya pada sebuah kotak tanpa formaldehida. Karenanya penis itu mengering dan terlihat "agak mirip dendeng".

Pada 2014 lalu, seorang presenter Channel 4 bernama Mark Evans datang ke New Jersey untuk melihat penis Napoleon. Pemiliknya saat ini adalah Evan Lattimer, putra dari John Lattimer.

Evan Lattimer memandang bahwa relik itu adalah peninggalan berharga dan hanya mengizinkan 10 orang untuk melihatnya. Benda itu juga tidak pernah difoto maupun difilmkan. 

“Saya telah melihat banyak penis, dari chihuahua hingga paus sperma. Ini sangat layu, ”kata Mark Evans di laman Independent. “Tempat terakhir yang saya harapkan untuk menemukannya adalah di New Jersey. Sungguh aneh bagaimana penis yang layu telah menjelajah lebih jauh ke seluruh dunia lebih daripada apa yang pernah dilakukan Napoleon."

Pada halaman yang sama, disebutkan bahwa ukuran penis Napoleon berukuran satu setengah inci. 

Uploading: 124615 of 124615 bytes uploaded.


Apa Yang Sebenarnya Shakespeare Tulis Tentang Wabah Semasa Hidupnya

Shakespeare menjalani seluruh hidupnya dalam bayang-bayang penyakit pes. Pada 26 April 1564, dalam daftar paroki Holy Trinity Church di Stratford-upon-Avon, John Bretchgirdle, mencatat pembaptisan seorang bernama “Gulielmus filius Johannes Shakspere.”

Beberapa bulan kemudian dalam daftar yang sama, vikaris mencatat kematian Oliver Gunne, seorang penenun. Dia menuliskan kata-kata "hic incipit pestis", yang bermakna "di sini mulai wabah".

Pada tahun-tahun itu epidemi merenggut nyawa sekitar seperlima dari populasi kota London. Untungnya, nyawa bayi bernama William Shakespeare dan keluarganya terselamatkan.

Wabah seperti itu tidak mengamuk selamanya. Dengan bantuan karantina yang ketat dan perubahan cuaca, epidemi perlahan-lahan berkurang, seperti yang terjadi di Stratford. Kehidupan pun kembali seperti semula.

Namun, selang beberapa tahun, di kota-kota besar dan kecil di seluruh dunia, wabah pes kelak kembali. Biasanya muncul dengan sedikit atau tanpa peringatan, dan celakanya sangat menular.

Korban akan terbangun karena demam dan kedinginan. Perasaan sangat lemah atau letih, diare, muntah, pendarahan dari mulut, hidung, atau dubur. Juga, tanda-tanda bubo atau pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan atau ketiak. Kematian hampir pasti mengikuti setelahnya.

Shakespeare harus bergulat sepanjang karirnya dengan wabah penyakit yang parah sepanjang 1582, 1592-93, 1603-04, 1606, dan 1608-09.

Sejarawan teater J. Leeds Barroll III dalam majalah The New Yorker, mengungkapkan bahwa pada kisaran 1606 dan 1610, gedung teater London tidak  buka selama lebih dari sembilan bulan. Dan, pada periode inilah Shakespeare menulis dan menghasilkan beberapa drama termasyhurnya dari Macbeth, Antony and Cleopatra, The Winter's Tale, dan The Tempest.

Namun demikian, ada perkara yang menarik. Dalam drama dan puisinya, Shakespeare hampir tidak pernah secara langsung mengungkapkan kehadiran wabah itu. Seperti Thomas Nashe, sastrawan sezaman, membuat A Litany in Time of Plague.

Dalam karya Shakespeare, penyakit epidemi sebagian besar muncul dalam pidato tokoh-tokohnya dengan ungkapan metaforis tentang amarah dan jijik. Metafora tentang wabah itu muncul di seluruh karya Shakespeare dalam bentuk seruan sehari-hari.

Wabah diterima sebagai bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan. Wabah muncul juga dalam bentuk efek komik, seperti ketika Beatrice mengolok-olok Benediktus dalam karya bertajuk Much Ado About Nothing:

"Ya Tuhan! Dia akan menggantungnya seperti penyakit. Dia lebih cepat tertangkap daripada wabah penyakit, dan pencuri berjalan sekarang gila. Tuhan tolong yang mulia Claudio. Jika dia telah menangkap Benediktus, itu akan menghabiskan biaya seribu pound sebelum sembuh."

Wabah sebagai peristiwa aktual hanya menonjol di salah satu drama Shakespeare. Friar Laurence, dalam Romeo and Juliet, telah meminta seorang rekan biarawan untuk menyampaikan pesan penting kepada Romeo di pengasingan di Mantua, memberitahukan kepadanya tentang obat pintar yang akan membuat Juliet tampak telah mati. Dalam beberapa baris, kurir menyampaikan banyak informasi, jauh lebih dari sekadar diperlukan untuk persyaratan plot:

Akan menemukan saudara bertelanjang kaki keluar,
Salah satu pesanan kami, untuk mengaitkan saya,
Di sini, di kota ini mengunjungi orang sakit,
Dan menemukannya, para pencari kota,
Curiga bahwa kami berdua ada di rumah
Di mana wabah menular memang memerintah,
Menutup pintu dan tidak akan membiarkan kita keluar,
Sehingga kecepatan saya ke Mantua tetap ada.

Shakespeare tampaknya telah berbagi skeptisisme Nashe bahwa akan ada solusi medis untuk wabah itu. Dan dari apa yang kita ketahui tentang ilmu pada masanya, pesimisme ini dibenarkan.

Dia memusatkan perhatiannya pada wabah yang berbeda, wabah diperintah oleh seorang pemimpin yang ulet, bangkrut secara moral, tidak kompeten, berlumuran darah, dan akhirnya merusak diri sendiri.

Thursday, October 27, 2022

Bangkai Kapal di Israel Ditemukan dengan Artefak Kristen dan Muslim


Di lepas pantai Israel, para arkeolog kelautan telah menggali kapal karam misterius yang mengubah cara para ahli berpikir tentang abad ke-7 M di Timur Tengah.

Bangkai kapal itu pertama kali terlihat oleh anggota Kibbutz Ma'agan Michael, di lepas pantai Israel, sekitar 29 mil (47 kilometer) selatan Haifa. Ia ditemukan pada tahun 2015, tetapi dibiarkan tidak terganggu dan tertutup pasir.

Barulah sejak 2016, kapal karam tersebut diselidiki oleh tim peneliti dari Institut Leon Recanati, Studi Kelautan Universitas Haifa.

Pada laman Ancient Originsdisebutkan bahwa kapal itu awalnya memiliki panjang 75 kaki (23 meter)--berada di kedalaman tiga meter dan terkubur oleh lebih dari satu ton pasir.

Menurut para arkeolog, kapal ini sepertinya tenggelam karena kecelakaan navigasi. Meski begitu, bangkai kapal sangat terawat, mungkin karena terkubur di pasir.

Deborah Cvikel, yang merupakan bagian dari tim peneliti, mengatakan: "Kami belum dapat menentukan dengan pasti apa yang menyebabkan kapal itu karam, tetapi kami pikir itu mungkin kesalahan navigasi."

Karena tenggelam begitu dekat pantai, diperkirakan tidak ada korban jiwa. Bangkai kapal sangat umum di Mediterania kuno.

Kapal diyakini tenggelam sekitar 1.300 tahun yang lalu pada abad ke-7. Ini adalah era kemenangan Arab atas Bizantium di Yarmouk. Kaum Muslim menaklukkan sebagian besar apa yang sekarang dikenal sebagai Timur Tengah modern.

Orang-orang Arab mencoba dan gagal menaklukkan sisa Kekaisaran Bizantium, negara penerus Roma. Abad ke-7 memulai transisi wilayah dari yang didominasi oleh orang Kristen menjadi mayoritas Muslim.

Para arkeolog kelautan menemukan beberapa prasasti yang ditulis dalam bahasa Arab dan Yunani pada kayu serta keramik di kapal karam Israel ini.

Mereka juga menemukan beberapa simbol Kristen seperti salib, sekaligus tanda keagamaan Muslim. Ada satu prasasti yang menguraikan kata Allah.


Prasasti-prasasti ini menunjukkan 'kompleksitas yang menarik pada periode itu,' lapor the Jerusalem Post. Prasasti-prasasti ini penuh teka-teki karena abad ke-7 merupakan masa penuh konflik agama.

"Kami tidak tahu apakah kru kapal tersebut Kristen atau Muslim, tetapi kami menemukan jejak kedua agama," kata Cvikel kepada Jerusalem Post.

Ada kemungkinan bahwa para kru merupakan penganut kedua agama. Penemuan ini juga menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari perbedaan antara Kristen dan Muslim tidak sekuat yang diyakini pada umumnya.

Di antara barang-barang yang ditemukan di kapal karam abad ke-7 ini, ada juga potongan-potongan makanan, seperti kurma.

Tulang binatang ditemukan di kapal--kemungkinan menunjukkan bahwa kru kapal memelihara hewan atau disediakan sebagai bahan makanan.

Kapal juga dipenuhi oleh ratusan amphora. Diduga itu digunakan untuk mengangkut minyak zaitun, anggur, atau biji-bijian. Wadah keramik ini sering ditemukan pada kapal karam dari dunia kuno.

Wednesday, October 26, 2022

Penemuan Cacing Elvis, Spesies Baru Cacing Bersisik di Dasar Lautan


 Cacing Elvis adalah kemosinetik habitat asli di laut dalam. Ia juga dikenal sebagai cacing skala. 

Sebuah studi baru dari Universitas California dan CNRS Universitas Sorbonne menentukan posisi filogenetik dari cacing-cacing ini menggunakan sekuens DNA dari sampel luas polinoid laut dalam.

Dilansir dari techexplorist, para ilmuwan menamakannya cacing Elvis karena cangkang berlapisnya yang warna-warni--mengingatkan mereka pada baju berpayet Elvis.

Mereka secara resmi mengidentifikasi empat spesies cacing Elvis: Peinaleopolynoe goffrediae, P. mineoi, P. orphanage, dan P. elvisi. Semua spesies ini hidup di dasar laut pada kedalaman 3.000 kaki.

Spesies pertama dinamai untuk menghormati seorang ahli biologi kelautan terkenal, yang kedua dinamai dari ayah dari salah satu peneliti, ketiga dari nama geobiologis terkenal dan yang keempat penyanyi terkenal.

Para ilmuwan memperhatikan bahwa cacing-cacing itu hidup di perairan yang terlalu dalam sehingga cahaya tidak bisa menembusnya. Oleh sebab itu, makhluk lain yang mungkin tinggal di sana bersama mereka tidak akan memiliki pilihan untuk melihat cangkangnya yang berwarna ungu, biru, dan merah muda yang berkilau. Selain itu, mereka juga tidak bisa saling melihat karena tidak memiliki mata.

Banyak pertanyaan yang muncul tentang mengapa cacing-cacing itu memiliki cangkang berwarna-warni. Para ilmuwan belum bisa menjawabnya, tapi mungkin karena ada makhluk bioluminescent khusus yang mencari mereka.

Melalui rekaman video, para peneliti melihat dua dari spesies cacing itu berkelahi, memotong cangkang lawan, dan menari jig. Hal itu dilakukan untuk mengetahui lekukan-lekukan di tubuh mereka. 

 

Planet yang Mengorbit Bintang Katai M Tak Dapat Dihuni, Ini Alasannya


 Planet mirip Bumi yang mengorbit katai M—jenis bintang paling umum di alam semesta—tampaknya tidak memiliki atmosfer sama sekali, menurut studi terbaru ilmuwan Penemuan ini dapat menyebabkan perubahan besar dalam pencarian kehidupan di planet lain.

Karena katai-M ada di mana-mana, penemuan ini berarti sejumlah besar planet yang mengorbit bintang-bintang ini mungkin juga kekurangan atmosfer. Oleh karena itu, tidak mungkin dapat menampung makhluk hidup. Hasil studi ini mengarah pada pengungkapan tentang planet tanpa atmosfer, yang bernama GJ 1252b. Temuan tersebut diterbitkan dalam makalah berjudul “GJ 1252b: A Hot Terrestrial Super-Earth with No Atmosphere,” dalam jurnal Astrophysical Journal Letters.

Planet ini mengorbit bintangnya dua kali selama satu hari di Bumi. Ini sedikit lebih besar dari Bumi, dan jauh lebih dekat ke bintangnya daripada Bumi ke matahari, membuat GJ 1252b sangat panas serta tidak ramah.

"Tekanan dari radiasi bintang sangat besar, cukup untuk meledakkan atmosfer planet," kata Michelle Hill, astrofisikawan UC Riverside dan rekan penulis studi.

Bumi juga kehilangan sebagian atmosfernya dari waktu ke waktu karena matahari. Akan tetapi emisi vulkanik dan proses siklus karbon lainnya membuat kehilangan hampir tidak terlihat dengan membantu mengisi kembali apa yang hilang. Namun, dalam jarak yang lebih dekat dengan bintang, sebuah planet tidak dapat terus mengisi kembali jumlah yang hilang tersebut.

Di tata surya kita, ini adalah nasib Merkurius. Itu memang memiliki atmosfer, tetapi sangat tipis, terdiri dari atom-atom yang terlempar dari permukaannya oleh matahari. Panas yang ekstrem dari planet ini menyebabkan atom-atom ini lepas ke luar angkasa.

Untuk menentukan bahwa GJ 1252b tidak memiliki atmosfer, para astronom mengukur radiasi inframerah dari planet ini karena cahayanya dikaburkan selama gerhana sekunder. Jenis gerhana ini terjadi ketika sebuah planet lewat di belakang bintang dan cahaya planet, serta cahaya yang dipantulkan dari bintangnya terhalang.

Radiasi itu mengungkapkan suhu siang hari yang terik di planet ini, diperkirakan mencapai 2.242 derajat Fahrenheit—sangat panas sehingga emas, perak, dan tembaga semuanya akan meleleh di planet ini. Panas, ditambah dengan asumsi tekanan permukaan rendah, membuat para peneliti percaya tidak ada atmosfer.

Bahkan dengan sejumlah besar karbon dioksida yang memerangkap panas, para peneliti menyimpulkan GJ 1252b masih tidak akan mampu bertahan di atmosfer. "Planet ini bisa memiliki 700 kali lebih banyak karbon daripada yang dimiliki Bumi, dan masih belum memiliki atmosfer. Awalnya akan terbentuk, tapi kemudian berkurang dan terkikis," kata Stephen Kane, astrofisikawan UCR dan rekan penulis studi.

Bintang kerdil M cenderung memiliki lebih banyak suar dan aktivitas daripada matahari. Ini semakin mengurangi kemungkinan planet-planet yang mengelilinginya dapat mempertahankan atmosfernya.

"Kemungkinan kondisi planet ini bisa menjadi pertanda buruk bagi planet yang lebih jauh dari bintang jenis ini," kata Hill. "Ini adalah sesuatu yang akan kita pelajari dari Teleskop Luar Angkasa James Webb, yang akan mengamati planet seperti ini."

Ada 5.000 bintang di lingkungan matahari Bumi, kebanyakan dari mereka adalah katai M. Bahkan jika planet yang mengorbit mereka dapat dikesampingkan sepenuhnya, masih ada sekitar 1.000 bintang yang mirip dengan matahari yang bisa dihuni.

"Jika sebuah planet cukup jauh dari katai M, ia berpotensi mempertahankan atmosfer. Kami belum dapat menyimpulkan bahwa semua planet berbatu di sekitar bintang-bintang ini mengalami nasib seperti Merkurius," kata Hill. "Saya tetap optimis."

Tuesday, October 25, 2022

Bagaimana Manusia Selamat Dari Letusan Gunung Berapi Toba Purba?

 Indonesia memiliki gugusan gunung vulkanik yang aktif. Bahkan, sepanjang sejarah, tercatat bahwa letusan Gunung Tambora pada 1815 merupakan yang terparah di dunia.

Namun, selain itu, para ilmuwan menemukan bahwa Toba, yang kini menjadi danau di Sumatera Utara, juga pernah mengalami letusan dahsyat 75 ribu tahun lalu.

Letusan tersebut tercatat mencapai level 8 VEI (Volcanic Explosivity Index), skor maksimal yang setara dengan letusan gunung api purba Yellowstone, Amerika Serikat di masa purba.

Erupsi super Toba juga mengakibatkan pendinginan global selama 1.000 tahun. Ada pula teori yang menyatakan bahwa letusan tersebut mengakibatkan kehancuran masif pada makhluk hidup.

Lantas, bagaimana manusia ada yang bisa selamat dari bencana tersebut?

Para arkeologi melaporkan bahwa beberapa Homo sapiens yang hidup di Afrika bisa selamat karena mengembangkan strategi sosial, simbolis, dan ekonomi yang canggih.

Dengan strategi tersebut, Homo sapiens melanjutkan ekspansinya dan menghuni benua Asia 60 ribu tahun lalu, dalam satu gelombang melalui garis pantai Samudera Hindia.

Meski banyak perdebatan mengenai waktu penyebaran manusia pasca atau pravulkanisme Toba, tapi teori ini diungkapkan berdasarkan laporan catatan stratigrafi kuno yang ditemukan di situs Dhaba di Lembah Son, bagian utara India.

Studi

arkeologi terbaru pun mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa populasi manusia berkembang di India 80 ribu tahun lalu dan mereka selamat dari salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam dua juta tahun terakhir.

Dari situs tersebut, ditemukan juga alat-alat yang berhubungan dengan waktu terjadinya letusan Toba. Bukti tersebut menurut para arkeolog menjadi bukti kuat mengenai kehadiran masa Paleolitikum Tengah di India, sebelum dan setelah letusan tersebut.

J.N Pal, pemimpin penelitian dari Allahabad University, menulis: “Meskipun abu vulkanik Toba pertama kali diidentifikasi di Lembah Son pada tahun 1980-an, tapi sampai sekarang kami tidak memiliki bukti arkeologis yang berkaitan hingga situs Dhaba menjawab celah kronologis besar tersebut.”

Dari studi tersebut, diketahui bahwa perkakas yang ditemukan identik dengan yang digunakan oleh Homo Sapiens di Afrika pada rentang waktu yang sama. 

Chris Clarkson, peneliti dari University of Queensland yang juga terlibat dalam studi mengatakan: “Fakta bahwa perkakas ini tidak hilang pada saat letusan besar Toba atau mengalami perubahan dramatis, menunjukkan bahwa ada populasi manusia yang selamat dari bencana tersebut dan terus menciptakan alat-alat untuk memodifikasi lingkungan mereka.“

Clarkson dan ilmuwan lain dalam penelitian tersebut menduga, letusan besar Toba tidak terlalu mengakibatkan pendinginan global hingga menciptakan periode Zaman Es baru.

Bukti arkeologis terbaru ini juga membuktikan bahwa manusia purba dapat beradaptasi menghadapi perubahan lingkungan.




 

Bulu Burung, Tren Mode yang Menggambarkan Kehebatan Pria Masa Lampau

Jika Anda melihat fashion show atau foto-foto model pakaian mewah, hiasan bulu burung kerap digunakan pada pakaian wanita untuk menambah keanggunan mereka.

Namun, tahukah Anda? Pada 1521, seorang ahli mode Jerman bernama Matthäus Schwarz juga pernah membuat desain model pakaian dengan bulu burung untuk pria.

Ulinka Rublack dari Early European History Cambridge University, dan Jenny Tiramani dari London's School of Historical Dress meneliti bagaimana mode ini berkembang pada zaman peralihan budaya dan ekonomi yang terjadi di Eropa

Rublack dan Tiramani merekonstruksi tren fashion megah tersebut untuk mengetahui kondisi historis dari mode bulu burung pada pria.

“Kita semua pernah mendengar ungkapan ‘letakan bulu di topimu’. Namun, Schwarz membawa hal ini ke tingkat yang lebih tinggi,” kata Rublack, dilansir dari situs resmi Cambridge University.

“Ketika orang lain berdiri di tempat terbuka dengan 'mahkota' bulu-bulu besar itu, Anda bisa langsung melihatnya meski dari jarak setengah mil,” imbuh Tiramani, menjelaskan bagaimana penampilan orang yang menggunakan bulu burung pada masa itu.

Rekonstruksi karya Rublack dan Tiramani tersebut tersusun dari hiasan kepala dengan 32 bulu burung unta panjang, yang kemudian dijahit dengan 16 bulu burung lain.

“Hasilnya ajaib. Bulu burung unta sensual, mereka ringan, sangat lembut dan gerakan mereka sangat menggairahkan,” papar Tiramani.

Dengan bulu burung , Schwarz ingin menonjolkan kemampuannya dalam bidang fashion. Untuk menghormati Ferdinand I, ia memasangkan bulu burung unta putih dan mewah agar selaras dengan warna kebangsaan Austria. 

Ferdinand I sendiri adalah penguasa Austria yang menjadi saudara bagi raja Romawi Suci, Charles V. Ketika desain Schwarz digunakan Ferdinand I, Eropa mulai tergila-gila dengan bulu burung.


Rublack dan Tiramani menyampaikan, fashion bulu burung digunakan untuk menambah pesona diri serta memperluas pengaruh perdagangan dan kekuasaan kekaisaran.

"Ini membantu kita untuk memahami mengapa jenis hiasan seperti ini sangat berarti bagi orang-orang seperti Schwarz. Bagaimana mereka menggunakannya untuk memamerkan pengetahuan tentang teknologi terbaru, kerajinan dan budaya global," kata Rublack.

Sejak abad ke-17, mode bulu burung perlahan mengalami pergeseran dan mulain dikenakan wanita. Pada masa ini, penggunaan untuk laki-laki hanya terbatas pada hiasan dan parade militer saja bukan untuk dikenakan sehari-hari lagi.

Monday, October 24, 2022

Untuk Pertama Kalinya, Air Terdeteksi di Eksoplanet Layak Huni Ini


 Pada atmosfer eksoplanet yang berjarak 111 tahun cahaya ini, para astronom mengungkap penemuan yang sangat menakjubkan: air. 

Diketahui bahwa sekitar 50% atmosfer eksoplanet bernama K2-18b dipenuhi oleh uap air. Namun, tidak seperti eksoplanet raksasa lainnya yang memiliki air di atmosfernya, K2-18b termasuk ke dalam golongan Bumi super dan zona layak huni. Ia memiliki permukaan berbatu seperti Bumi, Mars, dan Venus. 

"Menemukan air selain di Bumi sangat menarik," kata Angelos Tsiaras, astronom dari University College London. 

K2-18b pertama kali ditemukan pada 2015 dan merupakan sebuah planet ekstrasurya yang sulit dijelaskan. Kita tahu bahwa ia mengorbit bintang katai merah bernama K2-18 dengan cukup dekat–satu putarannya sekitar 33 hari. Ia tidak terlalu panas sehingga air tak menguap dari permukaan, juga tidak terlalu dingin sehingga tak membuatnya membeku. 

Diketahui bahwa tingkat iradiasi bintang di K2-18b mirip dengan di Bumi dan memiliki ukuran dua kali lipat dari planet kita. Pada 2017, sekelompok peneliti bahkan menetapkannya sebagai 'planet berbatu dengan atmosfer–seperti Bumi, tapi lebih besar'. Mereka juga mengatakan bahwa planet ini memiliki interior yang sebagian besar air, kemudian ditutupi oleh cangkang es tebal seperti Enceladus atau Europa.  

K2-18b pertama kali ditemukan oleh teleskop Kepler, yang mendeteksinya melalui metode transit. Ini terjadi ketika sistem bintang dalam posisi sejajar sehingga memungkinkan planet tersebut melewati kita dan bintangnya (transit)–menyebabkan peredupan cahaya bintang yang akhirnya terdektesi teleskop. 

Proses transit ini juga dapat membantu kita mempelajari atmosfer planet. Ketika cahaya bintang melewatinya, beberapa gelombang bisa diserap oleh gas tertentu dan menghasikan garis pada spektrum. Perbedaannya dapat terlihat saat Anda membandingkan profil spektral bintang dengan profil spektral transit. 

Meski begitu, memahaminya tidak mudah karena mendeteksi planet saja memerlukan instrumen yang sangat sensitif dalam mendeteksi cahaya bintang.

Tsiaras dan timnya menggunakan instrumen WFC3 pada teleskop luar angkasa Hubble. Mereka mengambil gambar transit K2-18b di depan bintang, kemudian menggabungkannya untuk menghasilkan berat rata-rata sehingga mampu menciptakan profil spektral untuk planet ini. 

Mereka lalu mencari tahu apa yang ditunjukkan profil spektral menggunakan pemodelan. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 20-50% atmosfer K2-18b merupakan uap air. Sebagai perbandingan, di bumi ada sekitar 5% uap air. Bisa dikatakan, K2-18b merupakan tempat yang sangat lembap. 

"Analisis yang kami sajikan memberikan hasil pengamatan langsung pertama dari tanda-tanda molekul eksoplanet zona layak huni. Kami menghubungkan studi teoritis dengan pengamatan," kata para peneliti dalam studi yang dipublikasikan pada jurnal Nature Astronomy. 

"Meskipun subjek mengenai planet layak huni di sekitar bintang ini menjadi bahan diskusi aktif, tapi menemukan kemajuan tentangnya membutuhkan proses pengamatan yang jauh lebih baik," pungkas mereka. 

Selisih Shih-Li-Fo-Shih: Teka-teki Sriwijaya yang Tak Berkesudahan

Di negeri Shihlifoshih, kita melihat bahwa bayang-bayang welacakra [jam matahari] tidak menjadi panjang, atau menjadi pendek pada pertengahan bulan delapan,” demikian tulis I-Tsing dalam catatannya.

“Pada tengah hari, tak tampak bayang-bayang orang yang berdiri di bawah matahari.” I-Tsing pun menunjukkan letak Shihlifoshih berada di garis lintang yang sama dengan posisi matahari saat itu. “Matahari tepat di atas kepala dua kali satu tahun. Kalau matahari di sebelah selatan, bayang-bayang membujur ke utara; panjangnya lebih kurang dua atau tiga ch’ih. Kalau matahari di sebelah utara, bayang-bayangnya sama, tetapi jatuh ke selatan.”

I-Tsing merupakan pendeta Buddha asal Cina. Dia singgah ke Shihlifoshih antara 671 dan 695, diselingi perjalanan ke India dan bermukim di Nalanda sekitar 672 hingga 685. Dia diperkirakan menulis kisahnya pada periode 690 hingga 692.

Di manakah Shihlifoshih itu? Persoalannya, kabar dari Cina tentang toponimi di lautan sebelah selatan kadang membingung ahli sejarah. Pasalnya, nama tempat dicatat dalam bahasa Cina berdasar indra pendengaran sang penulis, dan penentuan lokasinya berdasarkan jam matahari.


Baru pada awal abad ke-20, atau sekitar 1.200 tahun setelah I-Tsing selesai mencatat perjalanannya, secuil misteri terpecahkan. Shihlifoshih diduga kuat berkaitan dengan lokasi sebuah negeri bernama Sriwijaya. Per­debatan panjang di mana lokasi Sriwijaya telah mengerucut pada tiga kawasan di sekitar khatulistiwa Sumatra, yang juga diduga sebagai tempat bermukim I-Tsing.

Ketiga kawasan tersebut adalah Bukit Siguntang di Palembang, Candi Muarajambi di Jambi, dan  Candi Muara Takus di Riau. Jika tempat tinggal I-Tsing di Shihlifoshih dapat diketahui, tersingkaplah teka-teki lokasi Ibu Kota Sriwijaya. “Upaya saya mengulangi pengamatan astronomis I-Tsing berhubungan erat dengan upaya mengidentifikasi lokasi I-Tsing berdiam,” tulis Hudaya Kandahjaya dalam surelnya kepada The Society of Muarojambi Temple (The SOMT) pada pertengahan 2011.

Hudaya merupakan peneliti di Numata Center yang berkantor tak jauh dari University of Berkeley, California, Amerika Serikat. Lembaga tersebut berkiprah dalam penelitian dan alih bahasa naskah Buddha dalam kitab Tripitaka. Dia sendiri lahir dan besar di Bogor, Jawa Barat. Sementara, The SOMT adalah komunitas peduli terhadap kelestarian Candi Muarajambi, yang dimotori secara swadaya oleh warga sekitar situs warisan leluhur Sumatra itu.

Saat kunjungan pertamanya ke Muarajambi, Hudaya terkesan atas melimpahnya temuan arkeologis seluas hampir tiga ribu hektare tersebut, ketimbang temuan di Riau dan Palembang. Kenyataan ini mendorongnya untuk menghubungkan dengan tempat I-Tsing bermukim. Namun, dia tak berpuas diri hanya dengan kesimpulan itu.


Hudaya memprakarsai rekonstruksi peng­amatan astronomis dengan bantuan tenaga pengamat lapangan dari The SOMT. Pengamatan pertama berlokasi di kompleks Muara Takus yang dilakukan tengah hari pada tanggal 15 bulan kedelapan kalender Cina (12 September 2011)—waktu yang tepat seperti kisah I-Tsing. Hasilnya, mereka masih menjumpai bayangan walaupun lokasinya paling dekat dengan khatulistiwa.

Lokasi kedua adalah kompleks Muarajambi. Namun, pengamatan astronomis di situs ini dilakukan tepat pada saat matahari di atas Muarajambi, yaitu pada tanggal 1 bulan kesembilan dalam kalender Cina (27 September 2011). The SOMT mengirimkan laporannya lewat surel—baik teks maupun visual—kepada Hudaya. “Telah terjadi bahwa bayangan dari pipa paralon yang digunakan sebagai pengukur, hilang bayangannya,” demikian tulis The SOMT.

Hudaya membalas surel mereka, “Ini semakin mendekatkan kita pada kesimpulan bahwa Muarajambi adalah lokasi I-Tsing tinggal.” Kemudian saya berdiskusi dengan Hudaya tentang temuan mereka lewat surel. Saya melayangkan kepadanya sebuah pernyataan bahwa “ketiadaan bayangan di Muarajambi yang terjadi setelah pertengahan bulan kedelapan merupakan suatu kenampakan berbeda dari catatan I-Tsing.”

“Kekeliruan muncul dalam banyak tulisan cendekiawan sebelum ini yang menyinggung soal pengamatan astronomis I-Tsing,” balas Hudaya mengoreksi pendapat saya. Menurutnya terdapat aspek astronomis dalam catatan pendeta Buddha itu yang tidak disimak semestinya.
“Peristiwa yang dialami I-Tsing bersifat khas.”

Artinya, pertengahan bulan kedelapan (atau bulan kedua) penanggalan Cina yang bersamaan dengan zenit di belahan Bumi selatan tidak terjadi setiap tahun, ungkapnya. “Saat yang khas itu terjadi pada tahun 690, pada masa I-Tsing menulis catatannya.”


Peristiwa langka itulah yang dibuktikan Hudaya dengan menghitung ulang kejadian astronomis dan periode penulisan I-Tsing. “Ini merupakan hasil terpenting dari pembuktian matematis cum astronomis terkait pengamatan dan catatan I-Tsing,” ungkapnya. “Pembuktian ini sekaligus mengeliminasi Muara Takus maupun Palembang sebagai calon lokasi kediaman I-Tsing.”

Namun demikian, Hudaya menambahkan bahwa pengamatannya masih belum sempurna. Dia juga masih berencana untuk membandingkan pengamatan serupa di Bukit Siguntang, sebuah situs lain yang diduga menjadi pusat keagaamaan pada masa Sriwijaya awal di Palembang. “Saya sendiri belum sempat merampungkan tulisan lengkap mengenai topik ini,” ungkapnya.     

Jika Hudaya mencari lokasi I-Tsing bermukim dengan menentukan situs arkeologis kemudian baru mencocokkannya dengan tinggi dan posisi matahari dalam catatan pendeta itu, Eadhiey Laksito Hapsoro melakukan hal sebaliknya.


Suatu malam di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat. Saya menemui Eadhiey, seorang astro-arkeolog,  yang pernah melakukan penghitungan astronomis berdasarkan tinggi dan posisi matahari untuk mencari tempat tinggal I-Tsing. Penelitian tersebut pernah dipaparkan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 1989. Dia berpedoman pada sepuluh hari pertengahan bulan kedelapan kalender Cina dan posisi deklinasi matahari pada 671 sampai dengan 695.

Eadhiey mendapat dua simpulan. Pertama, lewat pendekatan titik balik matahari (solstice), lokasi I-Tsing diduga di sekitar Upang Sungsang di utara Palembang. Kedua, jika menggunakan metode pendekatan musim (posisi matahari terhadap khatulistiwa), Eadhiey memperoleh lokasi di sekitar Kuala Tungkal, kota kecil di muara Sungai Pangabuan, Jambi.

Sunday, October 23, 2022

Sebuah Kisah dari Homo Erectus, Nenek Moyang Manusia yang Misterius


Jika Anda bertemu Homo erectus di jalan, Anda mungkin melihatnya sebagai sesuatu yang tidak terlalu berbeda dari Anda sendiri. Anda akan masih melihat seorang “manusia” dalam cara berdiri, ukuran tubuh dan bentuknya mungkin serupa dengan Anda.

Tapi wajah mereka akan lebih rata, dengan alis yang lebih menonjol. Dan berbincang dengan mereka akan terasa sulit—kemampuan bahasa mereka buruk (meski mereka bisa membuat alat dari batu atau menyalakan api).

Tentu saja ini sepenuhnya adalah hipotesis, karena Homo erectus sekarang telah punah. Nenek moyang manusia yang penuh teka-teki ini mungkin berevolusi di Afrika lebih dari 2 juta tahun yang lalu, meski kapan waktu pasti mereka punah tidak jelas.

Homo erectus banyak muncul di pemberitaan pada 2018 berkat penemuan di Filipina dan Cina, yang telah mengubah pemahaman kita tentang anggota keluarga kita yang tidak jauh ini.

Jadi siapakah sebenarnya Homo erectus? Dan dapatkah 2019 menjadi tahun kita mempelajari lebih jauh mengenai nenek moyang kita yang misterius?


Di mana dan kapan mereka hidup?

Homo erectus pertama kali ditemukan di Pulau Jawa, Indonesia dan kemudian di Cina–keduanya adalah fosil “Manusia Jawa” dan “Manusia Peking” yang cukup terkenal. Penemuan Eugène Dubois pada 1891 di Jawa (yang awalnya bernama Pithecanthropus erectus) adalah satu bukti penting dalam mendukung gagasan evolusi manusia Darwin.

Penemuan artefak batu baru-baru ini di Dataran Tinggi Loess Cina menunjukkan bahwa seorang hominini, yang mungkin Homo erectus, hidup di wilayah tersebut pada 2,1 juta tahun lalu. Hal ini membuktikan kembali kehadiran mereka di Asia setidaknya 400.000 tahun lalu.

Situs kuno Homo erectus kuno lainnya juga terdapat di wilayah Kaukasus di Georgia (1,8 juta tahun lalu), di Jawa dan juga di Afrika.

Diperkirakan sebagian besar Homo erectus telah punah setelah munculnya manusia modern—tapi beberapa penemuan dari Jawa memiliki penanggalan usia (dengan beberapa kontroversi) sampai pada 40.000 tahun lalu. Jika penanggalan ini benar, hal tersebut menunjukkan bahwa mereka hidup berdampingan dengan Homo sapiens, meski mungkin hanya di daerah yang sangat terbatas di Indonesia.

Penjelajahan yang dilakukan Homo erectus ke seluruh dunia adalah pertama kalinya untuk spesies hominini pergi keluar benua Afrika, dan ini terjadi 2 juta tahun sebelum manusia modern akhirnya meniru penjelajahan besar ini. Mereka mungkin terdorong untuk menyebar begitu cepat karena perluasan padang rumput dalam rentang periode tersebut, yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini menciptakan lebih banyak habitat bagi hewan pemakan tumbuhan dan karenanya meningkatkan jumlah mangsa yang tersedia.

Seperti apa rupa mereka?

Homo erectus adalah nenek moyang pertama kita yang secara fisik menyerupai manusia modern. Mereka lebih tinggi dan otak mereka lebih besar dari spesies hominini sebelumnya seperti Australopithecus sp. atau Homo habilis.

Mereka memiliki wajah yang sedikit berbeda dengan kita: wajah mereka datar dengan alis yang lebih menonjol.

Kaki panjang yang mereka miliki dan fakta bahwa mereka berdiri tegak membuat setiap individu Homo erectus sebagai pejalan kaki yang efisien dan dapat menjelajah lebih jauh dibanding nenek moyang mereka

Bentuk tubuh mereka juga memperlihatkan bahwa tubuh mereka dapat mengontrol suhu dan keseimbangan air dalam tubuh dengan baik sehingga cocok untuk hidup di hutan terbuka.

Apa yang mereka makan?
Homo erectus mungkin adalah spesies pengumpul makanan yang juga menambah asupan mereka dengan hasil buruan dibandingkan sepenuhnya menjadi pemburu. Bahkan, mereka mungkin menempati posisi ekologi yang mirip dengan hyena hari ini.

Pentingnya daging dalam makanan mereka masih diperdebatkan, beberapa peneliti mempertimbangkan bahwa utamanya mereka adalah pemakan daging dan yang lain percaya bahwa mereka memiliki banyak jenis makanan lainnya.

Seberapa pintar mereka?
Homo erectus jauh lebih pintar daripada hominini-hominini sebelumnya. Mereka spesies pertama yang menggunakan api dan mungkin yang pertama mengumpulkan makanan sekaligus berburu sebagai cara hidup. Mereka membuat peralatan kapak dari batu dari zaman budaya yang disebut Acheulean, hal ini dicirikan dari kapak genggamnya.

Meski demikian, kemampuan kognitif mereka jauh di bawah manusia modern. Belum ada bukti bahwa Homo erectus mampu melakukan perilaku modern seperti menggunakan bahasa atau menciptakan seni.

Pentingnya penemuan arkeologis baru-baru ini berkaitan dengan Homo erectus di Filipina membantu kita mempelajari lebih dalam tentang kemampuan spesies ini.

Sebelumnya, telah diterima secara luas bahwa Homo erectus tidak dapat menyeberang perairan yang dalam. Teori ini sesuai dengan keberadaan mereka yang hanya hingga ke Jawa, dan tidak dapat melintasi perairan yang lebih dalam yang dibatasi oleh Garis Wallace dalam perjalanan yang lebih jauh ke timur.

Sebuah penemuan di Filipina (dan mungkin juga di Sulawesi) membantah pemahaman tersebut, dan membuka kemungkinan yang menarik bahwa Homo erectus mungkin adalah pelaut yang lebih pandai dari yang kita pikirkan sebelumnya.

Bagaimana mereka berkaitan dengan kita?
Salah satu aspek yang paling kontroversial dari Homo erectus adalah siapa dari penemuan tersebut yang tergolong termasuk spesies mereka. Sementara banyak peneliti memasukkan berbagai hasil penemuan dari seluruh dunia sebagai Homo erectus, beberapa mengklasifikasikan hasil penemuan di Afrika dan Eurasia sebagai Homo ergaster. Sementara yang lain menggunakan istilah Homo erectus senso stricto (yakni dalam arti sempit) untuk hasil penemuan Asia dan Homo erectus senso lato (yakni dalam arti luas) untuk semua hasil penemuan.

Situasi yang agak membingungkan ini sebenarnya jauh lebih jelas daripada sejarah awal Homo erectus di mana terdapat berbagai spesies di antaranya Anthropopithecus, Homo leakeyi, Pithecanthropus, Sinanthropus, Meganthropus, Meganthropus, dan Telanthropus. Alasan mengapa hal ini cukup rumit adalah bahwa Homo erectus (atau bagaimana pun Anda ingin menyebutnya) memiliki karakteristik morfologi yang relatif luas sehingga sulit untuk memutuskan seberapa banyak keanekaragaman yang harus dimasukkan dalam ciri-ciri spesies.

Yang jelas adalah bahwa Homo erectus berada di suatu tempat di garis keturunan manusia antara nenek moyang terdahulu dan manusia modern, berfungsi sebagai transisi dari hominini awal seperti Australopithecus ke Homo heidelbergensis, Homo neanderthalensis dan Homo sapiens.

Apa selanjutnya bagi Homo erectus?
Tidak ada fenomena arkeologi yang telah memberikan perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir selain bagaimana kita memahami garis keturunan kita. Spesies baru yang telah ditemukan (dan diperdebatkan) dan juga usia dari hasil penemuan paling awal dari berbagai spesies masih terus direvisi. Sayangnya kita memiliki fosil yang terbatas untuk diteliti sehingga hasil penemuan dan situs baru yang ditemukan dapat dengan cepat mengubah pemahaman kita tentang evolusi manusia.

Tidak diragukan lagi bahwa penelitian DNA purba akan berkontribusi untuk memecah ketidapastian ini–tapi sampel DNA masih belum diambil dari Homo erectus. Kami terus menunggu penemuan ini dengan napas yang tertahan!

Saturday, October 22, 2022

Miliaran Bintang di Luar Angkasa Berubah Menjadi Bola Kristal Raksasa


Para astronom mengungkapkan, miliaran bintang di luar angkasa sedang berubah menjadi bola kristal raksasa karena intinya yang cair perlahan berubah menjadi padat.

Perubahan ini berhasil diamati pada ribuan katai putih––sisa-sisa bintang yang telah kehabisan bahan bakar nuklir yang membuat mereka terbakar.

Para astronom sebenarnya sudah memprediksikan hal tersebut sebelumnya, yakni ketika katai putih mulai mendingin. Hanya saja, mereka tidak pernah memiliki bukti pengamatan langsung.

Kini, sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Nature akhirnya memberikan bukti yang cukup kuat setelah para ilmuwan berhasil mengumpulkan data dari 15 ribu bintang dengan jarak 300 tahun cahaya. Data tersebut berasal dari satelit Gaia milik European Space Agency (ESA).

Mereka menemukan bahwa terjadi pendinginan secara bertahap pada bintang-bintang. Fenomena ini berkaitan dengan pelepasan panas besar-besaran yang menandakan transisi dari cair ke padat.

Proses yang mengubah oksigen cair dan karbon di inti bintang menjadi kristal padat ini, diibaratkan seperti transisi air menjadi es. Bedanya, itu dilakukan dengan suhu yang sangat tinggi, juga membutuhkan tekanan ekstrem untuk mengemas atom-atom di dalamnya.

Saat inti katai putih mendingin hingga sekitar 10 juta derajat celsius, karbon dan oksigen cair akan mulai mengeras.

Dr Pier-Emmanuel Tremblay, astronom dari University of Warwick, mengatakan, pelepasan energi panas kemungkinan merupakan hasil dari kristalisasi oksigen yang pertama––masuk ke dalam intinya dan mendorong karbon ke atas.

Proses berubahnya bintang menjadi bola kristal ini juga menunjukkan bahwa beberapa objek luar angkasa tersebut berusia miliaran lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.

"Semua katai putih akan mengalami kristalisasi dalam evolusinya. Dengan melihat yang terjadi saat ini, kemungkinan jutaan bintang di galaksi kita berusia dua miliar tahun lebih tua. Beberapa katai putih juga sepertinya sudah menyelesaikan proses evolusi dan berubah menjadi bola kristal di luar angkasa," papar Tremblay.

Para astronom mengatakan, Matahari kita juga akan mengalami proses yang sama. Perlahan-lahan akan memadat dan berubah menjadi bola kristal sekitar sepuluh miliar tahun mendatang.

Mars Memiliki Danau Purba yang Mirip Dengan Danau di Sulawesi Selatan


Timothy A. Goudge, seorang ahli dari University of Texas menemukan bahwa endapan danau purba di Mars memiliki kemiripan dengan sedimen danau Towuti di Sulawesi Selatan. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam sebuah artikel di Buletin GSA pada tahun 2017.

Menurut Goudge, Danau Towuti berada di dalam ofiolit yang terdiri dari batuan yang kaya akan zat besi dan magnesium (mafik). Hal tersebut lebih mirip dengan permukaan Mars daripada sebagian besar permukaan daratan di Bumi, yang umumnya lebih felsik atau lebih kaya akan silikon, aluminium, natrium, dll.

Goudge dan tim merincikan mineralogi tanah liat dari Danau Towuti, Indonesia untuk menemukan hal tersebut. Penelitian lebih lanjut ini pun menggunakan teknik yang disebut dengan spektroskopi inframerah jarak dekat (VNIR).

Hasil spektral danau Towuti menunjukkan adanya variasi yang berbeda dalam mineral tanah liat selama 40.000 tahun terakhir. Teknik tersebut juga merekam respons dari sistem danau terhadap perubahan iklim, termasuk perubahan tingkat permukaan danau, progresi delta buatan, dan irisan sungai.

Menurut Goudge, hal tersebut menunjukkan bahwa spektroskopi VNIR bisa digunakan dalam mengembangkan catatan mengenai lingkungan selama puluhan ribu tahun lamanya.

Yang menarik dari penelitian tersebut adalah Goudge dan tim juga menemukan bahwa deposit danau purba di Mars kemungkinan menyimpan informasi paleoenvironmental mirip seperti yang dapat diakses melalui studi penginderaan jauh stratigrafi dan spektroskopi VNIR.

Lebih lanjut Goudge mengatakan bahwa hubungan komposisi antara danau Towuti dengan danau di planet Mars tidak sempurna. Maka dari itu, Goudge lebih menekankan pada penggunaan teknik VNIR.

Goudge menambahkan bahwa mereka bisa membedakan berbagai material dengan warna, seperti karat dengan merah karena terdapat besi di dalamnya. Sehingga, spektroskopi VNIR memungkinkan manusia untuk memastikan mineral yang berada di dalam sampel sedimen danau.

Teknik tersebut memang relatif baru untuk dipraktikkan terhadap endapan danau di Bumi. Meski begitu, teknik ini dapat beroperasi dari jarak yang jauh hanya dengan menggunakan sinar matahari yang dipantulkan. Maka dari itu, teknik tersebut bisa digunakan untuk mempelajari mineralogi dan komposisi permukaan pada badan planet lain, termasuk Mars.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa seseorang dapat menggunakan spektroskopi VNIR untuk memahami evolusi iklim masa lalu yang dicatat oleh sedimen danau. Oleh karena itu, kami mengusulkan untuk menerapkan pendekatan yang sama dalam mempelajari endapan danau purba di Mars dengan resolusi tinggi, yang akan membantu mengungkap sejarah iklim Mars kuno," ucap Goudge.

 

Astronaut di Luar Angkasa Tangkap Cahaya Oranye di Atas Lapisan Bumi


Langit di atas Bumi tidak pernah benar-benar gelap. Bahkan, pada malam hari, cahaya lembut memancar dari tepi atmosfernya. Namun, sinar tersebut sangat sulit untuk kita lihat dari Bumi.  

Beruntung, para astronaut berhasil menangkap efek spektakuler itu dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Gambar yang berhasil mereka ambil menunjukkan bagaimana lengkung planet kita terbungkus oleh gelembung cahaya berwarna oranye yang dikenal sebagai airglow. Foto itu diambil pada bulan lalu, ketika ISS melewati Australia.  

Airglow muncul ketika nitrogen dan oksigen di atmosfer berinteraksi dengan radiasi ultraviolet dari matahari. Reaksi tersebut membangkitkan atom di atmosfer—menyebabkan mereka saling menghantam dan akhirnya memancarkan cahaya berwarna-warni.

Dari luar angkasa, airglow membuat Bumi seolah-olah diselimuti dengan cahaya berwarna lembut. Terkadang berwarna hijau, atau oranye seperti saat ini.

Sementara itu, jika dilihat dari Bumi, reaksi yang muncul seperti sinar aurora, meskipun secara fundamental berbeda dan dapat dilihat di seluruh dunia. Efeknya akan mengitari langit layaknya pelangi.

Menurut para astronauit, airglow sangat menakjubkan untuk dilihat. Ia pun menarik perhatian para ilmuwan karena lokasinya tepat di perbatasan Bumi dengan luar angkasa. Apabila dapat menelitinya lebih jauh, ilmuwan mungkin dapat mengetahui bagaimana antariksa bisa terhubung dengan cuaca di planet kita.

Tuesday, October 18, 2022

Mengenal V1, Bom Terbang Peninggalan Nazi yang Ditemukan di Inggris

 Para arkeolog telah menemukan sisa-sisa ledakan ‘bom terbang’ Jerman, V1, yang jatuh di hutan Inggris pada 1944 saat ia menuju targetnya di London.

Penggalian tersebut mengungkap beberapa bagian logam utama V1, pendahulu dari rudal jelajah yang ada saat ini. V1 merupakan satu dari ribuan ‘senjata balas dendam’ atau ‘Vergeltungswaffen’ yang diluncurkan Nazi Jerman di bulan-bulan terakhir Perang Dunia II.

Colin Welch, pemimpin studi mengatakan, ada sekitar 10 ribu bom terbang yang ditembakkan Jerman menuju Inggris antara 1944 hingga 1945.

V1 yang digali di Packing Wood tersebut adalah beberapa bom yang tidak sampai ke tujuan—ia jatuh sebelum mencapai London. Pilot pesawat tempur pada masa itu sudah mahir menjatuhkan bom-bom terbang dan menghancurkannya.

Meski begitu, tetap ada bom yang berhasil mencapai targetnya dan kemudian menewaskan 6000 orang di Inggris dalam beberapa bulan. V1 juga menyebabkan kerusakan parah dan sering memicu kebakaran bangunan.

Senjata balas dendam Nazi

Menurut keterangan Imperial War Museum di London, bom terbang V1 memiliki rentang sayap lebih dari lima meter dan membawa hulu ledak tinggi dengan berat sekitar 1.700 lbs. V1 biasanya diluncurkan dari lereng dan memiliki kecepatan hingga 400 mph berkat mesin pulse-jetnya.

Welch mengatakan, kebisingan V1 sangat menakuti penduduk Inggris. Terutama jika suara itu terputus begitu saja di suatu tempat—menandakan bahwa bom terbang telah sampai ke sasarannya.

“Suaranya sangat khas, rendah namun terburu-buru layaknya mesin jet. Anda juga bisa mendengar suara ledakkan saat ia berakhir di tempat tujuannya,” papar Welch.


Setiap V1 memiliki sistem panduan yang didukung oleh udara terkompresi sehingga dapat melakukan perjalanan hingga 240 kilometer—cukup jauh untuk menyasar targetnya di Inggris.


Adolf Hitler mengatakan, V1 diluncurkan sebagai respons terhadap serangan bom sekutu yang menghancurkan kota-kota di Jerman seperti Hamburg pada 1943.

Namun, pilot pesawat tempur dari pihak sekutu belajar untuk melawan V1, beberapa bulan setelah bom itu digunakan pertama kali. Penelitian Welch menunjukkan bahwa V1 yang berhasil ditemukan di Packing Wood, ditembak jatuh pada 6 Agustus 1944, oleh pilot Polandia Jozef Donocik.


Bagi Welch, tantangan terbesar dari penggalian V1 adalah melestarikan kembali bagian logam yang tersisa dari ledakan. Sebagian besar baja yang digunakan dalam konstruksi mereka, telah terkikis tanah dan asam, meski aluminiumnya masih ada.

Kini, Welch berharap dapat menciptakan ‘museum daring’ untuk hasil penggaliannya tersebut. Meliputi model 3D dari artefak bom terbang serta informasi mengenai senjata mematikan V1.

“V1 merupakan bagian dari sejarah dan itu harus didokumentasikan dengan cara yang bertanggung jawab,” pungkasnya.